Tanya Salaf
Konsep · ID

Tasawwuf

Tasawwuf (التصوف)

Apa itu

Tasawwuf adalah istilah luas untuk orientasi hati kepada Allah melalui zuhud, ibadah, dan penyucian jiwa. Ibnu Taimiyah dalam Majmu& Jilid 8 memperlakukannya sebagai fenomena campuran: sebagian terpuji, sebagian tercela, dan sebagian bentuk ekstremnya kufur. Istilah sufi dikaitkan dengan suf, yaitu wol, karena sebagian ahli zuhud pada abad kedua mengenakannya. Sumber menolak derivasi kata dari istilah lain yang tidak sesuai dengan bahasa Arab.

1. Kerangka Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah tidak menolak seluruh tasawwuf. Menurut sumber, gerakan awalnya tumbuh di Bashrah melalui ahli zuhud seperti Ahmad bin Atha' Al-Hajimi dan Abdul Wahid bin Zaid, murid Al-Hasan Al-Bashri. Mereka menekankan kefakiran kepada Allah, tobat, tawakal, dan ikhlas.

Praktik spiritual yang sahih adalah suluk berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, orientasi hati kepada Allah, mendahulukan kewajiban lalu memperbanyak amalan sunnah, memahami zuhud tanpa mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, serta menyucikan jiwa dengan ilmu dan amal. Ilmu tanpa amal melahirkan kefasikan, sedangkan suluk tanpa ilmu syar'i menyesatkan.

Penyimpangan muncul ketika generasi kemudian meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah, membuat bid'ah, mengajarkan ittihad atau hulul, dan mencampur tauhid rububiyah dengan tauhid uluhiyah. Menyaksikan bahwa Allah adalah Pencipta tanpa beribadah kepada-Nya tidak cukup untuk membedakan mukmin dan kafir.

2. Tiga makna fana'

Setiap pengalaman spiritual, mimpi, kasyaf, dan kejadian luar biasa harus diuji dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Ia dapat bersifat rahmani, nafsani, atau setani dan tidak dapat menjadi bukti dengan sendirinya.

3. Bid'ah dalam ibadah

Sumber menolak beberapa praktik yang dinisbatkan kepada tasawwuf:

4. Zuhud dan wara' yang sahih

Zuhud adalah tidak mencintai sesuatu yang tidak bermanfaat atau yang bahayanya lebih besar. Zuhud adalah keadaan hati, bukan penampilan miskin. Ia tidak berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Nabi ﷺ makan, berpakaian, menikah, berpuasa, dan berbuka sesuai keadaan.

Wara' adalah menahan diri dari sesuatu yang benar-benar membawa bahaya, terutama yang haram dan syubhat. Wara' terhadap sesuatu yang manfaatnya kuat, mubah, wajib, atau sunnah adalah kesalahan. Tazkiyatun nafs dilakukan melalui tauhid, iman, meninggalkan yang haram, melaksanakan perintah, dan tobat. Syirik menjadi pengotor jiwa terbesar, sedangkan tauhid menjadi penyuci terbesar.

5. Khalwat

Khalwat empat puluh hari yang dilakukan dalam tarekat dinilai bid'ah tanpa dasar Sunnah oleh sumber. Nabi ﷺ berkhalwat di Hira sebelum kenabian, tetapi tidak kembali ke Hira setelah wahyu. I'tikaf di masjid, khususnya sepuluh malam terakhir Ramadan, adalah bentuk seclusion yang disyariatkan dan berbeda dari khalwat tarekat.

Uzlah boleh dipuji ketika masyarakat rusak dan menjauh melindungi agama, selama kewajiban, hak keluarga, dan aturan syariat tetap dijaga. Sumber juga memperingatkan agar tidak mendekati sebab fitnah dengan alasan mengajar atau membantah.

6. Faqr

Dalam Al-Qur'an, Sunnah, dan perkataan generasi awal, faqir berarti orang yang kekurangan harta, bukan maqam spiritual. Makna spiritual itu muncul pada generasi kemudian melalui penggabungan faqr dan zuhud. Sumber menolak menjadikan kemiskinan sebagai penanda utama jalan spiritual.

Yang paling utama adalah yang paling bertakwa. Jika tingkat takwa sama, orang miskin dapat masuk surga lebih dahulu karena tidak memiliki hisab harta, tetapi urutan masuk tidak otomatis menentukan tingkatan. Ukurannya tetap amal yang dicintai Allah dan menjauhi apa yang Allah benci.

7. Penilaian terhadap tokoh

Dinilai positif: Al-Junaid Al-Baghdadi, Sahl bin Abdullah At-Tustari, Ibrahim bin Adham, Al-Fudhail bin Iyadh, Abdul Qadir Al-Jailani, dan Abu Sulaiman Ad-Darani. Sumber menekankan bahwa Al-Junaid membatasi suluk dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Dinilai campuran: Abu Thalib Al-Makki, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Al-Ghazali. Sumber mengakui manfaat pembahasan hati, tobat, ikhlas, dan muhasabah, tetapi meminta pembaca menilai bagian kalam, filsafat, atau pengalaman metafisik dengan standar salaf.

Dinilai negatif pada aspek tertentu: Ibnu Arabi, Al-Baliyani, At-Tilmisani, Al-Qaununi, Abu Yazid Al-Bustami, Asy-Syibli, Ahmad Ar-Rifa'i, dan Ibnu Hud. Pada sebagian tokoh, sumber membedakan antara ucapan ekstatis yang tidak disengaja dan doktrin yang sengaja dipertahankan.

Hadis dan dasar

Terkait

Suluk · Iman · Tauhid Uluhiyah · Ibnu Taimiyah · Majmu& · Naqd Al-Mantiq · Qadar

Pertanyaan Terbuka

Data sumber

jenis
konsep
Arab
التصوف
disiplin
aqidah, fikih
kategori
masalah akidah
tag
konsep, aqidah