Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Al-Kahfi

Surah Al-Kahfi

Surah Al-Kahfi adalah surah Makkiyah ke-18 dan terdiri dari 110 ayat. Surah ini memuat kisah Ashhabul Kahfi, pemilik dua kebun, perjalanan Musa bersama Khidhir, dan Dzulqarnain.

Pokok bahasan

Kaitan

Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Aqidah | Fiqh

Tafsir Ibnu Abbas

Ashhabul Kahfi

Para pemuda berlindung di dalam gua untuk menjaga agama mereka. Allah menidurkan mereka dalam waktu yang panjang lalu membangunkan mereka sebagai tanda kekuasaan-Nya atas kebangkitan.

Pemilik dua kebun

Orang yang memiliki dua kebun membanggakan harta dan hasil panennya, lalu meragukan kehancuran kebunnya. Temannya mengingatkan agar ia mengucapkan bahwa semua terjadi dengan kehendak Allah.

Musa dan Khidhir

Musa bertekad mencari tempat pertemuan dua lautan untuk belajar dari hamba yang Allah beri ilmu. Perjalanan ini mengajarkan bahwa ilmu manusia terbatas dan kesabaran diperlukan untuk memahami hikmah perbuatan yang belum diketahui.

Dzulqarnain

Dzulqarnain diberi kekuasaan dan sarana untuk berjalan di bumi. Ia berlaku adil, menolong kaum yang lemah, dan membangun dinding dari besi serta tembaga untuk menghalangi Ya'juj dan Ma'juj.

Asbabun Nuzul

QS 18:6

Nabi ﷺ sangat bersedih karena kaum musyrik menolak dakwah. Ayat ini menghibur beliau agar tidak membinasakan diri karena kesedihan atas penolakan mereka.

QS 18:23–24

Allah melarang seseorang memastikan akan melakukan sesuatu pada esok hari tanpa mengucapkan insya Allah. Jika lupa, ia mengingat Allah ketika teringat dan berharap mendapat petunjuk.

QS 18:28

Nabi ﷺ diperintahkan bersabar bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka pagi dan petang. Beliau tidak boleh memalingkan pandangan dari mereka demi perhiasan dunia.

QS 18:110

Amal yang diterima harus dilakukan dengan ikhlas untuk Allah dan bebas dari syirik.

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Tafsir Ibnu Katsir

Keutamaan dan pembukaan surah

Surah Al-Kahfi memuat empat kisah besar yang menjadi pelajaran tentang fitnah agama, harta, ilmu, dan kekuasaan. Al-Quran memberi peringatan kepada orang kafir dan kabar gembira kepada orang beriman.

Ashhabul Kahfi

Para pemuda itu hidup di tengah masyarakat yang menyembah selain Allah. Mereka menolak kesyirikan, lalu berlindung di gua. Allah menutup pendengaran mereka dan menidurkan mereka selama bertahun-tahun. Ketika dibangunkan, mereka mengira hanya tidur sehari atau sebagian hari.

Kisah mereka menunjukkan bahwa Allah membolak-balikkan manusia dan menjaga orang yang menjaga agama. Jumlah mereka tidak perlu dipastikan tanpa dalil. Yang menjadi pelajaran adalah iman dan keteguhan mereka.

Pemilik dua kebun

Dua kebun yang subur membuat pemiliknya sombong. Ia berkata bahwa hartanya lebih banyak dan kelompoknya lebih kuat. Ia meragukan Hari Kiamat dan mengira kebunnya tidak akan binasa. Kebun itu hancur, lalu ia menyesal ketika penyesalan tidak lagi bermanfaat.

Musa dan Khidhir

Musa mencari hamba yang diberi rahmat dan ilmu khusus. Khidhir melubangi kapal orang miskin untuk menyelamatkannya dari raja yang merampas kapal, membunuh seorang anak karena khawatir ia menyeret orang tuanya kepada kedurhakaan, dan memperbaiki dinding milik dua anak yatim agar harta mereka tetap terjaga.

Peristiwa itu mengajarkan bahwa ilmu Allah mencakup hikmah yang belum diketahui manusia. Musa diminta bersabar dan tidak segera menilai sebelum penjelasan diberikan.

Dzulqarnain

Dzulqarnain diberi kekuasaan dan sarana. Ia menghukum orang zalim sesuai kezaliman dan memperlakukan orang beriman dengan baik. Ia membangun dinding dari potongan besi yang dipanaskan lalu dituangi tembaga untuk menahan Ya'juj dan Ma'juj sampai waktu yang Allah tentukan.

Hari Kiamat dan amal

Gunung-gunung dihancurkan, bumi diratakan, dan catatan amal dibentangkan. Orang yang amalnya tidak beriman dan tidak ikhlas akan rugi walaupun banyak perbuatannya. Orang yang berharap bertemu Rabbnya harus beramal shalih dan tidak mempersekutukan Allah dalam ibadah.

Tafsir Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah membahas Surah Al-Kahfi dalam Majmu' Fatawa, terutama celaan terhadap perdebatan yang menolak kewajiban dengan alasan takdir, perintah bersabar bersama orang beriman, dan hubungan antara melihat, mencari perhiasan dunia, serta menjaga hati.

Perkataan bahwa jiwa berada di tangan Allah benar secara makna, tetapi tidak boleh dipakai untuk menolak perintah shalat. Takdir adalah hujah Allah atas hamba, bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Kisah Al-Kahfi juga mengajarkan bahwa orang beriman harus menjaga hati dari mengejar perhiasan dunia dan tetap bersama orang yang mengingat Allah.

Catatan penelitian

Data sumber

jenis
surah
Arab
الكهف
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah, tafsir, makkiyah, asbabun-nuzul