Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Hud

Surah Hud

Surah Hud adalah surah Makkiyah ke-11 dan terdiri dari 123 ayat. Surah ini menegaskan tauhid, istiqamah, pertanggungjawaban manusia, dan pola yang berulang dalam dakwah para nabi serta penolakan umat mereka.

Pokok bahasan

Tafsir Ibnu Abbas

Riwayat [620]–[648] pada materi sumber membahas QS 11:1–11:123. Riwayat tersebut menjelaskan banjir Nuh, tenggelamnya putra Nuh, kehancuran Tsamud, tamu Ibrahim, perjalanan Luth, azab kaum Madyan, akibat kezaliman, ahli Surga dan ahli Neraka, larangan condong kepada orang zalim, waktu shalat, serta perbedaan manusia antara yang mendapat rahmat dan yang mendapat hukuman.

Nuh dan bahtera

Nuh menyeru kaumnya untuk menyembah Allah dan memohon ampunan. Ketika perintah Allah datang, air memancar dari tannur sebagai tanda dimulainya banjir. Nuh menaikkan pasangan dari setiap jenis dan keluarganya yang beriman. Putranya menolak naik dan tenggelam. Hubungan darah tidak memberi keselamatan tanpa iman dan amal yang benar.

Para nabi dan umat mereka

Hud menyeru kaum Ad kepada tauhid dan meminta mereka memohon ampunan. Shalih menyeru Tsamud dan memberi tanda unta betina. Ibrahim menerima tamu malaikat yang membawa kabar gembira tentang Ishaq dan Ya'qub. Luth berhadapan dengan kaumnya yang melampaui batas. Syu'aib menyeru Madyan agar menyempurnakan takaran dan timbangan.

Setiap kisah menunjukkan pola yang sama: rasul menyampaikan kebenaran, kaum yang sombong menolak, orang beriman diselamatkan, dan orang yang terus berbuat zalim dibinasakan.

Istiqamah dan amal

Allah memerintahkan Nabi ﷺ dan orang yang bertobat bersamanya untuk istiqamah. Mereka tidak boleh melampaui batas dan tidak boleh condong kepada orang zalim. Shalat pada siang dan bagian malam, serta amal saleh, menjadi sebab terhapusnya keburukan-keburukan kecil.

Rahmat dan qadar

Manusia tidak berhenti berselisih kecuali orang yang Allah beri rahmat. Tafsir sumber mengaitkan dua kelompok manusia dengan ketetapan Allah tentang rahmat dan hukuman. Penjelasan ini dibaca bersama pembahasan qadar, tanggung jawab manusia, dan keadilan Allah dalam kitab-kitab tafsir yang dirujuk.

Tafsir ringkasan (Jalalain — Tafsir Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Asbabun Nuzul

Sebab turun ayat membahas orang munafik yang menyembunyikan diri, rezeki makhluk, seorang laki-laki yang mencium perempuan lalu bertobat, waktu shalat, dan perintah menegakkan kebenaran. Setiap riwayat dibaca bersama sumber dan penilaian sanadnya.

Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kisah para nabi pada surah ini berfungsi meneguhkan hati Nabi ﷺ. Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Syu'aib, dan Musa semuanya menghadapi penolakan, tetapi Allah menolong rasul dan orang yang mengikuti mereka.

Allah mengetahui rezeki setiap makhluk dan tidak menzalimi siapa pun. Istiwa Allah di atas Arsy ditetapkan sesuai wahyu tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. Ayat tentang perubahan keadaan kaum dibaca bersama ketaatan, dosa, pertobatan, dan ketetapan Allah.

Ayat 114 memerintahkan shalat dan menjelaskan bahwa kebaikan menghapus keburukan. Ayat 112–113 menggabungkan istiqamah dengan larangan condong kepada orang zalim. Penutup surah mengarahkan manusia kepada ibadah dan tawakal.

Tafsir Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah membahas Surah Hud dalam tema tauhid, sifat Allah, qadar, sabar, syukur, istiqamah, dan pola dakwah para rasul. Keselamatan tidak datang dari nasab atau klaim, tetapi dari iman, amal saleh, dan rahmat Allah.

Kisah para nabi menunjukkan bahwa pertolongan Allah memiliki sebab yang ditetapkan: dakwah, kesabaran, hijrah, doa, dan keteguhan. Pengakuan terhadap qadar tidak menghapus kewajiban beramal. Hamba tetap diperintah melakukan ketaatan dan meninggalkan dosa.

Catatan penelitian

Data sumber

jenis
surah
Arab
هود
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah, tafsir, makkiyah