Tanya Salaf
Konsep · ID

Iman

Iman — الإيمان

1. Definisi

Para salaf dan Ibnu Taimiyah mendefinisikan iman sebagai:

قول + عمل + اعتقاد — يزيد وينقص

Perkataan, perbuatan, dan keyakinan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan dosa.

Perkataan mencakup ucapan lisan, seperti dua syahadat dan seluruh ibadah lisan, serta perkataan hati berupa pembenaran dan pengakuan. Perbuatan mencakup amal hati, seperti cinta, takut, harap, tawakal, ikhlas, dan inabah, serta amal anggota badan, seperti salat, zakat, haji, jihad, dan seluruh ibadah lahir. Keyakinan adalah keteguhan hati yang menjadi dasar dua bagian lainnya.

Sahl bin Abdullah At-Tustari merumuskannya sebagai “perkataan, perbuatan, niat, dan mengikuti Sunnah” (Majmu& 5:241–260). Ibnu Taimiyah menjadikan QS Al-Baqarah 2:177 sebagai dalil bahwa iman mencakup iman, harta, salat, zakat, janji, dan kesabaran, bukan ucapan atau keyakinan saja. Jika disebut tanpa batasan, iman mutlak mencakup kebaikan, takwa, dan agama.

2. Iman dan Islam

Jika disebut sendiri-sendiri, iman dan Islam sama-sama mencakup agama secara keseluruhan. Jika disebut bersama, Islam menunjuk sisi lahir dan lima rukun, sedangkan iman menunjuk keyakinan batin dan enam rukun iman. Kaidah penyebutan bersama ini menjelaskan perbedaan beberapa ayat dan hadis.

Hadis Jibril menyebut tiga tingkat agama: | Tingkat | Makna | Ranah | |---|---|---| | Islam | Ketundukan lahir | Lima rukun | | Iman | Keyakinan batin dan amal | Enam rukun iman | | Ihsan | Kesempurnaan ibadah | Beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya |

Ihsan lebih sempurna daripada iman, dan iman lebih sempurna daripada Islam. Setiap muhsin adalah mukmin dan setiap mukmin adalah muslim, tetapi sebaliknya tidak selalu demikian.

3. Iman dan amal

Menurut Ibnu Taimiyah, iman pasti melahirkan ketaatan. Al-Qur'an berulang kali menggabungkan iman dengan amal saleh. Penolakannya terhadap Murji'ah mencakup beberapa dalil: janji surga selalu dikaitkan dengan amal saleh, pembatal iman banyak berupa perbuatan, membenci kufur dan maksiat adalah amal hati, dan hadis menyebut iman memiliki lebih dari 70 cabang yang semuanya merupakan amal.

Orang fasik dan munafik tidak disebut sebagai mukmin mutlak dalam Al-Qur'an. Nama yang diberi batasan itu menunjukkan kekurangan iman mereka (Majmu& 5:181–200).

4. Iman bertambah dan berkurang

Ini adalah posisi salaf yang dicatat Imam Al-Bukhari dan ditegaskan Imam Ahmad. Iman bertambah dengan mendengar dan membaca Al-Qur'an, melihat tanda-tanda Allah, bergaul dengan orang saleh, berzikir, salat, dan taat. Iman berkurang dengan dosa, meninggalkan zikir dan ibadah, serta berteman dengan orang rusak.

Hadis tentang iman yang keluar seperti naungan ketika seorang hamba berzina menjelaskan berkurangnya iman, bukan kemurtadan. Kehormatan nama “mukmin mutlak” berkurang selama dosa berlangsung dan kembali dengan tobat yang tulus. Cabang iman juga bertingkat. Mengubah kemungkaran dengan tangan adalah tingkat paling kuat, dengan lisan lebih rendah, dan dengan hati adalah tingkat terendah yang masih tersisa.

5. Kesalahan Murji'ah

Murji'ah mengeluarkan amal dari hakikat iman. Ibnu Taimiyah membedakan tiga kelompok:

Catatan manhaj dalam sumber menyebut bahwa Ibnu Taimiyah menilai Abu Al-Hasan Al-Asy'ari mengambil posisi Jahmiyah dalam definisi iman, berlawanan dengan Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah terdahulu. Catatan ini adalah perbedaan yang dinisbatkan kepada sumber, bukan takfir umum terhadap setiap orang yang mengidentifikasi diri sebagai Asy'ari.

6. Kesalahan Khawarij

Khawarij bergerak ke arah sebaliknya dengan menjadikan setiap dosa besar sebagai kufur akbar dan mengeluarkan pelakunya dari iman. Imam Ali رضي الله عنه membantah Haruriyah dengan Al-Qur'an dan hujah.

Kesepakatan salaf menempatkan mukmin yang fasik sebagai mukmin karena imannya dan fasik karena dosa besarnya. Ia tidak mukmin mutlak seperti yang diklaim Murji'ah, tetapi juga bukan kafir seperti yang diklaim Khawarij. Kesalahan Khawarij mencakup pemahaman mutlak atas QS Al-Ma'idah 5:44 dan menganggap kekurangan satu cabang iman sebagai keluarnya seluruh iman.

7. Empat mazhab tentang iman

| Mazhab | Posisi tentang iman | Amal termasuk definisi? | |---|---|---| | Hanbali | Perkataan, amal, keyakinan; bertambah dan berkurang | Ya | | Maliki | Pembenaran, pengakuan, dan amal; bertambah dan berkurang | Ya | | Syafi'i | Perkataan dan amal; bertambah dan berkurang | Ya | | Hanafi | Pembenaran hati dan pengakuan lisan; amal bukan hakikat iman | Tidak, hanya syarat kesempurnaan |

Keempat mazhab sepakat bahwa kewajiban syariat wajib dilaksanakan. Perbedaan terletak pada apakah amal merupakan hakikat iman atau konsekuensi wajibnya. Sumber menandai posisi Hanafi ini sebagai perbedaan definisi teologis, bukan penyamaan ahli fikih Hanafi dengan Jahmiyah.

8. Iradah kauniyah dan syar'iyah

Dalam pembahasan Kitab Iman Jilid 6, Ibnu Taimiyah membedakan:

Lam pada liya'budun dalam QS Adz-Dzariyat 51:56 menunjukkan tujuan syariat, bukan kehendak kauniyah. Jika itu kehendak kauniyah, semua makhluk pasti beribadah. Empat kemungkinan hubungan keduanya adalah amal saleh yang terjadi, amal baik yang belum dilakukan, perbuatan mubah atau maksiat yang terjadi, serta perbuatan yang belum terjadi. Dua kesalahan yang dibahas adalah Qadariyah yang menyangkal kehendak kauniyah dan kelompok yang memakai qadar untuk membenarkan dosa.

Hadis utama

Terkait

Ibnu Taimiyah · Tauhid Uluhiyah · Asma Wa Sifat · Aqidah Wasithiyyah · Qadar · Tafsir Bil Ma& · Fathul Baari · Majmu&

Pertanyaan Terbuka

Data sumber

jenis
konsep
Arab
الإيمان
disiplin
aqidah
kategori
masalah akidah
tag
konsep, aqidah