Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Al-Fath

Surah Al-Fath

Surah ke-48, Madaniyah, dua puluh sembilan ayat. Surah ini membahas kemenangan yang nyata melalui perjanjian Hudaibiyah, baiat Ar-Ridhwan, ketenangan dan tingkatan iman, serta sifat Rasulullah ﷺ dan para Sahabat beliau.

Tafsir Ibnu Abbas

Sumber: Tafsir Ibnu Abbas, terjemahan Indonesia melalui jalur Ali bin Abu Thalhah. Riwayat yang dihimpun pada halaman ini adalah [1166]–[1172].

QS 48:4 — Ketenangan dan tahapan iman

[1166] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ dengan syahadat la ilaha illallah. Setelah kaum mukmin membenarkannya, Allah menambah kewajiban shalat, puasa, zakat, haji, dan jihad hingga agama mereka sempurna.

Dalam riwayat tambahan, keimanan yang paling kokoh, benar, dan sempurna adalah syahadat la ilaha illallah.

QS 48:5 — Ketenangan berarti rahmat

[1167] As-sakinah berarti rahmat.

QS 48:5 — Struktur gramatikal ayat

[1168] Ibnu Abbas menjelaskan penggunaan huruf lam pada frasa "supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga". Huruf waw tidak ditambahkan sebagai penghubung karena struktur ayat tersebut mengulang makna yang telah dijelaskan sebelumnya.

QS 48:16 — Kaum yang memiliki kekuatan besar

[1169] Kaum yang memiliki kekuatan besar dalam perintah jihad kepada orang-orang Badui yang tertinggal adalah bangsa Persia.

QS 48:26 — Kalimat takwa

[1170] Kalimat takwa adalah syahadat la ilaha illallah. Syahadat merupakan pangkal seluruh ketakwaan.

QS 48:29 — Tanda kebaikan pada wajah orang mukmin

[1171] Sima pada wajah orang-orang mukmin berarti kebaikan.

QS 48:29 — Sifat para Sahabat

[1172] Yang dimaksud dengan orang-orang yang bersama Muhammad ﷺ adalah para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka. Sifat mereka telah tercantum dalam Taurat dan Injil sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.

Tema utama

Terkait

Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Akidah | Muhammad | Al-Hujuraat

Ringkasan Tafsir Jalalain

Jalalain menjelaskan kemenangan yang nyata pada awal surah sebagai kemenangan atas Mekah dan negeri-negeri lain yang akan dicapai melalui jihad. Ampunan, pertolongan, dan pemantapan agama mengikuti kemenangan tersebut.

Allah menurunkan ketenangan kepada hati orang mukmin agar iman mereka bertambah. Dia memasukkan orang mukmin ke dalam surga dan mengazab orang munafik serta orang musyrik yang berprasangka buruk kepada-Nya.

Orang-orang yang berbaiat kepada Rasulullah ﷺ di Hudaibiyah adalah peserta Baiat Ar-Ridhwan. Tangan Allah di atas tangan mereka menunjukkan pengawasan, kekuasaan, dan pengetahuan Allah atas baiat mereka. Orang-orang Badui yang tertinggal meminta bagian rampasan Khaibar, padahal rampasan tersebut dijanjikan bagi peserta baiat.

Pada QS 48:26, kalimat takwa dijelaskan sebagai la ilaha illallah wa Muhammadur rasulullah. Pada QS 48:29, para Sahabat digambarkan tegas terhadap orang kafir, saling menyayangi, banyak rukuk dan sujud, serta memiliki tanda kebaikan pada wajah mereka.

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Tafsir Ibnu Katsir

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Indonesia Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Juz 26, halaman 421–468.

Konteks turunnya surah

Surah Al-Fath turun ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Hudaibiyah pada bulan Dzulqa'dah tahun keenam Hijriah. Kaum musyrik menghalangi beliau memasuki Masjidil Haram untuk umrah, lalu perjanjian Hudaibiyah ditetapkan. Perjanjian itu menjadi kemenangan karena kaum mukmin dapat berkumpul, berdialog, menyebarkan ilmu, dan menyampaikan iman.

QS 48:1–3 — Kemenangan yang nyata

Kemenangan yang nyata adalah perjanjian Hudaibiyah. Sebagian Sahabat menyebut Baiat Ar-Ridhwan sebagai kemenangan, sedangkan pembebasan Mekah juga merupakan kemenangan. Ampunan pada QS 48:2 adalah kekhususan Rasulullah ﷺ. Pertolongan Allah datang karena ketundukan beliau kepada perintah Allah.

QS 48:4–7 — Ketenangan dan tingkatan iman

Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang mukmin. Ayat ini menjadi dalil bahwa iman memiliki tingkatan dan dapat bertambah. Allah memiliki tentara langit dan bumi, tetapi Dia memerintahkan kaum mukmin berjihad dengan hikmah yang Dia kehendaki. Orang beriman dijanjikan surga, ampunan, dan keberuntungan, sedangkan orang munafik dan musyrik mendapat azab karena prasangka buruk mereka kepada Allah.

QS 48:8–10 — Rasul sebagai saksi dan Baiat Ar-Ridhwan

Rasulullah ﷺ diutus sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan. Baiat di bawah pohon Samurah di Hudaibiyah adalah Baiat Ar-Ridhwan. Jumlah peserta disebutkan dalam beberapa riwayat, di antaranya 1.300, 1.400, dan 1.500 orang. Allah mengetahui kejujuran, kesetiaan, dan ketaatan mereka.

QS 48:11–16 — Orang Badui yang tertinggal

Orang-orang Badui yang tidak ikut ke Hudaibiyah beralasan bahwa mereka sibuk mengurus keluarga. Mereka menyangka Rasulullah ﷺ dan kaum mukmin tidak akan kembali. Ketika kaum mukmin memperoleh rampasan Khaibar, mereka meminta ikut, padahal rampasan tersebut telah dikhususkan bagi peserta Hudaibiyah.

Ibnu Abbas menafsirkan kaum yang memiliki kekuatan besar pada QS 48:16 sebagai bangsa Persia. Para ulama juga menyebut Hawazin, Tsaqif, dan Bani Hanifah sebagai pendapat lain.

QS 48:18–19 — Keridaan Allah kepada peserta baiat

Allah meridhai kaum mukmin yang berbaiat di bawah pohon. Mereka jujur, setia, mendengar, dan taat. Allah menurunkan ketenangan kepada mereka dan menjanjikan kemenangan yang dekat. Perjanjian tersebut membawa pembebasan Khaibar, pembebasan Mekah, dan manfaat yang luas bagi kaum mukmin.

QS 48:25–26 — Hikmah di balik tertahannya kaum mukmin

Kaum Quraisy menghalangi Rasulullah ﷺ memasuki Masjidil Haram. Di antara mereka terdapat laki-laki dan perempuan mukmin yang menyembunyikan iman. Allah menahan kaum mukmin agar mereka tidak membunuh orang-orang beriman yang belum mereka kenal.

Kesombongan kaum musyrik adalah penolakan untuk mengakui Rasulullah ﷺ dan penolakan menulis basmalah serta nama Rasulullah pada perjanjian. Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kaum mukmin serta mewajibkan kalimat takwa, yaitu la ilaha illallah. Kalimat ini juga dijelaskan sebagai keikhlasan dan syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

QS 48:27–28 — Benarnya mimpi Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bermimpi memasuki Mekah dengan aman, mencukur atau memendekkan rambut. Mimpi itu benar, meskipun pelaksanaannya terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah. Allah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan atas seluruh agama.

QS 48:29 — Sifat Rasulullah ﷺ dan para Sahabat

Muhammad ﷺ adalah utusan Allah. Para Sahabat bersikap tegas terhadap orang kafir dan saling menyayangi di antara mereka. Mereka banyak rukuk dan sujud, mengharap karunia serta keridaan Allah.

Tanda pada wajah mereka dari bekas sujud ditafsirkan sebagai kebaikan, kekhusyukan, ketawadukan, cahaya, atau tanda ibadah. Tafsir bahwa shalat malam menjadikan wajah tampan disebut dengan catatan bahwa dua hadis terkait dinilai lemah oleh Syekh Al-Albani menurut catatan kaki editor.

Perumpamaan mereka dalam Taurat dan Injil adalah tanaman yang mengeluarkan tunas, menjadi kuat, dan menyenangkan penanamnya. Orang yang mengikuti jalan para Sahabat masuk dalam keutamaan yang dijanjikan kepada mereka.

Kisah Hudaibiyah

Ibnu Katsir merangkum beberapa peristiwa penting: Utsman bin Affan diutus sebagai utusan ke Mekah; kabar bahwa beliau terbunuh memicu Baiat Ar-Ridhwan; Suhail bin Amr berunding dengan Rasulullah ﷺ; Abu Jandal datang dalam keadaan terikat; Ummu Salamah memberi saran agar Rasulullah ﷺ menyembelih kurban dan mencukur lebih dahulu; kaum mukmin melaksanakan umrah pada tahun ketujuh Hijriah; dan Urwah bin Mas'ud menyaksikan penghormatan para Sahabat kepada Rasulullah ﷺ.

Pertanyaan terbuka

Data sumber

jenis
surah
Arab
الفتح
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah