Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Al-Muddaththir

Surah Al-Muddaththir

Surah Al-Muddaththir adalah surah ke-74 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 56 ayat dan termasuk surah Makkiyah.

Pokok bahasan

Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul

Sumber: Terjemah Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahkik Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.

QS 74:1-2 — Wahyu setelah jeda wahyu

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bahwa Rasulullah ﷺ berada di Gua Hira selama satu bulan. Setelah selesai menyendiri, beliau turun ke lembah. Beliau dipanggil, tetapi tidak melihat siapa pun. Ketika menengadahkan kepala, beliau melihat malaikat. Beliau pulang dan berkata, “Selimutilah aku.” Allah kemudian menurunkan ayat, “Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan.”

QS 74:1-7 — Al-Walid bin Al-Mughirah memfitnah Nabi ﷺ

Riwayat lemah dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Al-Walid bin Al-Mughirah mengadakan jamuan untuk Quraisy menjelang musim haji dan bertanya tentang Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menyebut beliau sebagai tukang sihir, peramal, atau penyair. Nabi ﷺ mendengar berita tersebut, merasa sedih, lalu berselimut. Turunlah ayat pertama sampai ayat ketujuh.

QS 74:11 — Al-Walid menolak Al-Qur'an

Al-Walid bin Al-Mughirah mendengar Al-Qur'an dari Nabi ﷺ dan mengakui keindahan serta ketinggian bahasanya. Abu Jahal kemudian membujuknya agar menyampaikan celaan kepada kaumnya. Setelah berpikir, Al-Walid menyebut Al-Qur'an sebagai sihir yang dipelajari dari orang terdahulu. Turunlah ayat, “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendiri.”

QS 74:30-31 — Sembilan belas penjaga neraka

Sebagian orang Yahudi bertanya kepada sahabat Nabi ﷺ tentang jumlah penjaga neraka Jahanam. Allah menurunkan ayat, “Di atasnya ada sembilan belas.” Ketika Abu Jahal mengejek jumlah tersebut, Allah menegaskan bahwa penjaga neraka adalah malaikat dan jumlah itu menjadi ujian bagi orang-orang kafir.

QS 74:52 — Permintaan lembaran wahyu

Orang-orang kafir berkata bahwa setiap orang dari mereka seharusnya menerima lembaran yang berisi pembebasan dan keamanan dari neraka. Allah menurunkan ayat bahwa mereka menghendaki lembaran-lembaran terbuka, padahal mereka tidak mengambil pelajaran dari peringatan.

Kaitan

Ringkasan Tafsir Jalalain

Nabi ﷺ diperintahkan bangkit dan memberi peringatan kepada penduduk Makkah, mengagungkan Rabb-nya, membersihkan pakaian, meninggalkan berhala, tidak memberi dengan tujuan memperoleh balasan lebih banyak, dan bersabar karena Allah.

Al-Walid bin Al-Mughirah diberi harta, anak, dan kelapangan hidup, tetapi ia memikirkan cara menolak Al-Qur'an. Ia bermuka masam, berpaling, dan menyebut Al-Qur'an sebagai sihir. Allah mengancamnya dengan Neraka Saqar yang membakar daging, otot, dan kulit.

Saqar dijaga oleh sembilan belas malaikat. Jumlah itu menjadi ujian bagi orang kafir, menambah keyakinan orang beriman, dan membuat ahli kitab mengetahui kebenaran risalah Nabi ﷺ. Al-Qur'an adalah peringatan. Orang yang menghendaki dapat mengambil pelajaran darinya, dan Allah adalah Tuhan yang berhak ditakuti serta berhak memberi ampun.

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir membahas perbedaan pendapat tentang wahyu pertama. Sebagian riwayat menyebut Surah Al-Muddaththir sebagai wahyu pertama, sedangkan mayoritas ulama menyatakan bahwa Surah Al-Alaq lebih dahulu turun. Riwayat Jabir menjelaskan bahwa setelah masa jeda wahyu, Nabi ﷺ melihat Jibril di antara langit dan bumi, lalu turunlah ayat “Wahai orang yang berselimut.”

Perintah “bangunlah lalu berilah peringatan” memerintahkan Nabi ﷺ menyampaikan risalah. “Agungkan Rabb-mu” berarti mengagungkan Allah. “Bersihkan pakaianmu” mencakup kebersihan lahir dan batin. “Tinggalkan berhala” berarti meninggalkan kesyirikan dan kemaksiatan. “Jangan memberi untuk memperoleh balasan lebih banyak” mengajarkan keikhlasan. Kesabaran dilakukan untuk memperoleh keridaan Allah.

Al-Walid bin Al-Mughirah menerima banyak nikmat, tetapi mengingkari ayat-ayat Allah. Ia memikirkan dan menetapkan celaan terhadap Al-Qur'an, kemudian berpaling dengan sombong. Allah mengancamnya dengan Saqar, neraka yang tidak meninggalkan daging, keringat, urat, dan kulit, lalu menggantinya kembali untuk dibakar lagi.

Sembilan belas penjaga neraka adalah malaikat yang kuat dan tidak dapat dilawan. Jumlah mereka menjadi ujian. Orang beriman bertambah imannya, sedangkan orang yang sakit hatinya bertanya-tanya dengan maksud mengejek. Hanya Allah yang mengetahui seluruh tentara-Nya.

Penghuni neraka mengakui empat sebab mereka masuk Saqar: tidak mengerjakan salat, tidak memberi makan orang miskin, membicarakan kebatilan bersama orang yang membicarakannya, dan mendustakan hari pembalasan sampai kematian datang. Al-Qur'an menjadi peringatan bagi orang yang ingin maju mengikuti petunjuk atau mundur dengan menolaknya.

Tafsir Ibnu Taimiyah

Dalam Majmu' Fatawa jilid 13, Ibnu Taimiyah menggunakan QS 74:3 sebagai perintah mengagungkan Allah dan QS 74:5 sebagai perintah meninggalkan berhala serta kemaksiatan. QS 74:6 menjelaskan larangan memberi sesuatu dengan tujuan memperoleh balasan duniawi yang lebih besar.

Ibnu Taimiyah membahas bahwa QS 74:31 menjelaskan jumlah penjaga neraka sebagai ujian, penambah iman bagi orang beriman, dan penambah keyakinan bagi ahli kitab. Allah mengetahui jumlah seluruh tentara-Nya.

Catatan penelitian

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Data sumber

jenis
surah
Arab
المدثر
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah