Tanya Salaf
Konsep · ID

Iddah Perempuan yang Melakukan Khulu'

Iddah Perempuan yang Melakukan Khulu' — Cukup Satu Haidh, Bukan Tiga

Sumber: Majmu& Vol.27Ibnu Taimiyah menegaskan (pp. 269–272) bahwa iddah perempuan yang melakukan khulu' adalah satu kali haidh sebagai istibra' al-rahim, bukan tiga quru' sebagaimana iddah talak raj'i.


Posisi Ibnu Taimiyah

Posisi sahih menurut Ibnu Taimiyah: iddah dari khulu' adalah satu kali haidh — cukup untuk memastikan rahim bersih (istibra').

Tiga quru' hanya berlaku untuk iddah talak raj'i, di mana suami memiliki hak rujuk. Karena khulu' adalah faskh (bukan talak), maka hak rujuk suami tidak ada, dan tiga quru' tidak memiliki dasar.


Dalil

Hadith Nabi ﷺ

Atsar Sahabah

| Sahabat | Posisi | |---|---| | Utsman bin Affan | Memerintahkan perempuan yang khulu' membersihkan rahim dengan satu kali haidh dan berkata: "kamu tidak punya kewajiban iddah" (iddah tiga quru') | | Ibnu Abbas | Iddah khulu' = satu haidh | | Ibnu Umar | Dalam satu riwayat: iddah khulu' = satu haidh |

Dasar Analitis

Ibnu Taimiyah menolak argumen dari QS Al-Baqarah [2]:228 (tiga quru') dengan alasan: ayat itu diturunkan khusus untuk istri yang suaminya memiliki hak rujuk — yang tidak berlaku dalam khulu'.


Ulama yang Sepakat dengan Ibnu Taimiyah


Posisi Jumhur (Berbeda)

Mayoritas fuqaha belakangan (termasuk satu pendapat Syafi'i dan satu riwayat Ahmad) berpendapat iddah khulu' adalah tiga quru', karena mereka menganggap khulu' sebagai talak ba'in. Ibnu Taimiyah menolak ini berdasarkan nash dan atsar sahabah yang lebih sahih.

Catatan manhaj: Ini adalah ikhtilaf mu'tabar. Jumhur menghitung tiga quru'; Ibnu Taimiyah dan ahli hadith mengambil satu haidh berdasarkan nash dan ijma' sahabah yang ia klaim lebih kuat. Konsultasikan dengan ulama yang kompeten untuk keputusan pribadi. (Flagged untuk pembaca; bukan fatwa.)


Kaitan dengan Khulu' sebagai Faskh

Posisi satu haidh ini adalah konsekuensi langsung dari posisi Khulu&:


Terkait

Pertanyaan Terbuka

  1. Apakah "satu haidh" menurut Ibnu Taimiyah berarti ia harus menunggu satu haidh penuh setelah khulu', atau cukup yang sedang berjalan?
  2. Bagaimana jika perempuan tersebut sudah hamil — apakah istibra' berlaku atau digantikan dengan menunggu kelahiran?

Data sumber

jenis
konsep
Arab
عِدَّةُ المُخْتَلِعَة
disiplin
fikih
kategori
hukum fikih
tag
konsep, fikih, munakahat, iddah, khulu