Tanya Salaf
Konsep · ID

Manhaj Salaf dalam Sifat-Sifat Allah

Manhaj Salaf dalam Sifat-Sifat Allah — Ithbat bila Tashbih, Tanzih bila Ta'thil

Sumber: Majmu& Vol.27 — Ibnu Taimiyah merumuskan metodologi Salaf dalam sifat Allah: menetapkan (ithbat) semua sifat yang ditetapkan Allah dan Nabi-Nya, memahami makna zhahirnya sesuai keagungan Allah, tanpa takyif, tashbih, atau ta'thil.


Formula Inti

Tetapkan (ithbat) semua sifat yang Allah dan Nabi-Nya tetapkan, pahami maknanya yang layak bagi keagungan Allah (sesuai zhahir teks), tanpa bertanya tentang caranya (takyif), tanpa menyerupakan dengan makhluk (tashbih/tamthil), dan tanpa mengingkari (ta'thil).

Ini adalah formula yang sama yang terungkap dalam Asma Wa Sifat dari Vols 2-4, dengan penekanan dari Vol.27 pada:


Makna "Zhahir" Menurut Salaf: Kunci Penting

Ibnu Taimiyah menyampaikan pembedaan kritis:

| Zhahir yang dimaksud Salaf | Zhahir yang ditolak Salaf | |---|---| | Makna yang layak dan sesuai keagungan Allah sebagaimana tampak dari teks | Makna harfiah yang kasar yang mengimplikasikan keserupaan dengan makhluk |

Contoh: Istiwa' — zhahirnya dalam konteks Allah berarti "bersemayam/menetap di atas" dengan cara yang layak bagi-Nya, bukan seperti manusia yang duduk di kursi.

Al-Khaththabi (Syafi'i, diakui otoritasnya dalam hadith) dan Al-Khathib (Syafi'i, muhadits) mengkonfirmasi: **madhhab Salaf adalah memahami teks-teks sifat sesuai makna tekstualnya (zhahir) sambil menolak pembahasan tentang cara (kayf) dan penyerupaan (tashbih).**


Tiga Kutipan Kunci dari Vol.27

1. Al-Khaththabi:

Madhhab Salaf adalah memahami sifat-sifat ini berdasarkan makna tekstualnya, menolak setiap pembahasan tentang tashbih.

2. Al-Khathib al-Baghdadi:

Seluruh ulama Salaf sepakat: menetapkan (ithbat) sifat-sifat yang muncul dalam teks Quran dan Sunnah, memahaminya berdasarkan makna tekstual, dan menjauhkan dari-Nya makna tasybih.

3. Ibnu Taimiyah tentang 'istawaa':

Kata istawaa termasuk kategori kata yang memiliki makna relasional — bukan makna tunggal yang tetap. Maknanya bagi Allah adalah sesuai keagungan Allah, tidak sama dengan maknanya bagi makhluk.


Dua Kutub yang Sama-sama Ditolak

Jahmiyyah & Mu'tazilah: Mengingkari (ta'thil) — menganggap menetapkan sifat mengimplikasikan tashbih, maka sifat-sifat diingkari.

Mujassimah (Musyabbihah): Menyerupakan (tashbih) — menetapkan sifat Allah persis sama dengan makhluk.

Salaf: Menolak kedua kutub — ithbat tanpa tashbih, tanzih tanpa ta'thil. Inilah yang dienkode dalam QS Asy-Syura [42]: 11 yang dikutip Ibnu Taimiyah dari Vols sebelumnya.


Label Palsu yang Dikenakan Kepada Salaf

Ibnu Taimiyah mencatat bahwa berbagai kelompok menempelkan label palsu kepada Ahlussunnah:

Semua label ini palsu. Penolakan Salaf terhadap Jahmiyyah adalah masyhur dan mutawatir di setiap generasi dan wilayah.


Lihat Juga: Pembahasan Lebih Komprehensif

Volume 27 menambahkan konfirmasi dari Al-Khaththabi dan Al-Khathib kepada apa yang sudah dibahas panjang di Vols 2-4. Untuk pembahasan lengkap sifat demi sifat (istiwa', nuzul, yadayn, wajh, kalam), lihat Asma Wa Sifat.


Terkait

Pertanyaan Terbuka

  1. Apakah Al-Khaththabi dan Al-Khathib yang dikutip Ibnu Taimiyah adalah Ash'ari dalam masalah sifat — dan jika ya, bagaimana Ibnu Taimiyah menggunakannya sebagai saksi posisi Salaf?
  2. Apakah ada teks spesifik dari Vol.27 yang menambahkan sesuatu tentang metodologi sifat yang belum ada di Vols 2-4?

Data sumber

jenis
konsep
Arab
منهج السلف في صفات الله
disiplin
aqidah
kategori
masalah akidah
tag
konsep, aqidah, salaf, manhaj, sifat-allah