Tanya Salaf
Konsep · ID

Fai' — Definisi dan Cakupan

Fai' — Definisi, Dasar Hukum, dan Cakupannya

Sumber: Majmu& Vol.23, pp.796–799 — Ibnu Taimiyah menjelaskan fai' melalui analisis linguistik, dasar teologis, kelompok penerima berdasarkan Al-Quran, dan sumber-sumber yang masuk ke dalam kategori fai'.


Definisi Fiqh

Para ahli fikih mendefinisikan fai' sebagai harta yang diambil dari orang-orang kafir melalui cara non-militer — artinya tanpa pengerahan kuda maupun unta (QS Al-Hasyr 59:6).


Etimologi: Makna "Kembali"

Kata fai' berasal dari akar kata yang berarti **"kembali" (raja'a)**. Ibnu Taimiyah menjelaskan alasan semantik yang mendalam:

Ini berbeda dari perspektif sekadar "rampasan" atau "pendapatan negara" — ia adalah pemulihan sesuatu ke fungsi yang Allah ciptakan untuknya.


Tiga Kelompok Penerima Fai' (Versi Rinci)

Ibnu Taimiyah mengidentifikasi tiga kelompok berdasarkan urutan penyebutan Al-Quran, dengan penambahan referensi ayat yang lebih luas:

Kelompok 1: Muhajirin dan Anshar (QS 59:7-9)

Ini adalah generasi pertama yang mendapatkan fai' — para Muhajirin yang diusir dan para Anshar yang menyambut mereka. Lihat Fai& untuk penjelasan rinci.

Kelompok 2: Yang Beriman, Berhijrah, dan Berjihad Setelah Fathu Makkah (QS 8:75)

"Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu..."

Ini mencakup generasi kedua Muslim yang menyusul beriman, berhijrah, dan berjihad setelah pembukaan Makkah — mereka berhak atas fai' karena perjuangan mereka memenuhi syarat yang sama.

Kelompok 3: Generasi Sesudahnya yang Memenuhi Kriteria (QS 9:100 dan 62:3)

QS At-Taubah (9): 100: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah..."

QS Al-Jumu'ah (62): 3: "...dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Ini menunjukkan bahwa hak atas fai' tidak terbatas pada generasi sahabat saja — ia berlanjut hingga Hari Kiamat bagi siapapun yang mengikuti jejak mereka dengan ihsan.


Sumber-Sumber Fai'

Ibnu Taimiyah merinci sumber-sumber yang masuk ke dalam kategori fai':

| Sumber | Keterangan | |---|---| | Jizyah | Dari Yahudi dan Nashrani yang berada di bawah perlindungan Islam | | Upeti dari penguasa musuh | Untuk perdamaian atau gencatan senjata | | Bea pedagang ahlul harb | Sepersepuluh (usyr) dari pedagang yang datang dari wilayah musuh | | Bea ahlu dzimmah di luar wilayah | Seperdua puluh dari pedagang ahlu dzimmah yang berdagang di luar wilayah perjanjian mereka — sebagaimana dipungut Umar | | Pajak dari pembatal perjanjian** | Dari pihak yang melanggar perjanjian damai |

Harta Baitul Mal Lainnya

Ibnu Taimiyah juga memasukkan semua harta negara yang masuk ke Baitul Mal dalam cakupan yang lebih luas:


Implikasi: Fai' sebagai Sumber Daya Negara Islam

Dari rincian sumber ini, terlihat bahwa fai' dalam pemikiran Ibnu Taimiyah mencakup sebagian besar pendapatan negara Islam di luar zakat dan ghanimah. Ini menjadikannya topik yang sangat sentral dalam teori keuangan negara Islam.

Prinsip distribusinya (QS 59:7 — tidak boleh beredar di antara orang kaya saja) berarti bahwa pendapatan negara ini harus dikelola untuk kemaslahatan seluruh umat, bukan hanya kelompok penguasa atau elit.


Terkait

Pertanyaan Terbuka

  1. Bagaimana status bea pedagang ahlul harb (sepersepuluh) dalam fikih kontemporer — apakah ada analog modernnya dalam tarif impor atau pajak?
  2. Apakah ada perbedaan antara harta fai' dan pajak (dharibah) dalam fikih Islam? Beberapa ulama kontemporer membahas ini secara terpisah.

Data sumber

jenis
konsep
Arab
الفَيْء — تَعْرِيفُهُ وَنِطَاقُهُ
disiplin
fikih, siyasah
kategori
hukum fikih
tag
konsep, fikih, siyasah, fai, jizyah