Ash-Shuh wal Hasad
Kikir (Shuh) dan Dengki (Hasad) sebagai Akar Keburukan Sosial
Sumber: Majmu& Vol.23, pp.546–549 — Ibn Taimiyah (Ibnu Taimiyah) mengidentifikasi ash-shuh (keserakahan jiwa yang mendalam) sebagai akar tunggal yang menghasilkan tiga kejahatan sosial sekaligus, dan hasad (dengki) sebagai karakter jiwa yang paling rendah. Bagian ini meletakkan landasan psikologis bagi pemahaman tentang kerusakan sosial.
Definisi
Ash-Shuh (الشُّحُّ) — keserakahan jiwa yang mendalam, lebih dari sekadar bakhil. Ia adalah kualitas batin (shifah nafsiyyah) yang secara bersamaan mendorong pelakunya kepada tiga kejahatan:
- Bakhil (الْبُخْلُ) — menahan harta sendiri dari yang berhak menerimanya
- Zulm (الظُّلْمُ) — merampas hak milik orang lain
- Qat' al-Rahim (قَطْعُ الرَّحِمِ) — memutuskan silaturahmi/hubungan kekeluargaan
Hasad (الْحَسَدُ) — dengki: menginginkan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang dari mereka, atau menginginkan kepemilikan eksklusif atas sesuatu sehingga orang lain tidak dapat memilikinya.
Ghibthah (الْغِبْطَةُ) — kagum terhadap nikmat orang lain dan ingin memiliki nikmat yang sama tanpa menginginkan hilangnya nikmat mereka. Ini dibolehkan, bahkan terpuji dalam hal-hal kebaikan.
Hadith: Ash-Shuh sebagai Akar Tiga Kejahatan
HR Abu Dawud (Zakat, no. 1698) — dari Abdullah bin Amr رضي الله عنهما:
إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، أَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالظُّلْمِ فَظَلَمُوا، وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا
"Waspadalah terhadap shuh, karena sesungguhnya ia telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian. Ia memerintahkan mereka untuk bakhil maka mereka pun bakhil; ia memerintahkan mereka untuk berbuat zalim maka mereka pun berbuat zalim; dan ia memerintahkan mereka untuk memutus silaturahmi maka mereka pun memutuskannya."
Perhatikan bahasa hadith ini: shuh memerintahkan (amara) pelakunya. Ini bukan hanya kecenderungan pasif — shuh memiliki daya yang aktif mengarahkan perilaku. Orang yang dikuasai shuh mengikuti perintah shuh seperti seseorang yang mengikuti perintah tuannya.
Perbedaan Shuh dengan Bakhil
Ibnu Taimiyah membedakan keduanya secara konseptual:
| | Bakhil | Shuh | |---|---|---| | Sifat | Perilaku (menahan pemberian) | Karakter jiwa (keserakahan mendalam) | | Lingkup | Hanya menahan harta sendiri | Menghasilkan bakhil + zulm + qat' rahim sekaligus | | Status | Dosa | Sumber dari beberapa dosa sekaligus |
Bakhil adalah salah satu ekspresi dari shuh; shuh adalah induknya.
Definisi Hasad dan Perbedaannya dengan Ghibthah
Hasad: Menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain, ATAU menginginkan kepemilikan eksklusif — sehingga orang lain tidak bisa memiliki hal yang sama. Ibnu Taimiyah menyebut ini asfall al-akhlaq (karakter yang paling rendah).
Ghibthah: Kagum melihat nikmat yang dimiliki orang lain dan ingin memiliki yang serupa, tanpa menginginkan hilangnya nikmat mereka. Ini boleh bahkan dianjurkan jika berkaitan dengan hal baik — misalnya kagum melihat ilmu seseorang dan ingin berilmu sepertinya.
Dalil: Para Ansar sebagai Teladan Anti-Shuh
QS Al Hasyr [59]: 9: "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)..."
Para Ansar tidak merasakan ghibthah berlebihan atas pembagian yang Allah berikan kepada Muhajirin — apalagi hasad. Ini adalah gambaran jiwa yang bersih dari shuh dan hasad.
Doa Abdurrahman bin Auf — Model Anti-Shuh
Ibnu Taimiyah mengutip narasi tentang Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه yang terlihat berulang kali berdoa sambil tawaf di Ka'bah:
رَبِّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي، رَبِّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي
"Ya Rabb, lindungilah aku dari shuh jiwaku. Ya Rabb, lindungilah aku dari shuh jiwaku."
(Ini adalah athar Sahabah — bukan hadith marfu' dari Nabi ﷺ)
Ibnu Taimiyah menjelaskan mengapa Abdurrahman bin Auf memilih doa ini: beliau memahami bahwa diselamatkan dari shuh berarti diselamatkan sekaligus dari bakhil, zulm, dan qat' al-rahim — tiga musibah dalam satu perlindungan. Doa ini adalah doa yang mencakup seluruh kerusakan yang dihasilkan shuh.
Shuh dan Hasad dalam Perkara Mubah vs. Haram
Ibnu Taimiyah menambahkan gradasi:
Dalam perkara mubah (boleh): Shuh dan hasad dalam hal yang boleh dimiliki siapapun — dosanya terletak pada eksklusivitas yang diinginkan dan kecemburuan itu sendiri.
Dalam perkara haram: Shuh dan hasad terhadap sesuatu yang haram menambah dosa berlapis — melanggar hak manusia sekaligus hak Allah.
Terkait
- Bukhl dan Celaan Terhadapnya — satu dari tiga akibat shuh, dibahas tersendiri
- Zulm — akibat kedua dari shuh
- Itsar — kebalikan dari shuh: mengutamakan orang lain atas diri sendiri
- Asbab al-Fitnah — shuh dan hasad berkontribusi pada fitnah sosial
- Taqsim Dosa ke dalam Tiga Jenis — zulm sebagai dosa terhadap orang lain
- Ash-Shuh wal Hasad dalam Konteks Siyasah — penerapan dalam kepemimpinan
Tambahan Vol.24: Shuhh sebagai Akar Korupsi Peradilan
Majmu& Vol.24 menambahkan dimensi siyasah yang penting dari pembahasan shuhh: Ibnu Taimiyah mendiskusikan shuhh dalam konteks pejabat dan hakim yang menerima suap (risywah) untuk menekan hudud.
Dalam pengertian ini, shuhh bukan hanya keserakahan terhadap harta — tetapi penolakan terhadap kebenaran dan penerimaan kebatilan yang merupakan makna asli etimologis kata. Ibnu Taimiyah menjelaskan: shuhh berasal dari penolakan untuk memberi hak kepada yang berhak, dan menerima yang tidak berhak.
Ibnu Taimiyah menambahkan: "Apabila shuhh memasuki sistem peradilan dan pemerintahan, kepercayaan (amanah) keluar melalui dinding-dindingnya" — dikaitkan dengan pola korupsi sistemik yang Ibnu Taimiyah saksikan di komunitas Arab dan Asia Tengah zamannya.
Lihat juga: Risywah untuk pembahasan lengkap suap dalam konteks siyasah.
QS Al-'Adiyaat [100]: 8:
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
"Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada kebaikan (harta)."
Pertanyaan Terbuka
- Apakah Ibnu Taimiyah memberikan pembahasan tentang cara menyembuhkan (ta'aluj) shuh dan hasad — karena ia menempatkannya sebagai penyakit jiwa?
- Bagaimana batas antara ghibthah yang terpuji dan hasad yang tercela dalam kasus konkret — terutama dalam persaingan ilmu atau posisi?
- Referensi Abdurrahman bin Auf yang berdoa dalam tawaf — di mana narasi ini tercantum dalam sumber hadith primer?
- Ibnu Taimiyah menyebut shuhh bermakna "menolak kebenaran dan menerima kebatilan" — bagaimana ia mendukung etimologi ini dari sumber bahasa Arab klasik?
Data sumber
- jenis
- konsep
- Arab
- الشُّحُّ وَالْحَسَدُ
- disiplin
- fikih, aqidah
- kategori
- masalah akidah
- tag
- konsep, aqidah, akhlaq, shuh, hasad