Surah Al-Ghasyiyah
Surah Al-Ghasyiyah
Surah ke-88, Makkiyah, dua puluh enam ayat. Al-Ghasyiyah adalah salah satu nama Hari Kiamat. Surah ini menggambarkan keadaan penghuni neraka dan surga, mengajak manusia memperhatikan ciptaan Allah, dan menjelaskan bahwa tugas Rasulullah ﷺ adalah memberi peringatan.
Tafsir Ibnu Abbas
Sumber: terjemahan Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas. Riwayat [1412]–[1417] telah diverifikasi dari sumber cetak.
QS 88:1 — Makna Al-Ghasyiyah
[1412] Al-Ghasyiyah adalah salah satu nama Hari Kiamat yang diagungkan Allah dan diperingatkan kepada hamba-hamba-Nya.
QS 88:2 — Wajah-wajah yang tunduk dan kepayahan
[1413] Wajah-wajah yang tunduk, terhina, dan kepayahan ditafsirkan sebagai orang-orang Nasrani. Para ulama berbeda tentang cakupan tafsir ini; sebagian menjadikannya khusus dan sebagian memahaminya secara umum untuk semua orang kafir.
QS 88:5 — Pohon dari neraka
[1414] Makanan penghuni neraka yang berduri adalah pohon dari neraka.
[1415] Dalam riwayat lain, pohon tersebut disebut sebagai pohon yang berduri.
QS 88:15 — Bantal-bantal yang tersusun
[1416] Muthabilah berarti bantal-bantal yang tersusun.
QS 88:22 — Rasulullah ﷺ tidak berkuasa memaksa
[1417] Rasulullah ﷺ bukan orang yang dapat bertindak sewenang-wenang atas manusia. Tugas beliau adalah menyampaikan peringatan.
Tema utama
- Al-Ghasyiyah adalah salah satu nama Hari Kiamat.
- Penghuni neraka mengalami kehinaan, kepayahan, minuman yang sangat panas, dan makanan dari pohon berduri.
- Penghuni surga mendapat wajah yang berseri, mata air yang mengalir, tempat duduk yang tinggi, bantal tersusun, dan permadani yang terhampar.
- Unta, langit, gunung, dan bumi menunjukkan kekuasaan serta keesaan Allah.
- Rasulullah ﷺ memberi peringatan dan tidak memaksa manusia untuk beriman.
Terkait
Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Al-Fajr
Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul
Sumber: terjemahan Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahqiq Hamid Ahmad Thahir al-Bayyumi.
QS 88:17 — Unta sebagai tanda kekuasaan Allah
Ketika Allah menyebutkan kenikmatan surga, orang-orang sesat merasa heran dan mempertanyakan bagaimana seseorang dapat menaiki permadani yang terhampar. Maka Allah menurunkan ayat yang memerintahkan manusia memperhatikan unta dan cara penciptaannya.
Surah Al-Ghasyiyah juga dibaca oleh Rasulullah ﷺ dalam shalat Id dan shalat Jumat, berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim.
Ringkasan Tafsir Jalalain
Jalalain menjelaskan Al-Ghasyiyah sebagai Hari Kiamat yang meliputi seluruh makhluk dengan kengerian. Wajah orang kafir tunduk dan hina, mereka bekerja keras dalam kesesatan lalu kepayahan di neraka. Mereka diberi minum dari sumber yang sangat panas dan memakan pohon berduri yang tidak menggemukkan serta tidak menghilangkan lapar.
Wajah orang beriman berseri karena melihat pahala amal mereka. Mereka berada di surga yang tinggi, tidak mendengar perkataan sia-sia, dan memperoleh mata air, tempat duduk yang ditinggikan, gelas yang tersedia, bantal tersusun, serta permadani yang terhampar.
