Tanya Salaf
Konsep · ID

Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah

Pengertian

Tauhid uluhiyah (توحيد الألوهية), disebut juga tauhid ibadah, adalah mengesakan Allah dalam seluruh ibadah. Allah satu-satunya ilah yang disembah dengan cinta, pengagungan, ketundukan, doa, takut, harap, tawakal, dan ketaatan.

Inilah tauhid yang menjadi tujuan pengutusan seluruh nabi dan tema utama Al-Qur'an. Keselamatan di dunia dan akhirat bergantung pada ibadah kepada Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ.

Tujuan kenabian dan makna ibadah

Allah berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56)

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ibadah adalah segala hal yang Allah wajibkan atau sunahkan. Penambahan dalam ibadah tanpa tuntunan adalah bidah dan tertolak. Mengikuti Rasulullah ﷺ termasuk ibadah kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam QS An-Nisa ayat 80, QS An-Nisa ayat 64–65, QS An-Nisa ayat 13–14, QS Ali Imran ayat 31, dan ayat-ayat lain.

Dua hadis pembuka kitab menegaskan kewajiban berpegang pada Sunnah Rasulullah ﷺ dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk, serta menjelaskan bahwa perkara baru dalam agama adalah kesesatan. Sunnah harus diterima melalui riwayat dan transmisi ilmu, bukan melalui akal yang berdiri sendiri.

Kebutuhan kepada wahyu dan Sunnah

Kebutuhan manusia kepada petunjuk kenabian lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman. Tanpa makanan, manusia mati di dunia. Tanpa wahyu dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, manusia menghadapi azab.

Al-Qur'an terjaga lafaznya melalui transmisi mutawatir. Maknanya dapat diselewengkan melalui takwil dan perubahan makna. Allah menjaga agama dengan menghadirkan ulama yang membawa sanad dan ilmu. Sunnah termasuk hikmah yang disebut bersama Al-Kitab dalam Al-Qur'an.

Perintah menyampaikan ilmu berlaku dalam batas ilmu yang benar. Riwayat, sanad, dan penilaian hadis harus diperhatikan sebelum suatu perkataan dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ.

Kaidah jamaah dan perpecahan

Allah memerintahkan seluruh umat para nabi untuk menegakkan agama dan tidak berpecah-belah. Kesatuan jamaah dibangun di atas tauhid, sedangkan perpecahan yang tercela lahir dari kedengkian setelah ilmu datang. Perbedaan ijtihad yang dibenarkan tidak sama dengan perpecahan karena hawa nafsu dan kedengkian.

Ada dua penyucian yang harus dijaga:

Mengurus salah satunya sambil meninggalkan yang lain menghasilkan penyimpangan. Agama juga memiliki tiga hak yang harus dijaga: mengikhlaskan amal kepada Allah, menasihati penguasa dalam kebaikan, dan tetap bersama jamaah kaum Muslimin. Ketiganya bertemu pada tauhid, nasihat, dan ketaatan kepada Allah.

Hadis “Agama adalah nasihat” mencakup nasihat bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan masyarakat umum.

Mengapa ibadah hanya untuk Allah

Setiap makhluk membutuhkan empat hal: sesuatu yang dicintai dan diinginkan, sesuatu yang dibenci dan ditakuti, sebab untuk memperoleh yang diinginkan, dan sebab untuk menghindari yang dibenci. Allah satu-satunya yang memenuhi seluruh kebutuhan ini.

Surah Al-Fatihah ayat 5 menyatukan uluhiyah dan rububiyah: “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah” berkaitan dengan tujuan dan kecintaan, sedangkan “hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” berkaitan dengan sebab, pertolongan, dan pengaturan Allah.

Kaum musyrik mengakui rububiyah Allah, tetapi tidak mengesakan-Nya dalam ibadah. Pengakuan rububiyah mereka justru menjadi hujah yang membantah mereka. Tauhid rububiyah saja tidak cukup tanpa tauhid uluhiyah.

Hak Allah atas hamba adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Hamba yang memenuhi hak ini mendapatkan janji Allah untuk tidak mengazabnya.

Ibadah adalah kebutuhan jiwa

Ibadah, cinta, dan penghambaan kepada Allah adalah kehidupan dan kesehatan hati. Ibadah bukan beban yang menghalangi kebahagiaan, melainkan tujuan penciptaan manusia. Hati tidak akan tenang dengan selain Allah. Kenikmatan dunia tanpa Allah cepat berubah dan akhirnya merugikan.

Kenikmatan terbesar penduduk surga adalah melihat Allah. Terhalang dari melihat Allah adalah azab terbesar. Kerinduan kepada Allah, doa, dan ibadah harus diarahkan kepada-Nya, bukan kepada makhluk.

Sembilan alasan untuk tidak bergantung kepada selain Allah adalah: hanya Allah yang memenuhi seluruh kebutuhan; makhluk diciptakan untuk beribadah kepada-Nya; penyembahan kepada selain Allah membawa kerugian; kecintaan kepada selain Allah dapat berubah menjadi hukuman; ketergantungan kepada makhluk merendahkan; Allah memberi tanpa membutuhkan balasan; makhluk juga membutuhkan pertolongan; makhluk tidak menghilangkan mudarat tanpa izin Allah; dan makhluk tidak memberi di luar ketetapan Allah.

Rezeki dan pertolongan sering diberikan melalui orang-orang lemah karena doa, salat, dan keikhlasan mereka. Karena itu, takut dan berharap kepada Allah harus menjadi sikap dasar ketika berhubungan dengan manusia.

Empat keadaan ibadah dan isti'anah

Setiap hamba memiliki dua sisi: apa yang ia sembah dan cintai, serta kepada siapa ia meminta pertolongan dan bergantung. Dari sini muncul empat keadaan:

  1. Menyembah selain Allah dan meminta pertolongan kepada selain Allah: kesyirikan yang sempurna.
  2. Menyembah Allah tetapi bergantung kepada selain Allah: kesyirikan parsial.
  3. Meminta pertolongan kepada Allah tetapi tujuan ibadahnya diarahkan kepada selain Allah: kesyirikan parsial.
  4. Menyembah hanya kepada Allah dan meminta pertolongan hanya kepada Allah: tauhid yang sempurna.

Syirik dapat masuk secara tersembunyi melalui cinta kepada harta, kedudukan, pujian, dan ketundukan kepada manusia. Tawakal kepada Pencipta harus menjadi dasar. Allah memberi karena rahmat dan kehendak-Nya, sedangkan makhluk memberi dengan kebutuhan dan kepentingannya sendiri.

Semakin seorang hamba tunduk kepada Allah, semakin mulia ia. Ketundukan kepada makhluk dengan cara yang menghinakan membuatnya menjadi tawanan makhluk tersebut. Kebutuhan hamba kepada Allah mencakup rububiyah, yaitu penciptaan dan pengaturan, serta uluhiyah, yaitu ibadah, doa, tobat, dan hubungan hati dengan Allah.

Makna “hamba Allah”

Sebutan hamba Allah memiliki dua penggunaan. Pertama, sebagai kehormatan bagi orang-orang yang beribadah, termasuk para nabi dan orang beriman. Kedua, sebagai ketundukan seluruh makhluk kepada kekuasaan dan qadar Allah.

Tasbih, sujud, dan ketundukan makhluk bukan sekadar berarti makhluk itu dikuasai hukum alam. Mayoritas ulama menetapkan bahwa setiap makhluk memiliki bentuk ketundukan yang sesuai dengan keadaannya.

Tauhid dalam hubungan dengan manusia

Berharaplah kepada Allah ketika berhubungan dengan manusia. Jangan menggantungkan ibadah kepada pujian atau celaan manusia. Berbuat baiklah karena mengharap pahala Allah. Tinggalkan kezaliman karena takut kepada Allah, bukan semata-mata karena takut kepada manusia.

Seseorang yang mencari keridaan manusia dengan kemurkaan Allah menunjukkan kelemahan keyakinan terhadap janji Allah. Allah yang memuliakan dan merendahkan. Tidak ada manusia yang dapat memberi rezeki, menghilangkan bahaya, atau memberi ampunan tanpa izin Allah.

Takut kepada Allah melindungi seorang hamba dari ketakutan kepada manusia. Dosa, tawakal, istighfar, dan pertolongan Allah harus dipahami dalam satu rangkaian. Orang yang bertakwa diberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Tafsir tentang orang-orang rabbani menekankan peran ilmu, pengajaran, dan keteguhan bersama agama. Orang beriman tidak boleh melemah dalam membela agama Allah. Perjuangan para sahabat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ tetap termasuk perjuangan untuk agama yang beliau bawa.

Tingkatan kesyirikan

Kitab ini membedakan syirik ilahiyah, syirik rububiyah, dan syirik tersembunyi. Syirik ilahiyah mengarahkan ibadah kepada selain Allah. Syirik rububiyah menisbatkan penciptaan, pengaturan, atau kekuasaan yang khusus bagi Allah kepada makhluk. Syirik tersembunyi masuk melalui ketergantungan hati, riya, dan pengagungan yang melampaui batas.

Hati digerakkan menuju Allah oleh cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus diarahkan kepada Allah dan berjalan bersama. Cinta tanpa takut dapat menjadi rasa aman palsu. Takut tanpa harap dapat menjadi keputusasaan. Harap tanpa cinta dan ketaatan dapat menjadi angan-angan.

Nabi Ibrahim adalah khalilullah karena kesempurnaan tauhid, cinta, dan keberlepasannya dari kesyirikan. Kesyirikan dalam umat dapat muncul melalui pengagungan manusia, penerimaan hadiah yang mengikat hati, dan meminta sesuatu yang hanya Allah mampu memberikannya.

Istighatsah dan meminta pertolongan

Meminta doa kepada orang hidup yang hadir dan mampu mendoakan adalah perkara yang berbeda dari istighatsah kepada orang mati atau orang yang tidak hadir. Meminta makhluk melakukan perkara yang berada dalam kemampuan mereka diperbolehkan. Meminta perkara yang hanya Allah mampu lakukan wajib diarahkan kepada Allah.

Memanggil orang yang telah mati atau tidak hadir dengan kalimat “tolong aku”, “selamatkan aku”, atau “lindungi aku” adalah syirik. Meminta orang mati agar berdoa kepada Allah adalah bidah yang tidak dilakukan para salaf. Sujud kepada kubur, menjadikan kubur sebagai kiblat, dan menyamakan ziarah kubur dengan haji adalah bentuk kesyirikan yang lebih berat.

Syafaat seluruhnya milik Allah. Nabi Muhammad ﷺ memberi syafaat dengan izin Allah, dan seorang Muslim harus meminta kepada Allah agar Dia memberikan syafaat Nabi-Nya. Syafaat tidak menjadikan makhluk sebagai sumber mandiri yang menentukan keselamatan.

Tawassul yang benar dan yang dilarang

Tawassul memiliki bentuk yang disyariatkan dan bentuk yang dilarang. Tawassul yang benar mencakup meminta kepada Allah dengan nama dan sifat-Nya, dengan iman dan amal saleh, serta meminta doa dari orang saleh yang hidup dan hadir. Tawassul melalui doa orang hidup berbeda dari meminta langsung kepada orang mati.

Kisah Umar bin Khaththab yang meminta Al-Abbas bin Abdul Muththalib berdoa saat kekeringan menunjukkan praktik para sahabat. Nabi Adam berdoa langsung kepada Allah. Para nabi dan rasul berdoa kepada Allah, bukan kepada kubur atau makhluk.

Tawassul melalui zat makhluk dalam doa, menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, meminta doa dari orang mati, dan meyakini bahwa wali memiliki kekuasaan mandiri adalah bentuk yang tidak disyariatkan. Perbedaan ini harus dijelaskan dengan ilmu dan tetap memperhatikan kaidah takfir serta rincian keadaan pelakunya.

Kubur dan syafaat

Ziarah kubur memiliki dua tujuan yang benar: mengingat akhirat dan mendoakan orang yang telah meninggal. Salam kepada penghuni kubur disyariatkan. Doa ditujukan kepada Allah untuk diri sendiri dan untuk penghuni kubur, bukan ditujukan kepada orang yang telah meninggal.

Menghadap kiblat ketika berdoa untuk diri sendiri. Kubur Nabi Muhammad ﷺ tidak dijadikan arah salat atau tempat meminta kebutuhan. Menjadikan kubur sebagai masjid, shalat menghadapnya, atau melakukan sujud kepadanya dilarang oleh hadis-hadis sahih.

Syafaat Nabi Muhammad ﷺ adalah karunia Allah. Orang yang dipanggil dalam doa juga sedang mencari jalan mendekat kepada Allah. Kaum musyrik tidak mendapatkan syafaat karena mereka tidak memenuhi dasar tauhid. Abu Thalib menjadi contoh bahwa hubungan keluarga dan pembelaan kepada Nabi tidak menggantikan tauhid.

Syafaat tidak sama dengan perintah. Ketaatan kepada ulil amri berlaku dalam perkara yang baik dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.

Asal kesyirikan: pengagungan kubur

Kesyirikan pertama pada keturunan Adam muncul melalui pengagungan berlebihan terhadap kubur dan gambar orang saleh. Setan kemudian menipu manusia dengan mengambil bentuk orang yang dipanggil, sehingga manusia mengira telah mendapatkan karamah.

Asal patung dapat berkaitan dengan orang saleh, benda langit, jin, malaikat, atau nabi. Pada akhirnya, yang menerima ibadah manusia adalah setan yang menipu mereka. Hadis tentang sepuluh abad antara Adam dan Nuh menunjukkan bahwa manusia pada awalnya berada di atas Islam sebelum kesyirikan masuk.

Riwayat yang memerintahkan meminta kepada orang yang telah meninggal ketika menghadapi kesulitan dinilai batil dan tidak bersumber dari hadis yang dapat dijadikan pegangan.

Tiga tingkat praktik doa yang terlarang

  1. Memanggil orang mati atau orang yang tidak hadir untuk meminta pertolongan, keselamatan, perlindungan, atau penjagaan. Ini adalah syirik.
  2. Meminta orang mati atau orang yang tidak hadir agar berdoa kepada Allah. Ini adalah bidah yang mengantarkan kepada syirik dan tidak dilakukan para salaf.
  3. Sujud kepada kubur, shalat menghadap kubur sebagai kiblat, atau menganggap ziarah makam lebih utama atau setara dengan haji. Ini adalah syirik yang lebih berat.

Salam kepada orang yang telah meninggal disyariatkan. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa ketika memasuki pemakaman, yang berisi salam, permohonan keselamatan kepada Allah, dan permohonan ampun untuk penghuni kubur. Salam tidak berarti meminta pertolongan atau syafaat kepada orang yang meninggal.

Tata cara doa

Cara doa yang disyariatkan adalah memuji Allah, bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, lalu memohon kebutuhan kepada Allah. Tawassul dengan shalawat adalah ibadah yang disyariatkan. Meminta kepada selain Allah dalam keadaan apa pun adalah kesyirikan.

Berdoa antara azan dan iqamah, ketika sujud, dan pada waktu-waktu yang ditunjukkan Sunnah termasuk sebab terkabulnya doa. Semua doa tetap ditujukan kepada Allah. Meminta perlindungan hanya kepada Allah, dengan nama dan sifat-Nya. Meminta perlindungan kepada jin dan memakai azimat yang tidak diketahui isinya dilarang.

Sumpah dan isti'adzah

Sumpah hanya dilakukan dengan nama Allah. Bersumpah dengan selain Allah dilarang dan dapat menjadi kesyirikan. Perlindungan hanya diminta kepada Allah, termasuk perlindungan dengan nama dan kalam-Nya. Ruqyah diperbolehkan selama tidak mengandung syirik.

Dua syarat ibadah

Setiap ibadah harus memenuhi dua syarat: ikhlas hanya untuk Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Amal yang ikhlas tetapi tidak sesuai Sunnah tertolak. Amal yang sesuai Sunnah tetapi dilakukan untuk selain Allah juga tertolak.

Kisah Umar bin Khaththab ketika mencium Hajar Aswad menunjukkan bahwa ibadah mengikuti perintah, bukan sekadar pertimbangan akal. Menjadikan kubur sebagai masjid menggabungkan dua kerusakan: ibadah yang diarahkan kepada selain Allah dan ibadah kepada Allah melalui bidah.

Debat dengan pendeta Nasrani

Ibnu Taimiyah menceritakan perdebatan dengan pendeta Nasrani yang menyamakan tawassul kepada orang saleh dengan praktik mereka kepada Maryam dan Al-Masih. Jawabannya menegaskan bahwa agama Ibrahim adalah beribadah hanya kepada Allah, tanpa sekutu, pasangan, anak, nabi, bintang, atau orang saleh.

Hujan, tumbuhnya tanaman, hilangnya kesulitan, petunjuk dari kesesatan, dan ampunan dosa adalah perkara yang hanya Allah kuasai. Makhluk tidak memiliki kekuasaan mandiri atas perkara-perkara tersebut.

Sujud, membungkuk, dan berdiri untuk penghormatan

Mencium tanah, membungkuk, dan sujud kepada syekh, raja, atau pembesar dilarang. Sujud hanya untuk Allah. Berdiri untuk menyambut orang yang datang dibolehkan. Berdiri agar orang lain mengagungkan seseorang, atau membungkuk sebagai salam, dilarang.

Sujud saudara-saudara Nabi Yusuf kepada beliau terjadi dalam syariat terdahulu dan bukan tuntunan syariat Islam. Kebiasaan setempat tidak boleh mengubah hukum, kecuali berdiri sesaat untuk menghindari mudarat yang lebih besar ketika seseorang belum mengetahui Sunnahnya.

Menisbatkan “abd” kepada selain Allah

Nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah tidak diperbolehkan. Nama seperti Abdul Ka'bah, Abdusysyams, Abdul Latta, dan Abdul Uzza diubah menjadi nama yang mengandung penghambaan kepada Allah, seperti Abdullah dan Abdurrahman.

Nama yang baik adalah nama yang menisbatkan penghambaan kepada Allah dan nama-nama-Nya, seperti Abdul Ghani, Abdussalam, Abdul Qahir, Abdullathif, Abdul Hakim, Abdul Aziz, Abdurrahim, Abdul Muhsin, Abdul Ahad, Abdul Wahid, Abdul Qadir, Abdul Karim, Abdul Malik, dan Abdul Haq.

Kutipan sumber yang dipertahankan

"Hak Allah atas hamba-hamba-Nya: mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun; hak hamba-hamba atas Allah bila mereka melakukan itu: Dia tidak akan mengadzab mereka." (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dari Mu'adz bin Jabal, diringkas — teks lengkap di Majmu&)

Hadits qudsi: "Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya yang terdahulu dan yang kemudian, jin dan manusia kalian semua berada pada hati yang paling durhaka, itu tidak mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun; dan seandainya semua meminta kepada-Ku lalu Aku beri masing-masing permintaannya, itu pun tidak mengurangi apa yang ada di sisi-Ku sedikit pun." (HR. Muslim, diringkas — teks lengkap di Majmu&)

Hadits qudsi: "Wahai hamba-hamba-Ku, hanya ada empat perkara: satu untuk-Ku (ibadah tanpa syirik), satu untukmu (pahala saat paling membutuhkan), satu antara Aku dan kamu (darimu do'a, dari-Ku ijabah), dan satu antara kamu dan makhluk-Ku (berilah mereka apa yang kamu sukai bila diberikan kepadamu)." (HR. Ath-Thabrani — isnad dha'if, Shalih Al-Marri dha'if per Haitsami dalam Al-Majma' 1:56, diringkas — teks lengkap di Majmu&)

Hubungan dan sumber

Tauhid Rububiyah · Aqidah · Ibnu Taimiyah · Majmu' Fatawa · Tawassul · Istighatsah · Syafaat · Ziarah Kubur

Sumber utama halaman ini adalah Majmu' Fatawa, jilid 1, Kitab Tauhid Uluhiyah, halaman 14–364, serta bagian lanjutan tentang tawassul dan syafaat sampai halaman 532. Materi disusun berdasarkan catatan sumber dan pembacaan isi kitab yang tersedia di Wiki Ulama.

Pertanyaan terbuka

Catatan penelitian

Halaman ini adalah ringkasan sumber, bukan terjemahan kata demi kata dari seluruh kitab. Penilaian terhadap tokoh, hadis, tawassul, syafaat, dan praktik kubur harus dibaca bersama teks Majmu' Fatawa, takhrij, dan rincian hukum yang menjadi sumbernya.

Data sumber

jenis
konsep
Arab
توحيد الألوهية
disiplin
aqidah
kategori
aqidah — tauhid
tag
konsep, aqidah, tauhid