Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Al-Layl

Surah Al-Layl

Surah Al-Layl adalah surah ke-92 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 21 ayat dan termasuk surah Makkiyah.

Tafsir Ibnu Abbas

Sumber: terjemah bahasa Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas.

Penyusun Tafsir Ibnu Abbas, Pustaka Azzam, menyatakan bahwa mereka tidak menemukan riwayat dari Ibnu Abbas yang menyebutkan tafsir Surah Al-Layl. Karena itu, edisi ini tidak memuat penjelasan khusus dari Ibnu Abbas untuk surah tersebut.

Pokok bahasan

Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul

Sumber: Terjemah Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahkik Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.

QS 92:1-21 — Kisah pemilik pohon kurma, orang miskin, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Riwayat pemilik pohon kurma dan orang miskin

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas melalui Al-Hakam bin Ikrimah bahwa seorang lelaki memiliki pohon kurma yang cabangnya menjulur ke rumah seorang lelaki miskin. Ketika pemilik pohon datang mengambil kurma, ia masuk ke rumah lelaki miskin itu dan naik ke pohonnya. Kadang-kadang satu atau dua kurma jatuh dan diambil oleh anak-anak lelaki miskin tersebut. Pemilik pohon turun dan mengambil kurma dari tangan anak-anak itu. Jika kurma sudah berada di mulut mereka, ia memasukkan jarinya untuk mengeluarkannya.

Lelaki miskin itu mengadukan hal tersebut kepada Nabi ﷺ dan meminta agar pohon kurma yang cabangnya menjulur ke rumahnya diberikan kepadanya. Pemilik pohon menolak meskipun memiliki banyak pohon kurma, karena pohon itu paling ia sukai.

Seorang lelaki yang mendengar percakapan tersebut menawar pohon itu kepada pemiliknya. Pemilik meminta empat puluh pohon kurma. Lelaki itu menyanggupi, lalu para pemilik pohon tersebut menjadi saksi. Ia kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dan menyampaikan bahwa pohon itu telah menjadi miliknya. Rasulullah ﷺ pergi kepada lelaki miskin tersebut dan menyerahkan pohon itu kepadanya. Ibnu Katsir menilai hadis ini sangat gharib.

Riwayat Abu Bakar Ash-Shiddiq memerdekakan budak yang disiksa

Diriwayatkan dari Ibnu Az-Zubair bahwa Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar, “Aku melihat engkau memerdekakan budak-budak yang lemah. Seandainya engkau memerdekakan orang-orang yang kuat dan mampu melindungimu dari musuh, tentu itu lebih baik.” Abu Bakar menjawab bahwa ia hanya mengharapkan apa yang ada di sisi Allah. Ayat tentang orang yang memberikan hartanya dan bertakwa turun berkenaan dengan perbuatannya.

Riwayat lain menyebutkan bahwa Abu Bakar memerdekakan tujuh budak yang disiksa karena membela agama Allah. Ayat tentang orang yang paling bertakwa dan dijauhkan dari neraka turun berkenaan dengan perbuatannya. Riwayat lain menyebutkan bahwa ayat “Tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya” juga berkaitan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Kaitan

Ringkasan Tafsir Jalalain

Tafsir Jalalain menjelaskan sumpah Allah dengan malam ketika menutupi makhluk, siang ketika menampakkan cahaya, dan penciptaan laki-laki serta perempuan. Usaha manusia berbeda-beda. Sebagian beramal untuk memperoleh surga melalui ketaatan dan sebagian beramal untuk memperoleh neraka melalui kemaksiatan.

Orang yang memberikan harta di jalan Allah, bertakwa, dan membenarkan kalimat tauhid akan disiapkan menuju jalan yang mudah, yaitu surga. Orang yang kikir, merasa tidak membutuhkan Allah, dan mendustakan pahala terbaik akan disiapkan menuju jalan yang sulit, yaitu neraka. Harta tidak akan berguna ketika ia telah terjerumus ke dalam neraka.

Allah berkewajiban menjelaskan jalan petunjuk dan jalan kesesatan. Orang yang masuk neraka adalah orang yang mendustakan Nabi ﷺ dan berpaling dari iman. Orang yang bertakwa dan menafkahkan harta untuk menyucikan dirinya akan dijauhkan dari neraka. Ayat tentang orang yang menafkahkan harta untuk mencari keridaan Allah mencakup Abu Bakar Ash-Shiddiq dan setiap orang yang mengikuti amal tersebut.

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir

Allah bersumpah dengan malam, siang, dan penciptaan laki-laki serta perempuan. Ketiga hal itu berbeda dan berlawanan, sehingga yang disumpahkan juga menunjukkan perbedaan usaha manusia. Sebagian manusia berbuat baik dan sebagian berbuat buruk.

Orang yang memberi harta, bertakwa, dan membenarkan pahala terbaik akan dimudahkan menuju kebaikan. Makna al-husna ditafsirkan sebagai surga, kalimat tauhid, atau balasan yang baik. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jalan yang mudah adalah jalan menuju kebaikan. Hadis tentang amal menunjukkan bahwa setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya, sehingga manusia tetap diperintahkan untuk beramal.

Orang yang kikir dan merasa tidak membutuhkan Rabb-nya akan dimudahkan menuju jalan keburukan. Harta tidak bermanfaat ketika ia mati atau ketika ia binasa di dalam neraka. Allah menjelaskan jalan petunjuk, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan. Dunia dan akhirat seluruhnya milik Allah dan berada di bawah pengaturan-Nya.

Neraka yang menyala-nyala dimasuki orang yang mendustakan kebenaran dan berpaling dari amal. Orang yang paling bertakwa dan menafkahkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah akan dijauhkan dari neraka. Ia memberi bukan untuk membalas nikmat manusia, tetapi hanya untuk mencari keridaan Allah Yang Mahatinggi. Allah akan meridai orang yang memiliki sifat-sifat tersebut.

Sebagian mufasir menyebut ayat-ayat terakhir sebagai ayat yang turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ibnu Katsir menegaskan bahwa makna ayat tetap umum, sehingga Abu Bakar termasuk di dalamnya sebagai orang terbaik, dan setiap orang yang memiliki sifat yang sama juga tercakup.

Tafsir Ibnu Taimiyah

Dalam Majmu' Fatawa jilid 13, Ibnu Taimiyah membahas QS Al-Layl dalam beberapa catatan tafsir. QS 92:14-17 digunakan dalam pembahasan tentang keadaan penghuni neraka dan tentang orang yang paling bertakwa yang dijauhkan dari neraka.

QS 92:12, “Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,” dijelaskan dalam beberapa makna: Allah menjelaskan halal dan haram, menjelaskan jalan petunjuk dan jalan kesesatan, serta menunjukkan jalan yang lurus kepada orang yang menempuhnya. Penjelasan yang Allah turunkan melalui rasul dan kitab-Nya membedakan ketaatan dari kemaksiatan.

Ibnu Taimiyah membandingkan beberapa penafsiran ulama tentang ayat ini dan menegaskan bahwa hidayah yang menunjukkan jalan lurus berasal dari Allah. Penjelasan tentang jalan hidayah adalah tanggung jawab wahyu, sedangkan manusia tetap diperintahkan untuk memilih ketaatan dan menempuh jalan yang benar.

Catatan penelitian

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Data sumber

jenis
surah
Arab
الليل
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah