Tanya Salaf
Quran · ID

Surah An-Nahl

Surah An-Nahl

Surah An-Nahl adalah surah Makkiyah ke-16 dan terdiri dari 128 ayat. Surah ini menyebut berbagai nikmat Allah, membantah syirik, menjelaskan wahyu dan tugas para rasul, memerintahkan keadilan, menegaskan halal dan haram, serta mengajarkan sabar dalam dakwah.

Pokok bahasan

Tafsir Ibnu Abbas

Riwayat [699]–[723] pada materi sumber membahas QS 16:2, 16:5, 16:9, 16:11, 16:14, 16:23–24, 16:48, 16:60, 16:67, 16:72, 16:90–92, 16:97, dan 16:106. Riwayat tersebut menjelaskan wahyu, jalan yang lurus, nikmat ternak dan hujan, laut, bayangan yang bersujud, keesaan Allah, kehidupan baik, dan hukum orang yang dipaksa mengucapkan kekufuran.

Nikmat penciptaan

Allah menciptakan manusia dari setetes mani, hewan untuk kehangatan, makanan, keindahan, dan kendaraan, serta menurunkan air hujan yang menumbuhkan tanaman. Laut memberi daging, perhiasan, dan jalan bagi kapal. Gunung, bintang, dan tanda-tanda di bumi membantu manusia mengenali kekuasaan Allah.

Tauhid dan jalan yang lurus

Jalan yang lurus adalah jalan yang Allah tetapkan. Jalan-jalan yang menyimpang membawa manusia jauh dari kebenaran. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Sesembahan selain Allah tidak menciptakan, tidak mengetahui, dan tidak mampu memberi manfaat atau mudarat.

Keadilan dan sumpah

QS 16:90 memerintahkan keadilan, ihsan, dan pemberian kepada kerabat. Ayat ini melarang perbuatan keji, mungkar, dan permusuhan. Sumpah harus dipenuhi dan tidak boleh dijadikan alat penipuan atau pengkhianatan. Perumpamaan orang yang mengurai benang setelah kuat memperingatkan kerusakan akibat melanggar janji.

Kehidupan baik dan paksaan

Orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh kehidupan yang baik serta pahala yang lebih baik. Orang yang dipaksa mengucapkan kekufuran sementara hatinya tetap tenang dalam iman tidak sama dengan orang yang membuka dadanya bagi kekufuran. Allah mengetahui keadaan hati dan alasan setiap hamba.

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Asbabun Nuzul

Sebab turun ayat membahas seruan tauhid, hijrah kaum Muhajirin, makar orang-orang musyrik, pemenuhan sumpah, perumpamaan wanita yang mengurai benang, tuduhan bahwa Nabi ﷺ belajar dari manusia, paksaan dalam kekufuran, kesabaran kaum yang berhijrah, dan larangan melampaui batas dalam pembalasan.

Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tanda-tanda penciptaan pada surah ini membantah syirik. Allah mengutus setiap umat seorang rasul dengan seruan menyembah Allah dan menjauhi thaghut. Para rasul adalah manusia, sehingga manusia tidak memiliki alasan untuk menolak risalah hanya karena pembawanya bukan malaikat.

Ayat 90 menjadi salah satu ayat paling luas dalam menjelaskan akhlak: keadilan, ihsan, silaturahmi, dan larangan keji serta permusuhan. Ayat 97 menjanjikan kehidupan yang baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Kehidupan baik mencakup ketenangan, rezeki yang halal, dan kepuasan terhadap ketetapan Allah.

Larangan makanan mencakup bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih untuk selain Allah. Tidak boleh menghalalkan atau mengharamkan sesuatu berdasarkan pendapat tanpa ilmu. Dalam dakwah, seorang dai menyampaikan kebenaran dan mengambil sebab, sedangkan hidayah hati berada di tangan Allah.

Tafsir Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah menjelaskan hubungan antara jalan yang lurus, hidayah, dan kehendak Allah. Allah menerangkan jalan kebenaran dan menetapkan syariat, sedangkan hidayah taufik diberikan kepada siapa yang Allah kehendaki. Hal ini tidak menghapus tanggung jawab manusia untuk beriman, belajar, dan beramal.

Turunnya Al-Quran melalui Ruhul Qudus menunjukkan bahwa wahyu berasal dari Allah. Wahyu menjelaskan halal, haram, janji, ancaman, dan jalan keselamatan. Sabar dalam dakwah membutuhkan pertolongan Allah dan tidak boleh berubah menjadi pemaksaan terhadap hati manusia.

Catatan penelitian

Data sumber

jenis
surah
Arab
النحل
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah, tafsir, makkiyah