Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Al-Hasyr

Surah Al-Hasyr

Surah ke-59, Madaniyah, dua puluh empat ayat. Surah ini membahas pengusiran Bani Nadhir, hukum harta fai', keutamaan kaum Muhajirin dan Anshar, bahaya kemunafikan, serta rangkaian nama dan sifat Allah pada penutup surah.

Tafsir Ibnu Abbas

Sumber: terjemahan Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas. Surah ini memuat satu riwayat, yaitu [1274], yang telah diverifikasi dari sumber cetak.

QS 59:22–23 — Makna Al-Muhaymin

[1274] Ibnu Abbas menjelaskan Al-Muhaymin dengan dua makna: Asy-Syahid, Yang Maha Menyaksikan, dan Al-Amin, Yang Maha Tepercaya. Ayat ini berada dalam rangkaian nama Allah: Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, dan Yang memiliki segala keagungan.

Tema utama

Terkait

Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Ali bin Abu Thalhah | Ibnu Katsir | Tafsir | Asmaul Husna | Tauhid

Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul

Sumber: terjemahan Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahqiq Hamid Ahmad Thahir al-Bayyumi.

QS 59:1–2 — Pengusiran Bani Nadhir

Surah Al-Hasyr diturunkan berkenaan dengan Bani Nadhir, kelompok Yahudi di sekitar Madinah yang melanggar perjanjian dengan Rasulullah ﷺ lalu diusir.

QS 59:5 — Penebangan pohon kurma

Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan pemotongan dan pembakaran pohon kurma Bani Nadhir, kaum munafik mempertanyakan tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai kerusakan. Allah menjelaskan bahwa pohon yang ditebang atau dibiarkan berdiri dilakukan dengan izin-Nya.

QS 59:9 — Itsar kaum Anshar

Seorang Muhajirin yang lapar datang kepada Rasulullah ﷺ. Seorang Anshar menjamunya meskipun makanan di rumahnya hanya cukup untuk anak-anaknya. Ia dan istrinya mematikan lampu dan berpura-pura makan agar tamunya dapat makan sampai kenyang, sementara keduanya tidur dalam keadaan lapar. Ayat ini memuji kaum Anshar yang mendahulukan kaum Muhajirin.

QS 59:11–12 — Janji dusta kaum munafik

Kaum munafik berjanji kepada Bani Nadhir bahwa mereka akan ikut jika Bani Nadhir diusir dan akan menolong jika diperangi. Ketika pengusiran terjadi, mereka tidak memenuhi janji. Ayat ini menyingkap kedustaan mereka.

Ringkasan Tafsir Jalalain

Jalalain menjelaskan bahwa Bani Nadhir diusir dari benteng mereka setelah menentang Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak menyangka hukuman datang dari arah yang tidak mereka perhitungkan. Rumah-rumah mereka dirusak oleh tangan mereka sendiri dan kaum mukmin. Pohon kurma yang ditebang atau dibiarkan berdiri berada dalam izin Allah untuk menghinakan orang fasik.

Harta fai' diperoleh tanpa pengerahan kuda dan unta. Harta itu dibagikan kepada Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil agar tidak hanya beredar di antara orang kaya.

Kaum Anshar mencintai kaum Muhajirin, tidak menginginkan harta yang diberikan kepada mereka, dan mendahulukan kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri membutuhkan. Orang yang dijaga dari kekikiran dirinya adalah orang yang beruntung.

Penutup surah menyebut Allah sebagai Yang Awal, Yang Akhir, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Al-Muhaymin, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang memiliki segala keagungan, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, dan Yang Membentuk rupa.

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Tafsir Ibnu Katsir

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.

QS 59:1–4 — Pengusiran Bani Nadhir

Semua yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada Allah. Bani Nadhir adalah kelompok Yahudi yang memiliki perjanjian dengan Rasulullah ﷺ, tetapi mereka melanggarnya. Allah menimpakan rasa takut kepada mereka sehingga mereka meninggalkan rumah dan harta. Mereka merusak sebagian rumah sebelum pergi agar tidak digunakan kaum muslimin.

Pengusiran di dunia lebih ringan daripada pembunuhan dan penawanan. Di akhirat mereka memperoleh azab karena menentang Allah dan Rasul-Nya serta mendustakan berita tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ.

QS 59:5–7 — Pohon kurma dan harta fai'

Allah mengizinkan penebangan sebagian pohon kurma Bani Nadhir. Peristiwa ini bukan kerusakan yang terlarang karena terjadi dengan izin Allah dan bertujuan menghinakan orang fasik.

Harta fai' adalah harta yang diperoleh tanpa pertempuran. Harta Bani Nadhir diberikan kepada Rasulullah ﷺ untuk diatur, lalu disalurkan kepada pihak yang disebutkan ayat: Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil. Prinsipnya, harta tidak hanya beredar di antara orang kaya.

QS 59:8–10 — Muhajirin, Anshar, dan generasi setelahnya

Kaum Muhajirin meninggalkan rumah dan harta demi mencari karunia serta keridaan Allah. Kaum Anshar mencintai mereka, tidak iri terhadap bagian yang diterima, dan mendahulukan mereka meskipun membutuhkan. Inilah itsar.

Kelompok ketiga adalah orang yang datang setelah Muhajirin dan Anshar. Mereka berdoa agar Allah mengampuni diri mereka dan saudara-saudara yang lebih dahulu beriman serta menghilangkan kedengkian dari hati mereka.

QS 59:11–17 — Kedustaan kaum munafik

Kaum munafik berjanji akan menolong Bani Nadhir, tetapi janji itu dusta. Mereka tidak menolong ketika Bani Nadhir diusir. Perumpamaan mereka seperti setan yang berkata kepada manusia, "Kafirlah", lalu ketika manusia itu kafir, setan berkata, "Aku berlepas diri darimu." Keduanya berakhir di neraka.

QS 59:18–21 — Takwa dan pengaruh Al-Qur'an

Orang beriman diperintah bertakwa dan memperhatikan amal yang disiapkan untuk hari esok. Mereka tidak boleh seperti orang yang melupakan Allah lalu Allah menjadikan mereka melupakan diri sendiri.

Seandainya Al-Qur'an diturunkan kepada gunung, gunung itu akan tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah. Perumpamaan ini mendorong manusia memahami keagungan Al-Qur'an dan merendahkan diri di hadapan wahyu.

QS 59:22–24 — Nama-nama Allah

Allah adalah satu-satunya Tuhan. Dia mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak. Dia adalah Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang memiliki segala keagungan, Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, dan Yang Membentuk rupa.

Ibnu Abbas menafsirkan Al-Muhaymin sebagai Yang Maha Menyaksikan atau Yang Maha Tepercaya. Nama-nama ini menegaskan kesempurnaan Allah dan kesucian-Nya dari segala bentuk kesyirikan.

Pertanyaan terbuka

Data sumber

jenis
surah
Arab
الحشر
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah