Jahmiyyah
Jahmiyyah — Sekte Sesat yang Mengingkari Sifat-Sifat Allah
Sumber: Majmu& Vol.27 — Ibnu Taimiyah mendeskripsikan Jahmiyyah dalam dua fase historis dan mendokumentasikan penolakan masyhur Salaf terhadap mereka.
Asal-usul
Jahmiyyah adalah pengikut Jaham bin Safwan (w. 128 H), yang berpendapat bahwa menetapkan sifat-sifat Allah mengimplikasikan keserupaan dengan makhluk (tashbih), sehingga semua sifat harus diingkari.
Dua Fase Jahmiyyah
Ibnu Taimiyah membedakan dua gelombang:
Fase Pertama (Jahmiyyah Klasik)
Mengingkari semua sifat Allah yang bisa dianggap sebagai "aksiden" ('aradh) — termasuk ilmu, kemampuan, dan semua sifat yang menyerupai sifat makhluk. Posisi: Allah hanya memiliki eksistensi murni tanpa atribut.
Fase Kedua (Jahmiyyah Mutakhir)
Menerima sifat seperti ilmu ('ilm) dan kemampuan (qudrah), tapi tetap mengingkari sifat-sifat fisik-relasional: tangan (yad), wajah (wajh), dan istiwa'. Ini lebih dekat ke posisi Mu'tazilah.
Penolakan Salaf yang Masyhur
Ibnu Taimiyah mendokumentasikan penolakan eksplisit dan masyhur dari:
- Asy-Syafi'i
- Al-Humaidi (guru Imam Bukhari)
- Ahmad bin Hanbal — perjuangannya melawan Mu'tazilah-Jahmiyyah dalam Mihnah
- Ishaq bin Rahawaih
Terdokumentasi dalam: Ibnu Abi Hatim, Al-Lalika'i, dan kitab-kitab atsar lainnya.
Ibnu Taimiyah menegaskan: Penolakan terhadap Jahmiyyah adalah mutawatir di setiap generasi dan wilayah — bukan sekadar pendapat satu atau dua imam.
Label Palsu yang Dikenakan Jahmiyyah kepada Salaf
Jahmiyyah dan kelompok-kelompok sealiran menempelkan label Musyabbihah (penganalog) kepada Ahlussunnah yang menetapkan sifat-sifat Allah. Ibnu Taimiyah membantah: Ahlussunnah tidak menyerupakan Allah dengan makhluk — mereka menetapkan sifat sesuai keagungan Allah tanpa tashbih. Label itu palsu.
Posisi Salaf sebagai Respons terhadap Jahmiyyah
Untuk setiap tuduhan "tashbih" dari Jahmiyyah, Salaf menjawab dengan dua prinsip:
- Ithbat (penetapan): ya, Allah memiliki sifat X
- Tanzih (penyucian): namun sifat X bagi Allah tidak sama dengan sifat X bagi makhluk
Ini dirangkum dalam QS Asy-Syura [42]: 11 — "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Paruh pertama = tanzih; paruh kedua = ithbat.
Kaitan dengan Masalah Khalq al-Quran
Jahmiyyah berpendapat Quran adalah makhluk (makhluq). Imam Ahmad memimpin perlawanan terhadap posisi ini — yang menjadi salah satu kontroversi teologis terbesar dalam sejarah Islam (Mihnah, abad ke-3 H).
Ibnu Taimiyah dalam Vol.27 mengkonfirmasi: mengatakan "lafazh Quran adalah makhluk" adalah bid'ah Jahmiyyah, ditolak oleh Asy-Syafi'i, Al-Humaidi, Ahmad, dan Ishaq bin Rahawaih.
Terkait
- Asma Wa Sifat — pembahasan lengkap refutasi Jahmiyyah dari Vols 2-4
- Manhaj Salaf dalam Sifat-Sifat Allah — metodologi yang menjawab Jahmiyyah
- Al-Quran Kalam Allah - Huruf dan Makna — isu spesifik: Quran bukan makhluk
- Istiwa Allah di atas Arsy — sifat spesifik yang diingkari Jahmiyyah
Pertanyaan Terbuka
- Apakah ada ulama yang mempertimbangkan Mu'tazilah dan Jahmiyyah sebagai satu aliran, atau Ibnu Taimiyah memperlakukan mereka sebagai dua kelompok yang berbeda?
- Apakah pengaruh Jahmiyyah masih ada dalam teologi Islam abad ini — dalam bentuk apa?
Data sumber
- jenis
- konsep
- Arab
- الجهمية
- disiplin
- aqidah
- kategori
- masalah akidah
- tag
- konsep, aqidah, jahmiyyah, firqah