Surah At-Tin
Surah At-Tin
Tema utama
- Pahala orang beriman yang beramal saleh kekal dan tidak berkurang.
- Orang beriman dikecualikan dari keadaan paling rendah, ardhal al-'umur atau kelemahan yang menghilangkan kemampuan.
- Riwayat Ibnu Abbas yang tersedia menekankan jaminan bahwa pahala tidak berkurang.
Terkait
Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Al-Insyirah | Al-A&
Asbabun nuzul dari Lubab An-Nuqul
Sumber: terjemahan Pustaka Al-Kautsar (2014). Penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid. Muhaqqiq: Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.
QS 95:5 — Manusia yang dikembalikan ke umur paling rendah
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Al-Ufi, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah, "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya." Al-Ufi berkata bahwa mereka adalah sekelompok orang yang dikembalikan ke umur paling rendah dan menjadi pikun pada masa Rasulullah ﷺ. Ketika mereka tidak lagi mampu beramal karena hilangnya akal, Allah memberikan uzur kepada mereka dan tetap mencatat pahala amal yang mereka lakukan sebelum kehilangan akal.
Takhrij: Diriwayatkan Ibnu Jarir (30/244) dan Ibnu Katsir (6/340). Lihat catatan kaki 1028.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Tafsir Ibnu Katsir
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i dalam 8 jilid. Tafsir bil-ma'tsur memuat rujukan silang Al-Quran, hadis dengan perawi dan kitab sumber, serta atsar ulama. Riwayat lemah dan Israiliyyat dihapus oleh peringkas, sedangkan penilaian hadis dicantumkan dalam catatan kaki.
Hadis pembuka: Nabi ﷺ membaca surah ini dalam salat
Malik dan Syu'bah meriwayatkan dari Adi bin Tsabit, dari Al-Barra' bin Azib, bahwa Nabi ﷺ pernah membaca At-Tin wa Az-Zaitun dalam salah satu rakaat salat dalam perjalanan. Al-Barra' berkata bahwa ia tidak pernah mendengar suara atau bacaan yang lebih baik daripada bacaan beliau. Hadis ini diriwayatkan oleh para penyusun kitab hadis.
QS 95:1–3 — Tiga sumpah Allah
Para mufasir berbeda pendapat tentang makna Tin dan Zaitun. Ada yang memahaminya sebagai buah, masjid Damaskus, gunung, Masjid Ashabul Kahfi, atau masjid Nabi Nuh di bukit Al-Judi. Ibnu Abbas menisbatkan Tin kepada masjid Nabi Nuh, sedangkan Mujahid menyebut buah tin. Zaitun dipahami sebagai Masjid Baitul Maqdis atau buah zaitun. Bukit Sinai adalah tempat Allah berbicara kepada Nabi Musa. Kota yang aman adalah Makkah, tanpa perbedaan pendapat dalam hal ini.
QS 95:4 — Manusia diciptakan dalam bentuk terbaik
Allah menciptakan manusia dalam wujud dan bentuk terbaik, dengan perawakan sempurna dan anggota badan yang normal. Inilah perkara yang ditegaskan oleh sumpah pada awal surah.
QS 95:5 — Dikembalikan ke tempat paling rendah
Ibnu Katsir menyebut pendapat Mujahid, Abu Al-Aliyah, Al-Hasan, Ibnu Zaid, dan ulama lain bahwa tempat paling rendah adalah neraka. Setelah penciptaan yang baik, orang yang tidak taat kepada Allah dan tidak mengikuti para rasul dimasukkan ke neraka.
QS 95:6 — Pengecualian bagi orang beriman
Orang yang beriman dan beramal saleh mendapatkan pahala yang tidak terputus. Pahala itu tetap diberikan meskipun kemampuan beramal berkurang karena sakit, bepergian, atau usia lanjut.
QS 95:7 — Apa yang menyebabkan pendustaan?
Allah bertanya kepada manusia apa yang menyebabkan mereka mendustakan pembalasan setelah mengetahui penciptaan pertama. Rabb yang mampu memulai penciptaan pasti mampu mengembalikannya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Mujahid menolak anggapan bahwa ayat ini ditujukan kepada Nabi ﷺ. Yang dimaksud adalah manusia.
QS 95:8 — Allah adalah hakim yang paling adil
Allah adalah hakim yang paling bijaksana. Dia tidak berbuat sewenang-wenang dan tidak menzalimi siapa pun. Keadilan-Nya termasuk mengadakan Hari Kiamat dan mengambil hak orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya.
Tafsir Ibnu Abbas
Sumber: Tafsir Ibnu Abbas, terjemahan Indonesia, melalui sanad Ali bin Abu Thalhah. Satu penjelasan telah dibaca.
Catatan pembacaan: Riwayat [1438] telah lengkap, berdasarkan verifikasi dengan naskah Arab asli pada 19 Juli 2026, halaman cetak/PDF 536. Ini adalah satu-satunya atsar untuk surah ini melalui sanad tersebut dan sesuai dengan wiki.
QS 95:6 — Makna ajrun ghayru mamnun
fa-lahum ajrun ghayru mamnun — Ibnu Abbas berkata: "Maksudnya adalah pahala yang tidak berkurang."
Atsar [1438]. Sanad melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan Ath-Thabari dalam Jami' Al Bayan 'An Ta'wil Ayi Al-Qur'an (jilid 30, halaman 159).
Catatan penyusun menyebut bahwa tidak ditemukan riwayat dari Ibnu Abbas tentang tafsir Surah Al-'Alaq, Al-Qadar, dan Al-Bayyinah dalam sumber-sumber yang diperiksa.
Tafsir Ibnu Taimiyah
Sumber: Majmu& jilid 14, Pustaka Azzam 2008, halaman 67–83. Ibnu Taimiyah membahas Surah At-Tin dalam tafsir surah-surah pendek di akhir mushaf, terutama makna asfala safilin* pada ayat 5 dan susunan retorika sumpah serta pembalasan pada ayat 7–8.*
Pengantar
Ibnu Taimiyah membagi pembahasan menjadi dua: perdebatan tentang makna asfala safilin dan analisis retorika ayat 7–8 sebagai penutup surah. Ia menguatkan pendapat bahwa asfala safilin berarti azab setelah kematian, bukan usia lanjut.
Tafsir ayat utama
Pada ayat 4–6, Ibnu Taimiyah menyebut dua pendapat. Pendapat pertama memahami asfala safilin sebagai usia lanjut dan kepikunan. Pendapat kedua, yang ia kuatkan, memahami istilah itu sebagai azab setelah kematian, yaitu Sijjin.
Ia menguatkan pendapat kedua dengan beberapa alasan: tidak semua orang kafir mengalami usia sangat tua; banyak mukmin juga berumur panjang dan keadaan mereka lebih baik daripada orang kafir; anak kecil tidak berada dalam keadaan asfala safilin; dan pengecualian bagi orang beriman tidak tepat jika dimaknai sebagai pengecualian yang terputus dari struktur kalimat positif.
Dalil pendukungnya adalah QS Al-Muthaffifin [83]:7 tentang kitab orang durhaka di Sijjin, QS Al-Muthaffifin [83]:18 tentang kitab orang berbakti di Illiyyin, dan QS An-Nisa [4]:145 tentang orang munafik di tingkatan paling bawah neraka. Ibnu Taimiyah menggunakan tafsir Al-Quran dengan Al-Quran.
Pada ayat 7–8, pertanyaan famaa yukadzdzibuka ba'du bid-din dipahami sebagai ungkapan keheranan dan penghinaan: golongan macam apa yang mendustakan Hari Pembalasan setelah semua dalil ini? Ayat alaisallahu bi-ahkamil haakimin menunjukkan bahwa Allah memutuskan antara orang yang membenarkan dan mendustakan Hari Pembalasan.
Hadis yang dikutip
| Perawi | Isi | Sumber | Derajat | |---|---|---|---| | Abu Musa Al-Asy'ari | Allah mencatat bagi hamba yang sakit atau bepergian pahala amal yang biasa ia kerjakan ketika sehat dan bermukim. | Shahih Bukhari dan Abu Dawud | Sahih | | Tanpa perawi khusus | Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Quran seperti buah delima, dan mukmin yang tidak membacanya seperti kurma. | Bukhari dan Muslim | Sahih |
Catatan manhaj dan fikih
- Ibnu Taimiyah menilai asfala safilin pada QS At-Tin [95]:5 sebagai azab setelah kematian berdasarkan hubungan internal dengan ayat-ayat Al-Quran lainnya.
- Pahala mukmin yang tidak mampu beramal karena uzur tetap dicatat berdasarkan hadis Abu Musa Al-Asy'ari. Prinsip ini berasal dari Sunnah dan bukan dari At-Tin secara langsung.
- Ibnu Taimiyah membandingkan At-Tin dengan Al-Asr. At-Tin menyebut azab yang konkret, sedangkan Al-Asr menyebut kerugian. Orang beriman yang beramal saleh tidak diazab meskipun dapat mengalami kerugian duniawi.
Ulama yang dirujuk
- Ibrahim An-Nakha& — memahami asfala safilin sebagai usia lanjut, pendapat yang ditolak Ibnu Taimiyah.
- Ibnu Qutaibah — tafsir tentang pengecualian orang beriman pada ayat 6.
- Ibnu Abbas — atsar tentang pembaca Al-Quran yang tidak dikembalikan ke kondisi lemah.
- Abu Ja'far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari — dikutip dalam rantai mufasir.
- Mujahid, Qatadah, dan Al-Farra& — dikutip dalam pembahasan tafsir asfala safilin.
Pertanyaan terbuka
- Makna Tin dan Zaitun, apakah buah atau tempat di Syam, Palestina, atau Mesir, perlu diperiksa melalui tafsir lain.
- Kualitas riwayat Al-Ufi dari jalur Ibnu Abbas perlu diteliti karena Al-Ufi adalah perawi yang diperselisihkan.
- Surah Al-'Alaq, Al-Qadar, dan Al-Bayyinah tidak memiliki riwayat dari Ibnu Abbas dalam edisi Tafsir Ibnu Abbas yang dimiliki, tetapi ketiganya memiliki asbabun nuzul tersendiri dalam Lubab An-Nuqul.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- التين
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah