Tanya Salaf
Konsep · ID

Bukhl dan Celaan Terhadapnya

Kekikiran (Bukhl) dan Celaan Terhadapnya dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Sumber: Majmu& Vol.23, pp.564–570 — Ibnu Taimiyah menyusun pembahasan komprehensif tentang bukhl (kekikiran) sebagai sifat tercela yang dikecam secara universal, mencakup celaan Al-Qur'an, hadith Nabi ﷺ, dan pernyataan Sahabah. Bagian ini merupakan landasan moral bagi pemimpin Muslim untuk menghindari kekikiran dalam mengelola urusan publik.


Definisi

Bukhl (الْبُخْلُ) — menahan sesuatu yang seharusnya diberikan atau dibelanjakan, baik harta maupun yang lain, meskipun ada kewajiban atau kepatutan untuk memberikannya.

Ibnu Taimiyah membedakan tingkatan bukhl:

| Tingkatan | Keterangan | |---|---| | Kabair (dosa besar) | Menahan zakat wajib, menolak berinfak ketika infak itu wajib, menahan harta dari yang berhak secara syariat | | Di bawah kabair | Kikir dalam hal yang hanya mustahab (dianjurkan), pelit dalam perkara yang hanya adab |

Catatan manhaj: Pembedaan tingkatan bukhl ini adalah posisi Ibnu Taimiyah sendiri; ketika digunakan sebagai dasar hukum, harus dikaitkan dengan dalil yang Ibnu Taimiyah nukil, bukan dari inferensi mandiri. (Flagged; bukan fatwa.)


Kesepakatan Universal: Semua Manusia Mencela Bukhl

Ibnu Taimiyah memulai dengan observasi tentang fitrah universal: seluruh umat manusia, dari semua peradaban dan zaman, memuji keberanian dan kemurahan serta mencela kekikiran dan kepengecutan. Kesepakatan universal ini adalah bukti tentang status moral kedua sifat ini — bukan sekadar penilaian budaya tertentu.


Celaan Al-Qur'an terhadap Bukhl

QS Aali Imraan [3]: 180 — hukuman bagi yang kikir dalam zakat: "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat."

QS An-Nisaa' [4]: 36–37 — celaan bagi yang kikir dan menyuruh orang lain kikir: "...dan orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka..."

QS At-Taubah [9]: 76–77 — hukuman rohani bagi yang diberi karunia lalu bakhil: "Tetapi setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah."

Ibnu Taimiyah menonjolkan ini: bukhl yang terus-menerus terhadap karunia Allah dapat menghasilkan nifak dalam hati — ini bukan hanya dosa biasa.

QS Muhammad [47]: 38 — diingatkan agar tidak kikir terhadap diri sendiri: "Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (harta) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir..."

QS Al Maa'uun [107]: 4–7 — penolakan memberi pertolongan kecil dikaitkan dengan kedustaan agama.

QS At-Taubah [9]: 34–35 — ancaman tentang penimbunan emas dan perak: "...dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka..."


Hadith-Hadith tentang Celaan Bukhl

Hadith 1 — HR Al-Bukhari (Jihad, no. 2821) — Shahih:

وَاللَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ عِنْدِي عَدَدَ هَذِهِ الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ عَلَيْكُمْ، ثُمَّ لَا تَجِدُونِي بَخِيلًا وَلَا جَبَانًا وَلَا كَذُوبًا

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya aku memiliki hewan ternak sebanyak bilangan pohon-pohon beduri ini, niscaya aku bagikan kepada kalian. Kemudian kalian tidak akan mendapatiku sebagai orang yang kikir, tidak pula pengecut, dan tidak pula pendusta."

Nabi ﷺ menolak tiga karakter sekaligus: bakhil, pengecut, dan pendusta — tiga sifat yang ibarat tiga kaki meja ketidakpercayaan.

Hadith 2 — HR Abu Daud (Jihad, no. 2511); Ahmad (2/302) — dari Abu Hurairah:

شَرُّ مَا فِي الْمَرْءِ شُحٌّ هَالِعٌ، وَجُبْنٌ خَالِعٌ

"Seburuk-buruk apa yang ada di dalam diri seseorang adalah keserakahan yang menggelisahkan dan sifat pengecut yang keterlaluan."

Catatan manhaj: Grading hadith ini tidak disebutkan eksplisit dalam teks Ibnu Taimiyah; diriwayatkan Abu Daud dan Ahmad. Perlu konfirmasi derajat hadith. (Flagged; bukan fatwa.)

Hadith 3 — HR Muslim (Zakat, 1056/127) — Shahih — dari Salman bin Rabi'ah dari Umar:

إِنَّهُمْ خَيَّرُونِي بَيْنَ أَنْ يَسْأَلُونِي بِالْفُحْشِ وَبَيْنَ أَنْ يُخِلُّونِي، وَلَسْتُ بِبَخِيلٍ

"Sesungguhnya mereka memposisikanku dengan pilihan antara mereka meminta kepadaku dengan keji atau menganggapku kikir. Sedangkan aku bukanlah orang kikir."

Nabi ﷺ — dalam konteks pembagian ghanimah — menolak label bakhil meskipun tidak memberi kepada semua. Ini menunjukkan sensitivitas Nabi terhadap citra kekikiran bahkan dalam kondisi keterbatasan.


Pernyataan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ibnu Taimiyah mengutip Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه:

"Tidak ada penyakit yang lebih parah dari kekikiran."

Ini adalah penilaian Sahabah senior yang menegaskan bahwa bukhl bukan hanya dosa — ia adalah penyakit yang menggerogoti jiwa dan komunitas.


Pemimpin yang Kikir Bukan Pemimpin Sejati

Ibnu Taimiyah mengutip konteks percakapan tentang pemimpin Bani Salamah yang menunjukkan prinsip: "Sesungguhnya seorang pemimpin itu tidak boleh kikir." Pemimpin yang kikir kehilangan kepercayaan dan legitimasi moral rakyatnya, karena kepemimpinan sejati mensyaratkan kemurahan — baik dalam memberi, dalam memimpin, maupun dalam memperlakukan orang-orang di bawah tanggung jawabnya.


Terkait


Pertanyaan Terbuka

  1. Hadith "sharru ma fil mar'i shuhhun hali'" — perlu konfirmasi grading dari Abu Daud dan Ahmad; ada kemungkinan hadith ini hasan atau lebih rendah
  2. Kisah pemimpin Bani Salamah — Ibnu Taimiyah tampak mengutip dua versi yang berbeda (halaman 565–566); perlu identifikasi koleksi hadith untuk setiap versi
  3. Apakah Ibnu Taimiyah memiliki pembahasan tentang batas antara "irit" yang dibolehkan dan "bakhil" yang tercela — karena tidak semua penghematan adalah kekikiran?

Data sumber

jenis
konsep
Arab
البُخْل وذَمُّه في الكتاب والسُّنَّة
disiplin
fikih, aqidah
kategori
masalah akidah
tag
konsep, fikih, aqidah, bukhl, akhlaq