Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Al-Adiyat

Surah Al-Adiyat

Tema Utama

Terkait

Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Az-Zalzalah

Asbabun Nuzul dari Lubab An-Nuqul

Sumber: Terjemah Pustaka Al-Kautsar (2014), diterjemahkan oleh Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid, ditahqiq oleh Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.

QS 100:1 — Nabi ﷺ Mengirim Pasukan Berkuda

Al-Bazzar, Ibnu Hatim, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ mengirim pasukan berkuda, tetapi selama sebulan tidak ada kabar. Maka turunlah ayat, "Demi kuda perang yang berlari dengan kencang." (QS Al-Adiyat: 1).

Takhrij: Dha'if. Al-Haitami (7/142) menyebut adanya Habib bin Ar-Rabi' yang lemah dalam sanad. Al-Qurthubi (10/7621) mencantumkannya. Ibnu Katsir (6/364) meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa pada Perang Badar belum ada pasukan berkuda, tetapi ada pada pengiriman pasukan setelahnya. Catatan kaki 1038–1039.

Catatan manhaj: Riwayat ini dinilai dha'if oleh Al-Haitami karena perawi Habib bin Ar-Rabi' lemah. Riwayat ini tidak boleh dijadikan sandaran untuk asbabun nuzul yang pasti dan dicantumkan untuk kelengkapan dokumentasi.

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Tafsir Ibnu Katsir

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir (ringkasan Lubaab At-Tafsir oleh Alu Asy-Syaikh, terjemah Pustaka Imam Asy-Syafi'i, 8 jilid). Tafsir bil-ma'tsur: rujukan silang Al-Quran, hadis dengan perawi dan kitab, serta atsar ulama. Riwayat lemah dan Isra'iliyyat dihapus oleh penyunting; hadis dinilai dalam catatan kaki.

QS 100:1–3 — Sumpah dengan Kuda Perang

Allah bersumpah dengan kuda yang jika dijalankan di jalan-Nya akan berlari dan meringkik. Meringkik adalah suara yang terdengar dari kuda ketika berlari. Kuda itu menyerang pada pagi hari. Jika Rasulullah ﷺ mendengar azan, beliau tidak menyerang; jika tidak mendengar, beliau menyerang.

QS 100:4–5 — Kuda di Medan Perang

Kuda menerbangkan debu di tempat pacunya dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.

QS 100:6–7 — Kekufuran dan Persaksian Manusia

Manusia sangat ingkar terhadap nikmat Allah. Qatadah dan Sufyan Ats-Tsauri menyatakan bahwa Allah menjadi saksi atas keingkaran itu. Dhamir juga dapat kembali kepada manusia, sehingga manusia menjadi saksi atas keingkarannya melalui ucapan dan perbuatannya.

QS 100:8 — Kecintaan kepada Harta

Manusia sangat mencintai harta dan menjadi tamak serta kikir karena kecintaan itu. Kedua makna tersebut benar.

QS 100:9–11 — Kebangkitan dan Pembalasan

Allah memperingatkan manusia agar tidak tergoda dunia dan lebih menyukai akhirat. Orang-orang yang telah meninggal dikeluarkan dari kubur, lalu apa yang mereka sembunyikan dalam diri ditampakkan. Allah mengetahui semua perbuatan mereka dan membalasnya tanpa menzalimi mereka sedikit pun.

Tafsir Ibnu Abbas

Sumber: Tafsir Ibnu Abbas (terjemah Indonesia), melalui sanad Ali bin Abu Thalhah. Dua glos telah dibaca.

QS 100:9 — Makna “Bu'tsira Maa fil-Qubur”

Bu'tsira maa fil-qubur berarti "digali", yaitu kubur digali ketika manusia dibangkitkan.

QS 100:10 — Makna “Hushshila Maa fish-Shudur”

Hushshila maa fish-shudur berarti "dimunculkan", yaitu rahasia dan amal yang ada dalam dada manusia ditampakkan.

Pertanyaan Terbuka

Data sumber

jenis
surah
Arab
العاديات
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah