Surah Al-Falaq
Surah Al-Falaq
Surah ke-113, Makkiyah, lima ayat. Surah ini mengajarkan perlindungan kepada Allah, Rabb yang menguasai fajar, dari kejahatan seluruh makhluk, kegelapan malam, sihir, dan kedengkian.
Tafsir Ibnu Abbas
Sumber: terjemahan Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas.
QS 113:1 — Makna Al-Falaq
[1458] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa fajar atau Subuh adalah makhluk Allah. Rabb Al-Falaq berarti Rabb yang menguasai dan menciptakan fajar.
QS 113:3 — Kejahatan malam
[1459] Kejahatan malam ketika gelap gulita adalah ketika malam datang menghampiri.
QS 113 — Penutup daftar Makkiyah dan Madaniyah
[1460] Ibnu Abbas menyebut sejumlah surah yang turun di Madinah, di antaranya Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa', Al-Maa'idah, Al-Anfal, At-Taubah, Al-Hajj, An-Nur, Al-Ahzab, Al-Fath, Al-Hadid, Al-Mujadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, At-Taghabun, At-Thalaq, At-Tahrim, Al-Fajr, Al-Lail, Al-Qadr, Al-Bayyinah, Az-Zalzalah, dan An-Nasr. Surah selain yang disebutkan termasuk surah Makkiyah menurut riwayat tersebut.
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa daftar ini memiliki sanad yang sahih dari Ali bin Abu Thalhah. Ia juga menyebutkan Al-Hujuraat dan Al-Mu'awwidzatain, yaitu Al-Falaq dan An-Naas, dalam daftar surah Madaniyah pada riwayat lain.
Tema utama
- Al-falaq berarti fajar atau Subuh, yaitu salah satu makhluk Allah.
- Perlindungan mencakup kejahatan seluruh makhluk, baik yang berakal maupun yang tidak berakal.
- Malam ketika gelap, sihir yang ditiupkan pada buhul, dan kedengkian adalah bahaya yang disebutkan secara khusus.
- Al-Falaq dan An-Naas termasuk Al-Mu'awwidzatain, dua surah perlindungan.
- Perbedaan klasifikasi Makkiyah dan Madaniyah perlu dinilai dengan membandingkan seluruh riwayat.
Terkait
Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Al-Ikhlas | Tafsir | Ulumul Quran
Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul
Sumber: terjemahan Pustaka Al-Kautsar (2014), penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, tahqiq Hamid Ahmad Thahir al-Bayyumi.
Bagian sumber yang diperiksa memuat pembuka bab Al-Mu'awwidzatain, yaitu Al-Falaq dan An-Naas, beserta teks kedua surah. Tidak ditemukan narasi asbabun nuzul yang dapat dicatat untuk Al-Falaq pada bagian tersebut. Kemungkinan riwayat lain berada pada halaman sumber yang belum dihimpun.
Ringkasan Tafsir Jalalain
Jalalain menjelaskan bahwa al-falaq adalah waktu Subuh atau fajar. Perlindungan pada ayat kedua mencakup kejahatan seluruh makhluk, baik makhluk hidup yang berakal maupun yang tidak berakal, serta benda mati yang membahayakan seperti racun.
Kejahatan malam pada ayat ketiga mencakup malam ketika gelap dan waktu bulan purnama ketika bintang-bintang telah terbenam. Ayat keempat memohon perlindungan dari para penyihir perempuan yang meniupkan mantra pada buhul-buhul. Ayat kelima memohon perlindungan dari orang yang dengki ketika ia menampakkan kedengkian dan berusaha mewujudkannya.
Tafsir (Jalalain)
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Tafsir Ibnu Katsir
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Juz 30, halaman 578–579.
QS 113:2 — Kejahatan seluruh makhluk
Ayat "dari kejahatan makhluk-Nya" mencakup kejahatan seluruh makhluk tanpa pengecualian, baik makhluk yang berakal maupun yang tidak berakal.
QS 113:3 — Kejahatan malam ketika gelap
Para ulama menafsirkan al-ghasiq idza waqab sebagai malam ketika kegelapannya datang, waktu setelah matahari terbenam, atau bulan. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa bulan adalah salah satu tanda malam dan tidak bertentangan dengan tafsir malam.
Ibnu Katsir juga menyebut hadis Aisyah bahwa Nabi ﷺ menunjuk bulan lalu memerintahkan berlindung kepada Allah dari kejahatan bulan ketika terbenam. Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i; At-Tirmidzi menilainya hasan sahih.
QS 113:4 — Sihir dan buhul
Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, dan Adh-Dhahhak menafsirkan an-naffaatsaat fil-'uqad sebagai para penyihir yang membaca mantra dan meniupkan sihir pada buhul. Ibnu Katsir juga menyebut riwayat ruqyah Jibril kepada Nabi ﷺ dengan nama Allah, memohon kesembuhan dari penyakit, kedengkian, dan mata hasad.
QS 113:4–5 — Sihir yang menimpa Nabi ﷺ
Ibnu Katsir menyebut riwayat sahih bahwa Labid bin Al-A'sham menyihir Nabi ﷺ. Sihir itu memengaruhi keadaan fisik dan perbuatan lahiriah beliau, bukan wahyu dan akidah. Para ulama Ahlus Sunnah menerima riwayat ini dan menjelaskan bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan keterjagaan Nabi ﷺ dalam menyampaikan wahyu.
QS 113:5 — Kedengkian
Kejahatan orang yang dengki termasuk kejahatan yang dimohonkan perlindungan darinya. Konteks sihir dan kedengkian menunjukkan bahaya yang muncul dari jiwa yang memusuhi Rasulullah ﷺ.
Al-Mu'awwidzatain
Ibnu Katsir membahas Al-Falaq dan An-Naas sebagai dua surah perlindungan. Al-Falaq berkaitan dengan kejahatan yang datang dari luar, sedangkan An-Naas berkaitan dengan bisikan dan kejahatan yang tersembunyi dalam diri.
Tafsir Ibnu Taimiyah dari Majmu& Jilid 15
Sumber: Kumpulan Fatwa Ibnu Taimiyah, Pustaka Azzam 2008, Jilid 15, halaman 480–487 dan 536–539. Penilaian hukum, penilaian hadis, dan penisbatan pendapat mengikuti sumber yang dirujuk.
Makna Rabb Al-Falaq
Ibnu Taimiyah menyebut tiga pendapat tentang al-falaq: seluruh makhluk yang terbelah, segala ciptaan yang terbelah, dan fajar yang membelah kegelapan malam. Pendapat mayoritas adalah fajar. Ia menolak penafsiran bahwa al-falaq adalah lembah di Jahannam karena tidak memiliki dalil dari Nabi ﷺ, dasar bahasa yang kuat, dan hikmah yang jelas.
Makna Al-Ghasiq Idza Waqab
Ibnu Taimiyah memilih pendapat bahwa al-ghasiq idza waqab adalah bulan berdasarkan hadis Aisyah. Tafsir ini tetap berkaitan dengan malam karena bulan merupakan tanda malam dan kejahatan menyebar ketika malam tiba. Ia menolak tafsir bahwa al-ghasiq hanya berarti gerhana bulan karena hadis tersebut berbicara tentang bulan secara umum.
Sihir dan kedengkian
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para penyihir perempuan pada ayat keempat meniupkan sihir pada buhul. Sihir adalah sesuatu yang nyata dan memiliki pengaruh, bukan sekadar tipuan psikologis. Orang yang dengki pada ayat kelima mencakup kejahatan melalui mata hasad dan kezaliman.
Empat jenis perlindungan
- Apa yang diciptakan Allah: kejahatan seluruh makhluk.
- Malam ketika gelap: kejahatan yang menyebar pada malam hari.
- Para penyihir yang meniup buhul: kejahatan sihir yang tersembunyi dan teratur.
- Orang yang dengki: kejahatan niat buruk manusia.
Al-Falaq memohon perlindungan dari kejahatan yang datang dari luar, sedangkan An-Naas memohon perlindungan dari bisikan yang tersembunyi. Keduanya saling melengkapi sebagai doa perlindungan bagi orang beriman.
Hadis yang dikutip
| Perawi | Isi ringkas | Sumber | Penilaian | |---|---|---|---| | Aisyah | Nabi ﷺ memerintahkan berlindung dari kejahatan bulan ketika terbenam. | At-Tirmidzi dan An-Nasa'i | Hasan sahih menurut At-Tirmidzi | | Abu Hurairah | Al-ghasiq ditafsirkan sebagai bintang dalam salah satu pendapat. | Ibnu Jarir | Tidak disebutkan | | Riwayat muttafaq alaih | Matahari dan bulan adalah dua tanda yang dengannya Allah menakut-nakuti hamba-Nya. | Bukhari dan Muslim | Sahih |
Pertanyaan terbuka
- Riwayat Ibnu Abbas tentang ayat 2, 4, dan 5 tidak tercantum pada bagian sumber yang dihimpun.
- Perbedaan Makkiyah dan Madaniyah untuk Al-Falaq dan An-Naas perlu dibandingkan dengan seluruh riwayat.
- Hubungan Al-Falaq dan An-Naas dalam pembahasan perlindungan dapat dikembangkan pada halaman Ulumul Quran.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- الفلق
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran, aqidah
- tag
- quran, surah