Istiwa Allah di atas Arsy
Istiwa Allah di atas Arsy — Diketahui Maknanya, Tidak Diketahui Caranya
Sumber: Majmu& Vol.27 — Ibnu Taimiyah menegaskan posisi Salaf tentang istiwa' Allah di atas Arsy: nyata, diakui maknanya, tidak diketahui caranya, dan haram mempertanyakan bagaimana caranya.
Dalil Quran
QS Thaahaa [20]: 5:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
"(Yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arsy."
Ayat ini dan variannya disebutkan tujuh kali dalam Quran — Ibnu Taimiyah menjadikan frekuensi ini sebagai bukti bahwa istiwa' adalah sifat yang penting untuk diimani.
Formula Imam Malik: Paradigma Salaf
Ketika ditanya tentang istiwa', Imam Malik رحمه الله menjawab:
"Istiwa' itu ma'lum (diketahui maknanya), kayf-nya majhul (tidak diketahui caranya), bertanya tentangnya adalah bid'ah, dan beriman kepadanya adalah wajib."
Ibnu Taimiyah menyebut ini sebagai formula definitif madhhab Salaf — berlaku sama untuk setiap sifat Allah, bukan hanya istiwa'.
Selain Malik, formula yang sama (atau setara) diriwayatkan dari:
- Rabi'ah bin Abi Abdurrahman (guru Imam Malik)
- Ahmad bin Hanbal
- Ibn Mubarak
- Al-Khaththabi
- Al-Khathib al-Baghdadi
- Ibn Khuzaimah
Dua Ujung yang Disalahkan Ibnu Taimiyah
1. Jahmiyyah — Mengingkari Istiwa'
Menyatakan "tidak ada Tuhan yang ada di atas Arsy" — ini adalah pengingkaran (ta'thil) yang Ibnu Taimiyah kecam tegas. Lihat Jahmiyyah.
2. Mujassimah — Menyerupakan dengan Makhluk
Menyatakan istiwa' Allah persis seperti makhluk yang duduk di atas singgasana (tashbih) — ini juga salah.
Posisi Salaf: Tengah
Istiwa' adalah nyata, sesuai keagungan Allah, tanpa takyif (tidak tanya caranya), tanpa tashbih (tidak diserupakan dengan makhluk), dan tanpa ta'thil (tidak diingkari).
Fitrah: Setiap Manusia Mengakui Allah di Atas
Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa keyakinan Allah di atas (bukan di bawah, bukan di segala arah tanpa spesifikasi) adalah fitrah yang tertanam pada setiap manusia dari setiap bangsa dan bahasa — Arab maupun non-Arab. Ini adalah argumen dari fitrah untuk memperkuat dalil naqli.
Dalil Hadith
HR Bukhari (1145) dan Muslim (758/168-172):
"Tuhan kita turun ke langit dunia setiap malam di sepertiga malam terakhir..."
Ibnu Taimiyah menggunakan hadith nuzul sebagai bukti tambahan: jika Allah "turun" (nuzul), maka sebelum turun Ia berada di atas — ini mengkonfirmasi istiwa' di atas Arsy.
Catatan Penting: Ini Bagian dari Pembahasan Lebih Panjang
Pembahasan istiwa' dan uluww dalam Majmu' Fatawa jauh lebih panjang dari yang ada di Vol.27 — lihat Asma Wa Sifat untuk dokumentasi lengkap dari Vols 2-4. Vol.27 menambahkan penekanan pada:
- Kutipan langsung dari Al-Khaththabi dan Al-Khathib (keduanya Syafi'i) yang mengkonfirmasi madhhab Salaf
- Fitrah sebagai argumen tambahan
- Analisis linguistik kata istawaa sebagai kata yang memiliki makna relasional (bukan makna tunggal tetap)
Terkait
- Asma Wa Sifat — dokumentasi komprehensif sifat uluww dan istiwa' dari Vols 2-4
- Manhaj Salaf dalam Sifat-Sifat Allah — metodologi: ithbat bila tashbih, tanzih bila ta'thil
- Jahmiyyah — kelompok yang mengingkari istiwa'
Pertanyaan Terbuka
- Bagaimana Ibnu Taimiyah menjelaskan kesesuaian antara istiwa' di atas Arsy dan hadith "Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya" (QS Qaaf 50:16)?
- Apakah analisis linguistik Ibnu Taimiyah tentang istawaa berbeda dari analisis para ahli bahasa Arab klasik?
Data sumber
- jenis
- konsep
- Arab
- استواء الله على العرش
- disiplin
- aqidah
- kategori
- masalah akidah
- tag
- konsep, aqidah, istiwa, arsy, salaf