Surah Al-Insyirah
Surah Al-Insyirah
Tema Utama
- Setelah selesai dari suatu urusan, seseorang hendaknya berdoa dengan sungguh-sungguh. Ini adalah penafsiran Ibnu Abbas yang menekankan doa sebagai amal lanjutan.
- Surah ini singkat, hanya 8 ayat, tetapi padat dengan makna tentang kelapangan dada dan kemudahan setelah kesulitan.
Terkait
Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Adh-Dhuha | At-Tin
Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul
Sumber: Terjemah Pustaka Al-Kautsar (2014), diterjemahkan oleh Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, ditahqiq oleh Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.
QS 94:6 — Orang Musyrik Menghina Kaum Muslimin karena Kemiskinan
Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang musyrik yang menghina kaum Muslimin karena kemiskinan mereka: "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS Al-Insyirah: 6).
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ bersabda: "Bergembiralah kalian semua. Telah datang kemudahan kepada kalian, dan satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan."
Takhrij: Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Al-Hasan secara mursal. Lihat Al-Qurthubi (10/7568), Ibnu Katsir (6/337), dan Ibnu Jarir (30/235).
⚠ Catatan manhaj: Riwayat Al-Hasan ini mursal karena tidak menyebutkan sahabat dalam sanadnya. Riwayat mursal diperselisihkan kehujjahannya dan umumnya dinilai lemah oleh ulama Salafi kecuali memiliki penguat. Riwayat ini dicantumkan untuk konteks dan tidak dijadikan sandaran tanpa konfirmasi sanad yang bersambung.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Tafsir Ibnu Katsir
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan Lubaab At-Tafsir oleh Alu Asy-Syaikh, terjemah Pustaka Imam Asy-Syafi'i, 8 jilid). Tafsir bil-ma'tsur: rujukan silang Al-Quran, hadis dengan perawi dan kitab, serta atsar ulama. Riwayat lemah dan Isra'iliyyat dihapus oleh penyunting; hadis dinilai dalam catatan kaki.
QS 94:1 — Kelapangan Dada
Allah menerangi dada Nabi ﷺ dengan cahaya-Nya dan menjadikannya lapang. Sebagaimana Allah melapangkan dada orang yang diberi petunjuk kepada Islam (QS Al-An'am: 125), syariat-Nya juga lapang, mudah, dan tidak mengandung kesempitan.
QS 94:2–3 — Menanggalkan Beban
Allah menghilangkan beban yang memberatkan punggung Nabi ﷺ. Ibnu Katsir mengaitkannya dengan QS Al-Fath: 2 tentang ampunan atas dosa yang lalu dan yang akan datang.
QS 94:4 — Ditinggikannya Sebutan Nabi ﷺ
Mujahid berkata bahwa nama Nabi ﷺ selalu disebut bersama kesaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Qatadah berkata bahwa Allah meninggikan sebutan beliau di dunia dan akhirat. Nama Nabi ﷺ disebut dalam setiap azan, syahadat, dan salat.
QS 94:5–6 — Bersama Kesulitan Ada Kemudahan
Allah memberitakan dan menegaskan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan.
"Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, karena bersama kesulitan pasti ada kemudahan." (Diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
⚠ Catatan manhaj: Riwayat ini berasal dari Al-Hasan Al-Bashri tanpa menyebutkan sahabat dalam sanadnya sehingga berstatus mursal. Ibnu Katsir menggunakannya sebagai penguat makna ayat.
Ibnu Katsir juga menjelaskan sisi bahasa: al-'usr disebut dalam bentuk tunggal dengan alif-lam sehingga menunjuk pada satu kesulitan, sedangkan al-yusr berbentuk nakirah dan dapat menunjukkan kemudahan yang berulang. Karena itu, satu kesulitan tidak mengalahkan dua kemudahan.
QS 94:7–8 — Bersungguh-sungguh dalam Urusan Berikutnya
Setelah selesai dari berbagai kesibukan dunia, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh dalam ibadah dengan hati yang tulus karena Allah. Ibnu Katsir mengutip hadis: "Tidak ada salat di hadapan makanan dan tidak ada pula salat dalam keadaan menahan buang air kecil dan besar." (HR Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad.)
Ibnu Mas'ud menafsirkan ayat ini sebagai kesungguhan dalam Qiyamullail setelah menunaikan kewajiban. Ali bin Abu Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas: setelah selesai, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa.
Tafsir Ibnu Abbas
Sumber: Tafsir Ibnu Abbas (terjemah Indonesia), melalui sanad Ali bin Abu Thalhah. Satu glos telah dibaca.
QS 94:7 — Makna “Fa-Idza Faraghta Fanshab”
Fa-idza faraghta fanshab — Ibnu Abbas: "Maksudnya adalah dalam berdoa."
Atsar [1437]. Sanad: Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan (Jilid 30, hlm. 151), Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim (Jilid 8, hlm. 455), dan As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Quran (Jilid 2, hlm. 56).
Pertanyaan Terbuka
- Makna kelapangan dada Nabi ﷺ dalam QS 94:1 perlu dibahas melalui sumber akidah lain.
- Penafsiran fa-idza faraghta fanshab sebagai doa adalah tafsir khusus Ibnu Abbas. Mufassir lain menafsirkannya sebagai beralih kepada ibadah lain. Ini dapat menjadi halaman perbandingan.
- Ayat 6 adalah satu-satunya entri asbabun nuzul yang dicantumkan As-Suyuthi untuk surah ini.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- الانشراح
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah