Tanya Salaf
Konsep · ID

Jual-Beli Barang Terpendam

Jual-Beli Barang Terpendam — Sayuran dan Hasil Bumi Masih dalam Tanah

Sumber: Majmu& Vol.24 — Ibnu Taimiyah membahas tiga pendapat ulama tentang boleh-tidaknya menjual hasil bumi yang terpendam (wortel, lobak, bawang, kacang tanah) sementara masih dalam tanah, dan cenderung pada kebolehan karena kebutuhan dan kemampuan penilaian praktis.


Kasus

Menjual hasil bumi seperti:

...sementara masih tertanam dan belum dicabut dari dalam tanah.

Masalah: Pembeli tidak bisa melihat obyek jual-beli secara langsung — ini adalah bentuk gharar.


Tiga Pendapat Ulama

Pendapat 1: Tidak Boleh Sama Sekali

(Ulama Kufah, Imam Syafi'i, riwayat masyhur dari Imam Ahmad)

Alasan: Ada gharar — pembeli tidak tahu kualitas dan ukuran barang yang ada di bawah tanah. Ini masuk kategori "jual-beli sesuatu yang tidak dilihat."

Kaidah yang dipakai: "Bagaimana mungkin seseorang membeli sesuatu yang tidak dilihatnya?"

Pendapat 2: Boleh Jika Bagian yang Tampak Terlihat

(Sebagian ulama)

Analogi: Seperti menjual pohon yang akarnya di tanah — yang tampak (batang dan daun) mewakili keseluruhan.

Jika daun/batang tanaman tampak di atas tanah, jual-beli sah karena bagian yang terlihat memberikan informasi yang cukup.

Pendapat 3: Boleh Secara Mutlak

(Madzhab Malik)

Alasan Maliki: Jual-beli hasil bumi terpendam adalah kebutuhan nyata (hajat); melarangnya mengakibatkan kesulitan yang tidak dikehendaki syara'.


Posisi Ibnu Taimiyah: Cenderung ke Madzhab Malik dengan Dua Argumen

Ibnu Taimiyah cenderung kepada kebolehan (mendekati posisi Malik) dengan dua argumen tambahan yang tidak disebutkan dalam ringkasan pendapat-pendapat lain:

Argumen 1 — Penilaian Praktis Melebihi Penilaian Visual Biasa:

"Orang yang berpengalaman dapat mengetahui kualitas wortel atau lobak dari daun dan batangnya dengan lebih akurat dari sekadar melihat wajah budak yang akan dibeli."

Artinya: "gharar" dalam jual-beli barang terpendam jauh lebih kecil dari yang tampak secara formal, karena ada cara praktis yang dapat diandalkan untuk menilai kualitas.

Argumen 2 — Kaidah Hajat: Ini adalah jenis barang yang dibutuhkan transaksinya oleh masyarakat. Melarangnya mengakibatkan mudharat yang lebih besar daripada maslahat yang dihasilkan dari pelarangan.


Perbandingan dengan Jual-Beli Buah di Pohon

| Aspek | Buah di pohon (tsimar) | Hasil bumi terpendam | |---|---|---| | Keterlihatan | Tampak di pohon | Tersembunyi dalam tanah | | Penilaian kualitas | Tampak dari warna/ukuran buah | Dari daun dan batang | | Madzhab mayoritas | Larangan sebelum buduwwu shalah | Diperdebatkan | | Posisi Ibnu Taimiyah | Ikut larangan dengan pembatasan | Cenderung boleh karena hajat |


Terkait


Argumen Tambahan Vol.25: Mafhum Mukhalafah dari Hadits Gandum

Ibnu Taimiyah (Vol.25) menambahkan argumen dari mafhum mukhalafah (pengertian terbalik):

Hadits yang melarang menjual gandum sebelum mengeras menunjukkan — secara mafhum mukhalafah — bahwa setelah mengeras, menjualnya boleh meski masih dalam bulir di ladang. Artinya, kriteria yang menentukan kebolehan adalah assessability (dapat dinilai kualitasnya), bukan visibilitas (dapat dilihat secara fisik).

Jika ini diterima untuk gandum, maka untuk hasil bumi terpendam pun berlaku prinsip yang sama: jika spesialis dapat menilai kualitas dari bagian yang tampak (daun, batang, pucuk), maka barang tersebut assessable meskipun secara fisik tidak terlihat seluruhnya.

Implikasi metodologis: Ibnu Taimiyah berbeda dari Abu Hanifah dan Asy-Syafi'i bukan pada tingkat ketidaktahuan, melainkan pada definisi apa yang membuat suatu objek "cukup diketahui" untuk sahnya jual-beli.


Pertanyaan Terbuka

  1. Apakah Ibnu Taimiyah menetapkan batasan jenis hasil bumi yang termasuk dalam rukhsah ini, atau apakah setiap barang yang "umum diperjualbelikan dalam keadaan terpendam" secara otomatis dibolehkan?

Data sumber

jenis
konsep
Arab
بيع المستور في الأرض
disiplin
fikih
kategori
hukum fikih
tag
konsep, fikih, muamalat, jual-beli, gharar