Surah Al-Hadid
Surah Al-Hadid
Surah ke-57, Madaniyah, dua puluh sembilan ayat. Surah ini menegaskan tasbih seluruh makhluk, nama-nama dan sifat Allah, kewajiban beriman dan berinfak, cahaya orang beriman, hakikat kehidupan dunia, qadar, serta rahmat bagi orang yang beriman.
Tafsir Ibnu Abbas
Sumber: terjemahan Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas. Tiga riwayat pada halaman ini telah dikoreksi dan diverifikasi sebagai [1269]–[1271].
QS 57:22 — Musibah telah tertulis
[1269] Tidak ada bencana yang menimpa bumi atau diri manusia, baik dalam urusan agama maupun dunia, melainkan telah tertulis di Lauh Mahfuzh sebelum Allah menciptakannya.
QS 57:23 — Sikap terhadap musibah dan nikmat
[1270] Larangan berduka secara berlebihan berkaitan dengan musibah dunia. Larangan terlalu gembira berkaitan dengan kesombongan dan kebanggaan terhadap nikmat yang diterima.
QS 57:28 — Dua bagian rahmat
[1271] Kifl berarti dua bagian. Ahli Kitab yang beriman kepada nabi mereka lalu beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ mendapat dua bagian rahmat: satu karena iman kepada nabi mereka dan satu lagi karena iman kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Tema utama
- Seluruh makhluk bertasbih kepada Allah.
- Allah adalah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin.
- Harta adalah amanah dan kaum mukmin diperintah beriman serta berinfak.
- Cahaya orang beriman dan keadaan orang munafik dibedakan pada Hari Kiamat.
- Kehidupan dunia adalah permainan, kelalaian, perhiasan, kebanggaan, dan persaingan harta serta keturunan.
- Musibah telah tertulis sebelum penciptaan; hati tidak boleh berlebihan dalam sedih maupun gembira.
- Orang yang beriman kepada nabi mereka dan kepada Nabi Muhammad ﷺ mendapat dua bagian rahmat.
Terkait
Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Ali bin Abu Thalhah | Tafsir | Lauh Mahfuzh | Qadar
Ringkasan Tafsir Jalalain
Jalalain menjelaskan bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana. Allah adalah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin. Dia mengetahui segala sesuatu, mengetahui apa yang masuk ke bumi dan keluar darinya, apa yang turun dari langit dan naik kepada-Nya.
Kaum mukmin diperintah beriman dan menafkahkan harta. Orang yang berinfak sebelum pembebasan Mekah memiliki keutamaan yang lebih tinggi. Pada Hari Kiamat, cahaya orang beriman bersinar di depan dan di sebelah kanan mereka, sedangkan orang munafik kehilangan cahaya dan dipisahkan dari kaum mukmin oleh dinding.
Kehidupan dunia hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, saling berbangga, dan berlomba dalam harta serta anak. Allah mengingatkan bahwa musibah telah tertulis di dalam kitab sebelum penciptaan. Orang yang beriman kepada nabi mereka lalu beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ mendapat dua bagian rahmat.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Tafsir Ibnu Katsir
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.
QS 57:1–6 — Tasbih dan nama-nama Allah
Semua makhluk bertasbih kepada Allah. Dia memiliki kerajaan langit dan bumi, menghidupkan dan mematikan, serta berkuasa atas segala sesuatu. Dia adalah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin. Allah menciptakan langit dan bumi, beristiwa di atas Arsy sesuai keagungan-Nya, dan mengetahui seluruh keadaan makhluk.
Allah memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam. Dia mengetahui segala yang tersembunyi dalam hati.
QS 57:7–11 — Iman dan infak
Allah memerintahkan iman yang sempurna dan infak dari harta yang pada hakikatnya merupakan titipan. Harta akan berpindah dari seseorang kepada ahli warisnya. Infak yang dilakukan dengan ikhlas termasuk pinjaman yang baik kepada Allah, dan Allah melipatgandakan balasannya.
Orang yang berinfak dan berjihad sebelum pembebasan Mekah memiliki derajat yang lebih tinggi karena keadaan kaum mukmin ketika itu lebih sulit. Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi contoh orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari keridaan Allah.
QS 57:12–15 — Cahaya orang beriman dan keadaan orang munafik
Pada Hari Kiamat, cahaya kaum mukmin bersinar di depan dan di sebelah kanan mereka sesuai amal mereka. Orang munafik meminta cahaya, tetapi setelah terpisah dari kaum mukmin mereka tidak memperoleh cahaya. Dinding memisahkan rahmat di sisi orang beriman dari azab di sisi orang munafik.
QS 57:16–19 — Kekhusyukan dan pahala
Allah menegur orang beriman yang belum khusyuk hatinya ketika mengingat Allah dan kebenaran yang turun. Hati tidak boleh mengeras seperti hati umat terdahulu yang terlalu lama berlalu setelah kitab datang kepada mereka.
Allah menghidupkan bumi setelah matinya dan demikian pula Dia dapat menghidupkan hati yang keras dengan petunjuk. Orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta berinfak mendapat pahala yang dilipatgandakan. Orang yang beriman termasuk golongan orang-orang yang benar, sedangkan orang yang mati syahid memiliki kedudukan khusus di sisi Allah.
QS 57:20 — Hakikat kehidupan dunia
Kehidupan dunia menyerupai tanaman yang tumbuh karena hujan lalu mengering dan hancur. Dunia berisi permainan, kelalaian, perhiasan, kebanggaan, dan persaingan harta serta keturunan. Kenikmatan dunia akan berakhir, sedangkan balasan di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.
QS 57:22–24 — Qadar dan sikap hati
Tidak ada musibah yang menimpa bumi atau diri manusia melainkan telah tertulis sebelum penciptaan. Pengetahuan tentang qadar menjaga manusia dari putus asa terhadap sesuatu yang luput dan dari kesombongan karena sesuatu yang diperoleh. Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri serta orang yang kikir dan memerintahkan manusia untuk kikir.
QS 57:25–29 — Keadilan, kitab, dan rahmat
Allah mengutus para rasul dengan bukti-bukti, kitab, dan timbangan agar manusia menegakkan keadilan. Besi memiliki kekuatan dan manfaat bagi manusia. Para rasul datang silih berganti, dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang beriman.
Orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mendapat cahaya dan ampunan. Ahli Kitab yang beriman kepada nabi mereka lalu beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ mendapat dua bagian rahmat.
Tafsir Ibnu Taimiyah
Pembahasan tentang nama dan sifat Allah pada Surah Al-Hadid perlu dibaca bersama karya Ibnu Taimiyah dan Majmu&. Nama Allah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin ditetapkan sesuai makna yang datang dalam wahyu, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. Pembahasan tentang istiwa juga dipahami dengan menetapkan sifat tersebut sesuai keagungan Allah, tanpa menanyakan caranya.
Pertanyaan terbuka
- Makna kifl sebagai dua bagian rahmat perlu dibandingkan dengan tafsir lain untuk menentukan apakah cakupannya khusus bagi Ahli Kitab atau juga umum bagi seluruh mukmin.
- Perbedaan penafsiran QS 57:4 antara Jalalain dan Ibnu Katsir perlu dibaca langsung dalam sumber masing-masing.
- Hubungan qadar, musibah, dan tanggung jawab manusia perlu dikaji bersama pembahasan Qadar.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- الحديد
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah