Surah Al-Hijr
Surah Al-Hijr
Surah Al-Hijr adalah surah Makkiyah ke-15 dan terdiri dari 99 ayat. Surah ini menegaskan pemeliharaan Al-Quran, penciptaan manusia dan jin, kisah Iblis, berita tentang umat terdahulu, serta perintah beribadah hingga datangnya ajal.
Pokok bahasan
- Al-Quran berada dalam penjagaan Allah.
- Penolakan orang kafir terhadap wahyu dan kebiasaan umat terdahulu mendustakan rasul.
- Penciptaan langit, bumi, gunung, tumbuhan, angin, dan hujan.
- Penciptaan Adam dari tanah liat dan penolakan Iblis untuk sujud.
- Rahmat dan azab Allah yang harus dihadapi dengan harap dan takut.
- Kisah tamu Ibrahim, kaum Luth, penduduk Aikah, dan penduduk Al-Hijr.
- Perintah berdakwah terang-terangan, bertasbih, bersujud, dan beribadah sampai yakin atau ajal datang.
Tafsir Ibnu Abbas
Riwayat [687]–[698] pada materi sumber membahas QS 15:1–15:99. Riwayat tersebut menjelaskan penciptaan Adam, keluasan ampunan dan pedihnya azab, kehancuran kaum Luth, pembagian Al-Quran oleh orang-orang yang menerima sebagian dan menolak sebagian, serta perintah menyampaikan dakwah secara terbuka.
Penciptaan dan pemeliharaan wahyu
Allah menciptakan manusia dari tanah liat yang berasal dari lumpur hitam yang dibentuk, sedangkan jin diciptakan dari api. Allah menyatakan bahwa Dia menurunkan Adz-Dzikr dan akan menjaganya. Pendustaan terhadap rasul bukan perkara baru, karena umat-umat sebelum mereka juga menolak para utusan.
Penciptaan alam
Langit memiliki buruj, bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, dan berbagai tumbuhan ditumbuhkan dengan ukuran yang diketahui Allah. Angin menjadi sebab pengawinan dan hujan, sedangkan khazanah segala sesuatu berada di sisi Allah. Allah menghidupkan dan mematikan, serta mengumpulkan orang-orang terdahulu dan yang kemudian.
Adam dan Iblis
Allah memberitahu para malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia dari tanah liat. Semua malaikat sujud ketika diperintah, kecuali Iblis. Ia menolak karena kesombongan dan meminta penangguhan sampai hari kebangkitan. Allah mengabulkannya sebagai ujian dan membiarkan Iblis menggoda manusia, sementara hamba-hamba Allah yang ikhlas tidak berada di bawah kekuasaannya.
Rahmat dan azab
Allah memerintahkan Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sekaligus menjelaskan bahwa azab-Nya sangat pedih. Rahmat tidak boleh membuat manusia merasa aman dari hukuman, dan rasa takut tidak boleh membuatnya berputus asa.
Para rasul dan umat terdahulu
Malaikat datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira dan berita tentang kehancuran kaum Luth. Kaum Luth menolak peringatan dan dibinasakan. Penduduk Aikah dan penduduk Al-Hijr juga mendustakan rasul. Kekayaan, bangunan, dan hasil usaha tidak dapat menahan keputusan Allah.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Kutipan sumber yang telah diperiksa
Orang-orang mukmin akan terbebas dari Neraka, ditahan sejenak di atas jembatan antara Surga dan Neraka untuk saling membalas kezaliman yang pernah terjadi di antara mereka di dunia; setelah dibersihkan, barulah diizinkan masuk Surga. (Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
Nabi ﷺ mengumpamakan risalahnya seperti seorang pemberi peringatan yang melihat pasukan musuh dan menyeru kaumnya untuk segera mencari keselamatan — sebagian mematuhi dan selamat, sebagian mendustakan dan binasa; demikian pula perumpamaan orang yang taat dan yang mendurhakai apa yang beliau sampaikan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jaminan Allah atas Al-Quran mencakup penjagaan dari perubahan dan kebatilan. Huruf muqatta'ah pada pembukaan surah menjadi bagian dari tantangan Al-Quran, sedangkan permintaan orang kafir untuk melihat malaikat tidak lahir dari kejujuran mencari petunjuk.
Kisah Iblis menunjukkan bahwa dosa dapat bermula dari kesombongan dan pembelaan terhadap asal-usul diri. Iblis diberi penangguhan, tetapi ia tidak memiliki kekuasaan atas hamba yang ikhlas. Kisah kaum Luth, Aikah, dan Al-Hijr mengajarkan bahwa kekuatan dan kemajuan tidak menyelamatkan umat yang terus-menerus mendustakan kebenaran.
Ayat 97–99 mengajarkan Nabi ﷺ untuk bertasbih dan beribadah ketika dada terasa sempit karena penolakan manusia. Kewajiban ibadah tetap berlangsung sampai ajal, bukan gugur karena seseorang mengaku telah mencapai pengetahuan batin.
Tafsir Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jalan yang lurus adalah jalan yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya. Hidayah yang berupa penjelasan berbeda dari hidayah taufik yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah menjelaskan jalan, mengutus rasul, dan memberi manusia kemampuan memilih, sedangkan taufik untuk beriman berada di tangan Allah.
Penutup surah menggabungkan tasbih, sujud, dan ibadah. Pengetahuan tidak pernah menggugurkan kewajiban ibadah selama seseorang masih hidup dan berakal. Jalan keselamatan tetap dibangun dengan wahyu, iman, dan amal.
Asbabun Nuzul
Riwayat sebab turun ayat membahas orang-orang yang mendahului atau terlambat dalam shalat, hilangnya dendam dari hati penghuni Surga, serta percakapan tentang luasnya rahmat dan kerasnya azab Allah. Setiap riwayat dibaca bersama sumber dan penilaian sanadnya.
Catatan penelitian
- Riwayat tentang berita umat terdahulu dibaca sesuai atribusinya dan tidak dijadikan dasar akidah tanpa dalil yang sahih.
- Keseimbangan antara harap dan takut merupakan tema yang berulang dalam surah ini.
- Ringkasan publik mempertahankan tema utama dan rujukan sumber tanpa mengubah Wiki Ulama.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- الحجر
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah, tafsir, makkiyah