Surah Al-Maarij
Surah Al-Maarij
Surah Al-Maarij adalah surah ke-70 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 44 ayat dan termasuk surah Makkiyah.
Tafsir Ibnu Abbas
Sumber: terjemah bahasa Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas.
Riwayat [1316]–[1319] telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan naskah Arab pada halaman 500. Seluruh isi surah berada pada satu halaman dan nomor riwayat sesuai dengan sumber.
QS 70:3 — Makna Dzil Ma'arij
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Dzil Ma'arij, yaitu Yang memiliki tempat-tempat naik, bermakna ketinggian dan keutamaan. Riwayat ini disebutkan oleh Ath-Thabari melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas dan oleh Ibnu Katsir.
QS 70:4 — Hari Kiamat selama lima puluh ribu tahun
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa naiknya para malaikat dan Jibril kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun berkaitan dengan Hari Kiamat. Hari itu dijadikan Allah lima puluh ribu tahun bagi orang kafir.
QS 70:24-25 — Hak orang miskin dalam harta orang kaya
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa bagian tertentu dalam harta mencakup sedekah yang menyambung silaturahmi, menjamu tamu, menanggung keletihan, serta memperhatikan orang yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mau meminta. Riwayat ini disebutkan oleh Ath-Thabari melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas dan oleh Al-Qurthubi.
Pokok bahasan
- Orang-orang kafir meminta azab yang pasti terjadi dan tidak dapat ditolak.
- Allah memiliki tempat-tempat naik, yaitu ketinggian dan keutamaan.
- Hari Kiamat sangat berat bagi orang-orang kafir.
- Manusia diciptakan memiliki sifat keluh kesah dan kikir, kecuali orang-orang yang menjaga salat dan amal kebajikan.
- Orang beriman memberikan bagian tertentu dari hartanya kepada orang yang membutuhkan.
- Amanat, janji, kesaksian, kesucian diri, dan salat adalah sifat orang-orang yang diselamatkan.
Kaitan
- Tafsir Ibnu Abbas
- Ibnu Abbas
- Tafsir
- Al-Haqqah
- Akidah
- Fikih
Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul
Sumber: Terjemah Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahkik Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.
QS 70:1 — Permintaan azab dari kaum musyrik Makkah
Diriwayatkan dari Abu Hatim dan As-Suddi bahwa An-Nadhr bin Harits dan orang-orang kafir Quraisy berkata ketika mendengar ancaman azab dari Nabi ﷺ, “Ya Allah, jika ini benar dari sisi-Mu, hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkan azab yang pedih.” Turunlah permulaan surah ini: “Seseorang telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi.”
Riwayat lain dari Ibnu Mundzir dari Al-Hasan menyebutkan bahwa setelah ayat pertama turun, orang-orang bertanya kepada siapa azab itu akan ditimpakan. Ayat kedua menjawab, “Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya.”
Ringkasan Tafsir Jalalain
Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa seseorang meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir. Orang yang disebut dalam riwayat adalah An-Nadhr bin Harits. Azab itu datang dari Allah, Yang memiliki tempat-tempat naik bagi para malaikat, yaitu langit.
Para malaikat dan Jibril naik kepada Allah dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Bagi orang kafir, hari itu sangat berat, sedangkan bagi orang beriman terasa lebih singkat. Nabi ﷺ diperintahkan bersabar dengan kesabaran yang baik sebelum perintah memerangi mereka turun.
Hari Kiamat digambarkan dengan langit seperti luluhan perak, gunung seperti bulu yang beterbangan, dan manusia yang sibuk dengan urusannya sendiri. Neraka Saqar adalah api yang bergejolak dan mengelupaskan kulit kepala.
Manusia memiliki sifat keluh kesah. Ia gelisah ketika tertimpa kesusahan dan kikir ketika memperoleh kebaikan. Orang yang menjaga salat, memberikan bagian tertentu dari hartanya kepada orang miskin, beriman kepada hari pembalasan, takut kepada azab Allah, menjaga kehormatan, menunaikan amanat dan janji, serta menjaga kesaksiannya memperoleh keselamatan.
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
Azab yang diminta orang kafir pasti terjadi karena Allah telah menetapkannya dan tidak seorang pun dapat mencegahnya. Dzil Ma'arij berarti Allah memiliki derajat-derajat ketinggian dan keutamaan. Para malaikat naik kepada-Nya, dan hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun adalah Hari Kiamat.
Ibnu Katsir menyebut hadis tentang orang yang tidak menunaikan zakat harta. Harta itu akan menjadi lempengan yang dipanaskan di neraka dan digunakan untuk menyiksa pemiliknya sampai Allah memberi keputusan di antara hamba-hamba-Nya. Hadis tersebut menjelaskan beratnya hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Nabi ﷺ diperintahkan bersabar menghadapi pendustaan dan permintaan azab. Orang kafir menganggap Hari Kiamat jauh, sedangkan orang beriman meyakini bahwa semua yang akan datang pasti dekat menurut ketetapan Allah.
Pada hari itu langit seperti luluhan logam dan gunung seperti bulu. Tidak ada teman dekat yang menanyakan keadaan temannya karena setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Orang kafir ingin menebus azab dengan anak, istri, saudara, keluarga, dan seluruh manusia, tetapi tebusan itu tidak diterima.
Neraka memanggil orang yang berpaling dari agama, mengumpulkan harta, dan menolak menunaikan hak Allah dari hartanya. Manusia diciptakan keluh kesah dan kikir, kecuali orang yang menjaga salat, membayar hak orang miskin, beriman kepada hari pembalasan, takut kepada azab Allah, menjaga kehormatan, menunaikan amanat, menepati janji, menjaga kesaksian, dan memelihara salat.
Orang-orang kafir berpencar dari Nabi ﷺ dan tidak ingin memahami Kitab Allah. Mereka menginginkan surga, tetapi berpaling dari Rasulullah ﷺ dan kebenaran. Allah yang menciptakan manusia dari air mani mampu membangkitkan mereka dan mengganti mereka dengan kaum yang lebih baik. Mereka akan keluar dari kubur dengan cepat menuju tempat yang dahulu mereka jadikan tanda, lalu berada dalam keadaan hina.
Catatan penelitian
- Riwayat Ibnu Abbas dalam batch ini hanya mencakup QS 70:3, QS 70:4, dan QS 70:24-25.
- Makna lima puluh ribu tahun perlu dibandingkan dengan tafsir lain untuk menentukan pembahasan tentang orang beriman dan orang kafir.
- Rincian hadis tentang zakat harta dan hari kiamat perlu dibaca bersama riwayat lengkap dalam Shahih Muslim.
Tafsir Ibnu Taimiyah
Dalam Majmu' Fatawa jilid 13, Ibnu Taimiyah membahas QS 70:14-17 dalam konteks keadaan penghuni neraka dan orang yang paling bertakwa yang dijauhkan dari neraka.
QS 70:12, “Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,” dijelaskan melalui beberapa makna: Allah menjelaskan halal dan haram, menjelaskan jalan hidayah dan jalan kesesatan, serta menunjukkan jalan lurus kepada orang yang menempuhnya. Penjelasan itu berasal dari wahyu yang Allah turunkan melalui rasul dan kitab-Nya.
Ibnu Taimiyah membandingkan penafsiran Qatadah, Az-Zajjaj, Al-Baghawi, Al-Farra, dan Ibnu Athiyyah. Beliau menegaskan bahwa petunjuk yang menunjukkan jalan lurus berasal dari Allah, sedangkan manusia tetap diperintahkan menerima penjelasan wahyu dan menempuh jalan ketaatan.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- المعارج
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah