Surah Thaha
Surah Thaha
Surah Thaha adalah surah Makkiyah ke-20 dan terdiri dari 135 ayat. Surah ini dibuka dengan huruf muqatta'ah Tha Ha, lalu menjelaskan panggilan Allah kepada Nabi Musa, dakwah Musa dan Harun kepada Fir'aun, peristiwa para penyihir, penyembahan anak sapi, hari Kiamat, dan perjanjian Allah dengan Adam.
Pokok bahasan
- Al-Quran diturunkan sebagai peringatan dan bukan untuk menyusahkan Nabi ﷺ.
- Tauhid, nama-nama Allah, ilmu Allah, dan kewajiban mendirikan shalat.
- Panggilan Allah kepada Musa di lembah suci Thuwa.
- Mukjizat tongkat dan tangan putih Nabi Musa.
- Dakwah Musa dan Harun kepada Fir'aun dengan perkataan yang lembut.
- Kekalahan para penyihir Fir'aun dan keimanan mereka.
- Penyeberangan Bani Israil, manna dan salwa, serta larangan melampaui batas.
- Fitnah Samiri dan penyembahan anak sapi.
- Kebangkitan, syafaat, hisab, dan keadaan manusia pada hari Kiamat.
- Kisah Adam, Iblis, pohon terlarang, petunjuk, dan akibat berpaling dari peringatan Allah.
Tafsir Ibnu Abbas
Riwayat [809]–[850] pada materi sumber membahas QS 20:1–20:135 secara lengkap. Riwayat ini menjelaskan makna Tha Ha, pengetahuan Allah terhadap rahasia dan sesuatu yang lebih tersembunyi, lembah Thuwa, Hari Kiamat, tongkat Musa, tugas Musa dan Harun, penciptaan pasangan, tumbuh-tumbuhan, manna dan salwa, peristiwa anak sapi, hari Kiamat, serta kisah Adam.
Tha Ha dan ilmu Allah
Ibnu Abbas menafsirkan Tha Ha sebagai sumpah dan salah satu nama Allah. Ia juga menjelaskan bahwa Allah mengetahui rahasia yang disembunyikan manusia dan sesuatu yang belum disadari manusia. Pengetahuan Allah terhadap masa lalu dan masa depan sempurna dan tidak disertai kesalahan atau kelupaan.
Musa dan Fir'aun
Lembah Thuwa adalah lembah yang diberkahi dan merupakan tempat Musa menerima panggilan Allah. Tongkat Musa dikembalikan kepada keadaan semula setelah menjadi ular. Musa dan Harun diperintah berbicara dengan lembut kepada Fir'aun agar ia mengingat atau takut. Allah memberi petunjuk kepada setiap makhluk atas kebutuhan hidupnya.
Bani Israil dan anak sapi
Manna dan salwa adalah rezeki yang Allah turunkan kepada Bani Israil. Mereka dilarang melampaui batas dan berbuat zalim terhadap nikmat itu. Ketika Musa pergi, Samiri menyesatkan mereka dengan anak sapi. Musa membakar anak sapi itu dan menaburkan abunya ke laut.
Hari Kiamat dan Adam
Pada hari Kiamat, gunung-gunung diratakan, suara-suara merendah, dan manusia tidak dizalimi dengan penambahan atau pengurangan amal. Ibnu Abbas menafsirkan lupa Adam sebagai tidak adanya keteguhan tekad pada saat itu. Orang yang mengikuti petunjuk Allah tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Asbabun Nuzul
Sebab turun ayat pada materi sumber mencakup keadaan Nabi ﷺ yang terlalu lama berdiri dalam shalat malam, pertanyaan tentang nasib gunung pada hari Kiamat, larangan tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum wahyu selesai, larangan memandang harta dunia orang kafir, dan penegasan bahwa rezeki keluarga menjadi tanggung jawab yang diperintahkan bersama shalat.
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Surah Thaha diturunkan untuk meneguhkan Nabi ﷺ dan menjelaskan bahwa Al-Quran adalah peringatan bagi orang yang takut kepada Allah. Pada QS 20:5, ia membahas istiwa Allah di atas Arsy sesuai dengan kemuliaan-Nya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menolak sifat yang ditetapkan wahyu.
Kisah Musa mencakup panggilan di lembah Thuwa, dua mukjizat, doa agar diberi kelapangan dada dan kefasihan, serta tugas bersama Harun. Musa dan Harun diperintah menghadapi Fir'aun dengan ucapan yang lembut. Para penyihir mengetahui kebenaran mukjizat Musa, lalu beriman dan menerima ancaman Fir'aun.
Ibnu Katsir menjelaskan penyeberangan laut, keselamatan Bani Israil, manna dan salwa, serta empat syarat ampunan: bertobat, beriman, beramal saleh, dan tetap berada di atas petunjuk. Ia juga membahas fitnah Samiri, penghancuran anak sapi, keadaan manusia pada hari Kiamat, syafaat yang memerlukan izin Allah, kisah Adam dan Iblis, lima waktu shalat, serta perintah sabar dan menjaga shalat keluarga.
Tafsir Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah membahas ayat-ayat Surah Thaha dalam Majmu' Fatawa Jilid 13. Pokok bahasannya meliputi nama dan sifat Allah, istiwa di atas Arsy, tauhid, risalah Musa, syafaat, qadar, shalat, dan petunjuk bagi manusia.
Dalam pembahasan sifat Allah, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa ayat dan hadis diterima sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa meniadakan sifat-Nya. Kisah Musa menunjukkan bahwa dakwah tauhid disampaikan dengan hujah, kesabaran, dan ucapan yang tepat.
Pembahasan tentang Adam dan Musa membedakan antara berhujah dengan qadar setelah musibah terjadi dan menjadikan qadar sebagai alasan untuk meninggalkan perintah Allah. Ia juga menghubungkan peringatan Surah Thaha dengan kewajiban shalat, kesabaran, dan tidak mengutamakan kenikmatan dunia.
Kutipan yang diringkas
"Jika salah seorang di antara kalian tertidur hingga terlewat shalat atau lupa mengerjakannya, hendaklah ia mengerjakannya saat teringat, karena Allah berfirman: 'Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.'" (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
Adam dan Musa saling berdialog: Musa bertanya mengapa Adam membuat manusia menderita dan dikeluarkan dari Surga; Adam membalas bertanya apakah Musa mendapati hal itu telah tertulis atasnya sebelum ia diciptakan — Musa mengiyakan, dan dengan itu Adam mengalahkan hujjah Musa. (HR. Al-Bukhari dan Muslim, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
Nabi ﷺ menggambarkan kedudukannya di bawah 'Arsy pada hari Kiamat, bersujud kepada Allah, lalu diberi izin memohon syafa'at bagi umatnya dan syafa'atnya dikabulkan hingga beliau memasukkan mereka ke Surga. (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Allah Ta'ala berfirman: 'Keluarkanlah dari Neraka siapa saja yang di hatinya ada iman seberat biji, lalu seberat setengah biji, lalu seberat dzarrah, hingga yang paling ringan sekalipun'" — banyak orang yang dikeluarkan pada setiap tingkatan ini. (Muttafaq 'alayh, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat; dan jauhilah syirik, karena barangsiapa menghadap Allah dalam keadaan musyrik sungguh merugi — Allah berfirman: sesungguhnya syirik itu kezaliman yang besar." (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Penghuni Surga yang paling rendah kedudukannya dapat memandang kerajaannya sejauh seribu tahun perjalanan sebagaimana memandang yang paling dekat; dan yang paling tinggi kedudukannya adalah yang memandang Allah Ta'ala dua kali dalam sehari." (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Allah Ta'ala berfirman: 'Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kemiskinanmu; jika tidak, Aku penuhi dadamu dengan kesibukan dan tidak Aku tutup kemiskinanmu.'" (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Barangsiapa menjadikan seluruh kesusahannya sebagai satu kesusahan saja — yaitu kesusahan menghadap Allah di akhirat — maka Allah akan mencukupkan baginya kesusahan dunianya; barangsiapa kesusahannya bercabang dalam urusan dunia, Allah tidak peduli di lembah mana ia binasa." (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran selalu di pelupuk matanya, dan dunia yang datang kepadanya hanyalah yang telah ditetapkan baginya; barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan menyatukan urusannya dan menjadikan hatinya kaya, sedangkan dunia mendatanginya dalam keadaan tunduk." (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah diberikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang membuat manusia beriman kepadanya; adapun yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang Allah wahyukan — maka aku berharap menjadi Nabi yang pengikutnya paling banyak pada hari Kiamat." (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
Catatan penelitian
- Batas riwayat Tafsir Ibnu Abbas telah dikonfirmasi pada riwayat [809]–[850], QS 20:1–20:135, dan materi sumber menyatakan surah ini lengkap.
- Tafsir tentang istiwa pada Tafsir Jalalain dan Ibnu Taimiyah dipertahankan sebagai perbedaan pendekatan yang dinisbatkan kepada masing-masing sumber.
- Kutipan hadis yang panjang mengikuti aturan redaksi generator dan diarahkan kepada bagian Tafsir Ibnu Katsir untuk teks lengkap.
- Ringkasan publik mempertahankan tema utama dan rujukan sumber tanpa mengubah Wiki Ulama.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- طه
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah, tafsir, makkiyah, asbabun-nuzul