Allah mengajak manusia memperhatikan unta, langit, gunung, dan bumi sebagai bukti kekuasaan dan keesaan-Nya. Rasulullah ﷺ diperintahkan memberi peringatan. Beliau tidak menguasai hati manusia dan tidak dapat menciptakan iman di dalam hati mereka.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Tafsir Ibnu Katsir
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.
QS 88:1 — Nama Hari Kiamat
Al-Ghasyiyah adalah salah satu nama Hari Kiamat karena peristiwa itu meliputi seluruh manusia. Surah ini mengingatkan manusia tentang dua kelompok: orang yang sengsara dan orang yang bahagia.
QS 88:2–7 — Keadaan penghuni neraka
Wajah penghuni neraka tunduk dan terhina. Mereka kepayahan karena amal yang tidak bermanfaat atau karena maksiat yang mereka kerjakan, lalu masuk ke dalam api yang sangat panas. Mereka diberi minum dari sumber yang mendidih dan memakan dharii', pohon berduri yang beracun serta tidak menghilangkan lapar.
Ibnu Abbas menafsirkan orang yang bekerja keras dan kepayahan sebagai orang Nasrani. Ikrimah dan As-Suddi menafsirkannya secara lebih umum sebagai orang yang bermaksiat di dunia lalu mendapat azab. Kedua pendapat ini disebutkan dalam sumber tanpa tarjih tambahan.
QS 88:8–16 — Keadaan penghuni surga
Wajah penghuni surga berseri karena mereka ridha terhadap amal dan pahala yang mereka lihat. Mereka berada di surga yang tinggi, tidak mendengar perkataan sia-sia, dan menikmati mata air yang mengalir, tempat duduk yang tinggi, gelas yang tersedia, bantal yang tersusun, serta permadani yang terhampar.
QS 88:17–20 — Tanda-tanda kekuasaan Allah
Allah memerintahkan manusia memperhatikan unta, langit, gunung, dan bumi. Unta memiliki kekuatan besar sekaligus mudah ditundukkan untuk membawa beban. Langit ditinggikan, gunung ditegakkan, dan bumi dihamparkan. Semua itu menunjukkan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta.
QS 88:21–22 — Tugas Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ diperintahkan memberi peringatan. Beliau tidak dapat menciptakan iman di dalam hati manusia dan tidak berkuasa memaksa mereka. Beliau menyampaikan wahyu, sedangkan hisab dan balasan berada di sisi Allah.
QS 88:23–26 — Ancaman dan hisab
Orang yang berpaling dari peringatan dan kufur akan mendapat azab yang besar. Semua manusia kembali kepada Allah. Allah menghisab amal mereka dan memberi balasan sesuai amal tersebut.
Tafsir Ibnu Taimiyah dari Majmu& Jilid 13
Ibnu Taimiyah membahas awal Surah Al-Ghasyiyah dalam pembahasan tafsirnya. Ia menyebut perbedaan pendapat tentang orang-orang yang wajahnya tunduk, bekerja keras, dan kepayahan. Sebagian ulama mengaitkannya dengan ahli ibadah dari kalangan kafir yang beramal tanpa iman, sedangkan pendapat lain mengaitkannya dengan orang yang mengikuti kebidahan atau maksiat.
Pembahasan tersebut menekankan bahwa amal yang tampak banyak tidak memberi manfaat jika tidak dibangun di atas iman dan mengikuti kebenaran. Penilaian rinci tetap dikembalikan kepada sumber Majmu&.
Pertanyaan terbuka
- Cakupan tafsir Ibnu Abbas tentang orang Nasrani pada QS 88:2 perlu dibandingkan dengan tafsir yang menjadikannya umum untuk semua orang kafir.
- Penjelasan ayat 8–14 tentang kenikmatan surga dapat dikembangkan melalui seluruh riwayat Tafsir Ibnu Katsir.
- Asbabun nuzul QS 88:17 lebih tepat dicatat sebagai sebab umum yang berkaitan dengan perenungan terhadap ciptaan Allah.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- الغاشية
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah