Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Al-Fajr

Surah Al-Fajr

Surah ke-89, Makkiyah, tiga puluh ayat. Surah ini mengingatkan manusia tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, kehancuran kaum yang melampaui batas, ujian melalui kelapangan dan kesempitan rezeki, Hari Kiamat, serta balasan bagi jiwa yang tenang.

Tafsir Ibnu Abbas

Sumber: terjemahan Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas.

QS 89:5 — Makna sumpah bagi orang berakal

[1418] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa sumpah pada ayat ini diterima oleh orang-orang yang berakal. Ungkapan li uliln nuha berarti untuk orang-orang yang berakal.

QS 89:9 — Makna kaum Tsamud memotong batu

[1419] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kaum Tsamud melubangi batu-batu besar di lembah.

QS 89:14 — Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar

[1420] Maksud Allah mengawasi adalah bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar.

QS 89:19–20 — Harta pusaka dan cinta harta

[1421] Memakan harta pusaka dengan cara mencampurbaurkan berarti melekatkan satu harta dengan harta lainnya.

[1422] Hubban jamman berarti mencintai harta dengan sangat, yaitu secara amat berlebihan.

QS 89:21 — Bumi digoncangkan bertubi-tubi

[1423] Bumi digoncangkan berulang-ulang dan bertubi-tubi.

QS 89:23 — Neraka Jahannam diperlihatkan

[1424] Pada hari itu manusia mengingat perbuatannya, tetapi ingatan tersebut tidak lagi bermanfaat baginya.

QS 89:27 — Jiwa yang tenang

[1425] Jiwa yang tenang adalah jiwa yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya.

Tema utama

Terkait

Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Al-Ghasyiyah | Al-Balad

Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul

Sumber: terjemahan Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahqiq Hamid Ahmad Thahir al-Bayyumi.

QS 89:27 — Riwayat tentang Hamzah

Diriwayatkan dari Buraidah bahwa Ibnu Abi Hatim meriwayatkan ayat "Hai jiwa yang tenang" berkenaan dengan Hamzah. Riwayat ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir (6/312).

QS 89:27 — Riwayat tentang Utsman bin Affan dan sumur Ar-Rumah

Sebuah riwayat melalui Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa ayat "Hai jiwa yang tenang" berkenaan dengan Utsman bin Affan setelah ia membeli sumur Ar-Rumah untuk menjadi sumber air minum masyarakat.

Catatan penilaian riwayat: Jalur Juwabir dari Adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas dinilai lemah karena Juwabir adalah perawi yang lemah. Muhaqqiq Al-Bayyumi menyebutnya tidak dapat dijadikan hujah (catatan kaki 1013). Al-Qurthubi menyebut pendapat lain yang mengaitkannya dengan Khubaib bin Adi. (Dicatat untuk pembaca; bukan fatwa.)

Ringkasan Tafsir Jalalain

Tafsir Jalalain menjelaskan sumpah pada awal surah sebagai sumpah dengan fajar, sepuluh malam Dzulhijjah, yang genap dan yang ganjil, serta malam ketika berlalu. Jawab sumpahnya adalah peringatan bahwa orang-orang kafir Mekah akan diazab.

Kaum 'Ad dari Iram memiliki tubuh yang tinggi dan kuat. Kaum Tsamud memotong dan melubangi batu-batu besar di Wadi Al-Qura untuk dijadikan tempat tinggal. Fir'aun disebut pemilik pasak karena cara penyiksaannya terhadap orang-orang yang ia hukum.

Ayat 15–20 mencela anggapan bahwa banyaknya harta berarti kemuliaan dan sedikitnya rezeki berarti kehinaan. Keduanya adalah ujian. Ayat-ayat ini juga mencela pencampuran harta warisan dan kecintaan yang berlebihan kepada harta.

Ayat 21–30 menggambarkan bumi yang dihancurkan, kedatangan Rabb dengan para malaikat yang berbaris, diperlihatkannya Jahannam, dan panggilan kepada jiwa yang tenang untuk kembali kepada Rabb-nya dalam keadaan ridha dan diridhai.

Catatan manhaj: Pada QS 89:22, Jalalain menafsirkan "datanglah Rabbmu" dengan "perintah-Nya". Posisi Salafi dan Atsari menetapkan sifat majii' bagi Allah pada Hari Kiamat sesuai keagungan-Nya, tanpa menanyakan caranya dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, sebagaimana pembahasan Ibnu Taimiyah dalam Majmu&. (Dicatat untuk pembaca; bukan fatwa.)

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Tafsir Ibnu Katsir

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.

QS 89:1–5 — Empat sumpah Allah

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa al-fajr berarti waktu Subuh. Sebagian ulama memaksudkannya secara khusus sebagai fajar pada Hari Raya Kurban, penutup malam kesepuluh Dzulhijjah. Sepuluh malam adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Yang genap dan yang ganjil ditafsirkan dengan beberapa pendapat, termasuk hari Arafah dan hari Nahar.

Ibnu Katsir menyebut hadis tentang keutamaan amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan menjelaskan bahwa sumpah ini dipahami oleh orang yang memiliki akal, yaitu akal yang mencegah manusia dari perbuatan dan ucapan yang tidak pantas.

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

"Tidak ada hari-hari beramal shalih yang lebih disukai Allah daripada hari-hari ini."

(HR. Bukhari, dari Ibnu Abbas)

"Sepuluh hari itu adalah sepuluh hari Dzulhijjah; yang ganjil adalah hari 'Arafah dan yang genap adalah hari Nahar." (HR. Ahmad, dari Jabir, sanad laa ba'sa bihim — Ibn Katsir mencatat matannya ditolak dalam perafa'annya, wallahu a'lam, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)

"Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu — barangsiapa menghitungnya akan masuk Surga; Dia itu ganjil dan menyukai yang ganjil." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)

QS 89:6–14 — Kaum yang dibinasakan dan pengawasan Allah

Kaum 'Ad adalah kaum yang ingkar, melampaui batas, dan mendustakan Rasul mereka, Hud. Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat dingin dan kencang. Iram dikenal dengan bangunan yang tinggi dan kaum yang kuat.

Kaum Tsamud memotong batu-batu di lembah dan menjadikannya tempat tinggal. Fir'aun yang memiliki pasak dipahami sebagai Fir'aun yang menyiksa orang dengan mengikat mereka pada tiang, atau sebagai pemilik bala tentara yang mendukung kekuasaannya. Ketiga kaum tersebut berbuat kerusakan, lalu Allah menurunkan azab kepada mereka.

Allah Maha Mengawasi hamba-hamba-Nya. Dia mendengar dan melihat amal mereka, memberi balasan sesuai usaha mereka, dan menetapkan keputusan dengan keadilan.

QS 89:15–20 — Kelapangan rezeki adalah ujian

Allah memberikan harta kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Dia juga menyempitkan rezeki orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Ukuran yang benar adalah ketaatan: orang kaya bersyukur dan orang miskin bersabar.

Ayat 17 memerintahkan pemuliaan terhadap anak yatim. Ayat 18 mencela orang yang tidak saling mendorong untuk memberi makan orang miskin. Ayat 19 mencela pencampuran harta warisan dengan harta yang halal dan haram. Ayat 20 mencela kecintaan kepada harta yang berlebihan.

QS 89:21–26 — Peristiwa Hari Kiamat

Bumi dan gunung-gunung dihancurkan, seluruh makhluk bangkit, dan mereka berdiri di hadapan Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tentang kedatangan Rabb berkaitan dengan keputusan Allah di antara makhluk-Nya. Sifat majii' ditetapkan sesuai keagungan Allah, tanpa menanyakan caranya dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.

Para makhluk meminta syafaat kepada para Rasul Ulul Azmi hingga akhirnya meminta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau memperoleh maqam yang terpuji dan memberikan syafaat dengan izin Allah.

Neraka Jahannam diperlihatkan. Saat itu manusia mengingat amalnya dan menyesal, tetapi penyesalan tersebut tidak lagi bermanfaat.

"Pada hari itu Jahannam akan didatangkan dengan tujuh puluh ribu tali kekang, setiap tali dipegang tujuh puluh ribu Malaikat yang menyeretnya." (HR. Muslim, dari Abdullah bin Mas'ud; juga at-Tirmidzi, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)

QS 89:27–30 — Jiwa yang tenang

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang bersih, tenteram, dan berjalan dalam kebenaran. Jiwa itu kembali kepada Rabb-nya, ridha kepada Allah, dan diridhai Allah. Ia masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang saleh dan ke dalam surga-Nya.

Tafsir Ibnu Taimiyah

Sumber: pembahasan nama dan sifat Allah dalam Majmu& Ibnu Taimiyah.

Ayat 22 menjadi salah satu ayat yang berkaitan dengan penetapan sifat majii' bagi Allah. Makna ayat ditetapkan sesuai yang datang dalam wahyu, tanpa takyif dan tanpa tashbih. Catatan perbandingan dengan penafsiran Jalalain dicantumkan pada bagian ringkasan tafsir di atas.

Pertanyaan terbuka

Data sumber

jenis
surah
Arab
الفجر
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah