Tanya Salaf
Konsep · ID

Asma Wa Sifat

Asma Wa Sifat

Asma wa Sifat berarti nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dalam kerangka tauhid, pembahasan ini menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan apa yang ditetapkan Rasulullah ﷺ melalui hadis yang sahih. Penetapan dilakukan tanpa tahrif, ta'til, takyif, dan tamtsil.

Asma wa Sifat merupakan salah satu bagian dari tauhid bersama Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Kaidah yang menjadi dasar pembahasan adalah firman Allah: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS Asy-Syura [42]: 11)

Metode Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah membuka Risalah Tadmuriyah dengan membedakan kalam khabari, yaitu berita tentang sifat Allah, dan kalam thalabi, yaitu perintah, larangan, dan izin. Dalam sifat Allah, metode Salaf menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan serta meniadakan apa yang Allah tiadakan, tanpa menambah penetapan dari akal yang tidak memiliki dasar wahyu.

Nabi dan para rasul menjelaskan sifat Allah secara terperinci dan meniadakan kekurangan secara umum. Penafian yang disebutkan wahyu selalu mengandung penetapan kesempurnaan. Penafian tidur menunjukkan kesempurnaan hidup dan pengaturan Allah, penafian kelelahan menunjukkan kesempurnaan kekuasaan, dan penafian sesuatu yang luput dari ilmu Allah menunjukkan keluasan ilmu-Nya.

Wahyu menjadi ukuran untuk menetapkan atau meniadakan nama dan sifat. Sekadar mengatakan “berbeda dari makhluk” tidak cukup untuk menetapkan suatu sifat yang tidak disebutkan wahyu. Sifat yang ditetapkan wahyu diterima sesuai maknanya, sedangkan cara dan hakikatnya diserahkan kepada ilmu Allah.

Kelompok dan kesalahan dalam sifat

Majmu' Fatawa Jilid 2 membahas Jahmiyah, Mu'tazilah, Qaramithah, Bathiniyah, dan para filsuf. Kesalahan bersama yang dibahas adalah anggapan bahwa menetapkan sifat pasti menyerupakan Allah dengan makhluk, sehingga mereka memilih meniadakan sifat.

Jahmiyah meniadakan nama dan sifat secara luas. Mu'tazilah menetapkan nama tetapi meniadakan sifat yang terkandung di dalamnya. Qaramithah dan Bathiniyah meniadakan penetapan serta penafian, lalu menafsirkan ajaran agama dengan makna batin yang tidak berdasar. Para filsuf menggambarkan Allah hanya dengan penafian dan konsep wujud mutlak.

Posisi yang dijelaskan Ibnu Taimiyah adalah menetapkan sifat tanpa menyerupakan dan menyucikan Allah tanpa mengosongkan-Nya dari sifat. Kesamaan nama antara Allah dan makhluk tidak berarti kesamaan hakikat. Nama “hidup”, “mengetahui”, “mendengar”, dan “melihat” digunakan untuk Allah dan makhluk, tetapi kesempurnaan dan hakikatnya berbeda.

Lima belas pasangan nama dan sifat

Pembahasan sumber menyebut pasangan nama dan sifat yang digunakan Allah serta makhluk dengan perbedaan hakikat: Al-Hayy dan hidup, Al-Alim dan mengetahui, As-Sami' Al-Bashir dan mendengar serta melihat, Ar-Rahman Ar-Rahim dan kasih sayang, Al-Malik dan raja, Al-Mu'min, Al-Aziz, Al-Jabbar, ilmu dan kekuatan, iradah, masyi'ah, cinta, ridha, benci, serta makar dan tipu daya yang dibalas secara adil.

Sifat perbuatan yang dibahas juga mencakup perbuatan, panggilan, kalam, pemberitaan, pengajaran, marah, dan istiwa di atas Arsy. Seluruhnya dinisbatkan kepada pembahasan sumber dan dibaca tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.

Dua dasar dan qiyas al-awla

Ibnu Taimiyah mengajukan dua dasar untuk membantah orang yang menetapkan sebagian sifat lalu menolak sebagian lainnya. Pertama, alasan yang digunakan untuk menetapkan kehendak tidak dapat menjadi alasan menolak cinta, marah, ridha, dan sifat lain tanpa pembeda yang benar. Kedua, kesempurnaan yang dapat diketahui melalui akal pada makhluk lebih layak ditetapkan bagi Allah dengan cara yang sesuai keagungan-Nya.

Qiyas al-awla berarti Allah lebih berhak atas setiap kesempurnaan dan lebih suci dari setiap kekurangan. Qiyas ini berbeda dari menyerupakan Allah dengan makhluk atau menyamakan dua hal yang memiliki hakikat sama.

Ruh dan ta'wil

Ruh adalah makhluk yang nyata dan memiliki sifat, seperti bergerak, mengetahui, merasakan, naik, dan turun, meskipun manusia tidak mengetahui hakikat caranya. Contoh ruh digunakan untuk menjelaskan bahwa menetapkan keberadaan sifat tidak mengharuskan seseorang mengetahui kaifiyatnya.

Ta'wil dibedakan menjadi dua. Ta'wil terpuji adalah tafsir yang menjelaskan maksud suatu lafaz berdasarkan dalil. Ta'wil tercela adalah memalingkan lafaz dari makna yang tampak tanpa dalil yang sah. Pembagian ini harus dibaca bersama penggunaan istilah ta'wil dalam Al-Quran dan penjelasan ulama.

Dalil akal dan wahyu

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa wahyu dan akal yang sehat dapat menunjukkan keberadaan, keesaan, kekuasaan, dan ilmu Allah. Al-Quran sendiri menggunakan dalil akal. Ia mengkritik ahli kalam yang mendahulukan metode rasional tertentu lalu menolak dalil wahyu ketika dianggap tidak sesuai dengan teori mereka.

Hidup, ilmu, kekuasaan, kehendak, pendengaran, penglihatan, dan kalam adalah sifat kesempurnaan. Jika sifat kesempurnaan itu terdapat pada makhluk, Sang Pencipta lebih berhak memilikinya. Ayat tentang Ibrahim yang mencela penyembahan kepada sesuatu yang tidak mendengar, melihat, atau memberi manfaat menjadi salah satu dalil yang dibahas.

Majmu' Fatawa Jilid 3

Jilid 3 memuat Kitab Akidah Salaf dan Kitab Asma wa Sifat. Bagian akidah membahas barzakh, azab kubur, kebangkitan jasmani, syafaat, keutamaan para sahabat, urutan empat khalifah, fitnah, Khawarij, pembunuhan Husain, hukum Yazid, dan bid'ah pada hari Asyura.

Bagian Asma wa Sifat melanjutkan pembahasan uluww dan istiwa, ma'iyyah dan qurb, nuzul, datangnya Allah, dua tangan, wajah, dua mata, kalam, sifat fi'liyah, tafwidh makna, serta tafsir Surah Al-A'la. Riwayat dan penilaian hadis dipertahankan sesuai catatan sumber.

Majmu' Fatawa Jilid 4

Jilid 4 membahas naiknya ruh, uluww, kedekatan Allah, ma'iyyah, hulul, ittihad, taqarrub, sifat ikhtiyariyah, ta'wil, tajsim, kelompok-kelompok teologis, nama dan musamma, kalam Allah, sifat dua tangan, An-Nur, Asmaul Husna, ru'yatullah, liqa Allah, mahabbatullah, iman, Arsy, Kursi, dan struktur langit.

Dalam pembahasan ru'yatullah, sumber menetapkan bahwa orang beriman akan melihat Allah di akhirat. Pembahasan juga mencatat perbedaan pandangan tentang ru'yah Nabi ﷺ, ru'yah di Mahsyar, ru'yah bagi wanita, dan klaim melihat Allah di dunia.

Majmu' Fatawa Jilid 10

Jilid 10 memperluas pembahasan kalam Allah melalui peristiwa mihnah, bantahan terhadap pendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk, perbedaan huruf, suara, dan bacaan, serta kritik terhadap pendapat Kullabiyah dan Asy'ariyah yang membatasi kalam pada makna batin.

Sumber menegaskan bahwa Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan. Pembahasan tentang suara pembaca, tinta mushaf, huruf, makna, dan bacaan harus dibaca dengan membedakan kalam Allah dari perbuatan manusia ketika membaca.

Hadis yang dicatat

Materi sumber mencatat hadis tentang Surah Al-Ikhlas, ruh, Allah menggenggam bumi dan melipat langit, hadis qudsi tentang memberi makan dan menjenguk, hati hamba di antara dua jari Ar-Rahman, pencatatan qadar, lima rukun Islam, dan hadis tentang sifat-sifat Allah.

Hadis tentang Hajar Aswad sebagai tangan kanan Allah di bumi diberi penilaian dhaif dalam sumber dan tidak digunakan sebagai dasar akidah. Nomor hadis, perawi, kitab, serta penilaian hadis dipertahankan sesuai catatan penelitian.

Terkait

Pertanyaan terbuka

  1. Sebagian teks Arab utama dari Risalah Tadmuriyah dan Kitab Asma wa Sifat masih perlu ditranskripsikan secara lengkap.
  2. Syarah dan kajian tambahan dari ulama setelah Ibnu Taimiyah belum seluruhnya tersedia dalam koleksi.
  3. Beberapa penilaian hadis dan jalur riwayat masih perlu diverifikasi pada naskah sumber.
  4. Pembahasan perbedaan metodologi antara kelompok teologis dapat dikembangkan menjadi halaman perbandingan tersendiri.

Catatan penelitian

Data sumber

jenis
konsep
Arab
الأسماء والصفات
disiplin
aqidah
kategori
masalah akidah
tag
konsep, aqidah