Surah Al-Kawtsar
Surah Al-Kawtsar
Surah Al-Kawtsar adalah surah ke-108 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 3 ayat dan termasuk surah Makkiyah.
Tafsir Ibnu Abbas
Sumber: terjemah bahasa Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas.
Riwayat [1454]–[1455] telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan naskah Arab pada halaman 542. Catatan sumber juga menyebutkan bahwa Surah Al-Kafirun, Surah An-Nasr, dan Surah Al-Masad tidak memiliki riwayat tafsir dalam kitab ini.
QS 108:2 — Perintah salat dan penyembelihan pada Iduladha
Ibnu Abbas berkata bahwa maksud firman Allah, fashalli wa anhar, adalah menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Kurban atau Iduladha. Riwayat ini melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas dan disebutkan dalam Jami' Al-Bayan, As-Sunan Al-Kubra, Al-Jami' Ash-Shahih, Fath Al-Bari, Al-Itqan, dan Ad-Durr Al-Mantsur.
QS 108:3 — Makna abtar
Ibnu Abbas berkata bahwa al-abtar berarti musuh Nabi Muhammad ﷺ. Dialah yang terputus, tidak memiliki keturunan yang melanjutkan namanya. Riwayat ini melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas dan disebutkan oleh Ath-Thabari serta para ulama hadis lainnya.
Pokok bahasan
- Allah memberikan Al-Kawtsar kepada Nabi Muhammad ﷺ, berupa sungai di surga dan kebaikan yang banyak.
- Nabi ﷺ diperintahkan salat dan berkurban dengan ikhlas hanya untuk Allah.
- Orang yang membenci Nabi ﷺ dan risalah yang beliau bawa adalah orang yang terputus dari kebaikan.
- Ayat ini menjadi salah satu dasar pensyariatan salat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban.
Kaitan
Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul
Sumber: Terjemah Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahkik Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.
QS 108:1 — Riwayat tentang Fathu Makkah
Diriwayatkan dari Al-Bukhari dalam Kitab Al-Jihad, dari Ma'mar dari Az-Zuhri, bahwa ketika Rasulullah ﷺ memasuki Makkah pada peristiwa Fathu Makkah, beliau mengutus Khalid bin Al-Walid. Khalid dan pasukannya memerangi barisan Quraisy di dataran rendah Makkah sampai Allah membuat mereka melarikan diri. Mereka kemudian masuk Islam. Setelah itu Allah menurunkan ayat, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kawtsar.”
QS 108:1 — Riwayat tentang wafatnya putra Rasulullah ﷺ
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Sa'id bin Mina' bahwa ketika putra Rasulullah ﷺ wafat, orang-orang Quraisy berkata bahwa Muhammad telah terputus keturunannya. Hal itu membuat Nabi ﷺ bersedih, lalu turunlah ayat, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kawtsar,” untuk menenangkan beliau.
Muhaqqiq Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi mengingatkan bahwa riwayat ini perlu diperiksa karena wafatnya Ibrahim, putra Nabi ﷺ dari Mariyah Al-Qibthiyyah, terjadi di Madinah, sedangkan Surah Al-Kawtsar adalah surah Makkiyah. Yang dimaksud dalam riwayat kemungkinan adalah Abdullah, putra Rasulullah ﷺ dari Khadijah.
Ringkasan Tafsir Jalalain
Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa Al-Kawtsar adalah sungai di surga dan telaga Nabi ﷺ tempat umat beliau akan minum. Al-Kawtsar juga bermakna kebaikan yang banyak, termasuk kenabian, Al-Qur'an, syafaat, dan karunia lainnya.
Karena Allah telah memberikan karunia yang banyak, Nabi ﷺ diperintahkan menegakkan salat untuk Rabb-nya dan menyembelih hewan kurban untuk ibadah haji. Orang yang membenci Nabi ﷺ adalah orang yang terputus dari seluruh kebaikan atau terputus keturunannya. Jalalain menyebut Al-Ash bin Wa'il sebagai orang yang mengejek Nabi ﷺ dengan sebutan abtar setelah wafatnya putra beliau, Qasim.
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Ibnu Katsir menyebut hadis dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ pernah tersenyum setelah menerima wahyu Surah Al-Kawtsar. Beliau menjelaskan bahwa Al-Kawtsar adalah sungai yang Allah berikan kepada beliau di surga. Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan umat beliau akan mendatanginya pada hari kiamat. Bejananya sebanyak bintang di langit.
Hadis lain menggambarkan sungai Al-Kawtsar sebagai sungai yang kedua tepinya berupa kemah-kemah mutiara dan airnya lebih harum daripada minyak kesturi. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Firman Allah, “Maka salatlah untuk Rabb-mu dan berkurbanlah,” memerintahkan keikhlasan dalam salat wajib dan sunah serta penyembelihan kurban. Salat adalah ibadah badan yang paling utama, sedangkan kurban termasuk ibadah harta yang paling utama. Keduanya mencakup penghambaan kepada Allah. Perintah ini berbeda dari perbuatan orang-orang musyrik yang bersujud kepada selain Allah dan menyembelih dengan menyebut nama selain Allah.
Orang yang membenci Nabi ﷺ, petunjuk, kebenaran, dan cahaya yang beliau bawa adalah orang yang terputus, paling sedikit jumlahnya, dan paling hina. Beberapa riwayat menyebut Al-Ash bin Wa'il, Ka'ab bin Al-Asyraf, Abu Lahab, dan Abu Jahal sebagai sebab turunnya ayat. Makna abtar juga dijelaskan sebagai orang yang terputus penyebutannya setelah meninggal.
Allah mengabadikan penyebutan Nabi ﷺ dan menjadikan syariat beliau berlaku sampai hari kiamat. Riwayat-riwayat tentang sebab turunnya ayat perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan jalur dan tingkat kekuatannya.
Tafsir Ibnu Taimiyah
Dalam Majmu' Fatawa jilid 13, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa salat disebut lebih dahulu daripada kurban dalam Surah Al-Kawtsar. Beliau membandingkannya dengan Surah Al-A'la yang menyebut penyucian sebelum salat. Dari perbandingan ini beliau menjelaskan urutan sunah: zakat fitrah sebelum salat Idulfitri dan kurban setelah salat Iduladha.
Dalam Majmu' Fatawa jilid 14, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Al-Kawtsar berasal dari kata yang berarti banyak dan menunjukkan kebaikan yang melimpah. Kebaikan itu mencakup petunjuk, kemenangan, dukungan, kelapangan dada, zikir, kecintaan kepada Allah, wasilah, kedudukan terpuji, panji pujian, telaga, dan masuknya umat ke dalam surga.
Salat dan kurban adalah dua ibadah yang sangat utama. Salat adalah ibadah badan yang paling utama dan kurban adalah ibadah harta yang paling utama. Keduanya digabung karena mencakup penghambaan secara menyeluruh. Huruf fa dalam ayat menunjukkan bahwa karunia Al-Kawtsar menjadi sebab untuk salat dan kurban sebagai bentuk syukur.
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa orang yang membenci Nabi ﷺ adalah orang yang terputus dari kebaikan. Termasuk dalam peringatan ini adalah orang yang mendahulukan hawa nafsu, mengikuti pemimpin yang menyelisihi Sunnah, mendahulukan pendapat manusia di atas Al-Qur'an dan Sunnah, atau menolak Al-Qur'an.
Catatan penelitian
- Makna Al-Kawtsar secara khusus sebagai telaga, sungai di surga, atau kebaikan yang banyak masih perlu dibandingkan dengan sumber tafsir lainnya.
- Identitas musuh Nabi ﷺ dalam berbagai riwayat sebab turunnya ayat perlu dikonfirmasi melalui sumber asbabun nuzul.
- Perbedaan status Makkiyah dan Madaniyah perlu dibaca bersama riwayat yang digunakan oleh para ahli qiraah dan ahli fikih.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- الكوثر
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah