Surah Al-A'raf
Surah Al-A'raf
Surah Al-A'raf adalah surah Makkiyah ke-7 dan terdiri dari 206 ayat. Surah ini menjelaskan permusuhan Iblis, dakwah para rasul, akibat mendustakan ayat Allah, dan perjanjian fitrah manusia untuk mengakui rububiyah-Nya.
Pokok bahasan
- Penciptaan Adam, keengganan Iblis untuk sujud, dan godaan setan.
- Seruan Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu'aib kepada kaum mereka.
- Kisah Musa bersama Fir'aun, para penyihir, Bani Israil, dan anak sapi.
- Perjanjian Bani Adam dan penjelasan tentang fitrah.
- Adab berdoa dengan takut dan berharap serta larangan membuat kerusakan.
- Peringatan bagi orang yang mendustakan ayat Allah dan hari akhir.
Tafsir Ibnu Abbas
Riwayat [445]–[518] pada materi sumber membahas QS 7:1–7:204. Tafsir tersebut menjelaskan huruf muqatta'ah, penciptaan Adam, pakaian dan perhiasan, Al-A'raf sebagai pembatas antara Surga dan Neraka, dakwah para nabi, kisah Musa, perjanjian primordial, kisah Bal'am bin Ba'ura', dan pengetahuan tentang hari Kiamat.
Adam dan Iblis
Ibnu Abbas menafsirkan Alif Lam Mim Shad sebagai sumpah dan salah satu nama Allah. Penciptaan Adam diikuti perintah kepada malaikat untuk sujud. Iblis menolak karena kesombongan, lalu berjanji menggoda manusia dari berbagai arah. Adam dan Hawa diturunkan setelah memakan sesuatu yang dilarang, kemudian keduanya mengakui kesalahan dan menerima petunjuk Allah.
Pakaian, ibadah, dan doa
Allah menurunkan pakaian untuk menutup aurat dan sebagai perhiasan. Perhiasan yang baik serta rezeki yang baik tidak diharamkan tanpa dalil. Manusia diperintah memakai perhiasan ketika berada di masjid, makan dan minum tanpa berlebih-lebihan, serta berdoa dengan rendah hati, takut, dan berharap.
Al-A'raf dan umat para rasul
Al-A'raf ditafsirkan sebagai dinding antara Surga dan Neraka. Orang-orang di atasnya mengenali penghuni kedua tempat itu melalui tanda-tanda mereka. Surah ini kemudian menceritakan Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu'aib beserta penolakan kaum mereka dan hukuman yang menimpa orang-orang yang terus mendustakan.
Musa dan Fir'aun
Musa diutus dengan tanda-tanda kepada Fir'aun dan para pemukanya. Para penyihir yang menyaksikan mukjizat tongkat Musa segera bersujud dan beriman kepada Rabb Musa dan Harun. Fir'aun mengancam mereka, tetapi mereka memilih iman dan memohon kesabaran serta wafat dalam keadaan berserah diri.
Bani Israil dan perjanjian fitrah
Bani Israil menerima nikmat pembebasan dari Fir'aun, tetapi sebagian mereka meminta patung untuk disembah, menyembah anak sapi, dan melanggar perintah. QS 7:172 mengingatkan tentang kesaksian seluruh keturunan Adam: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar.” Ayat ini menjadi dasar pembahasan tentang fitrah dan hujah Allah atas manusia.
Bal'am bin Ba'ura' dan hari Kiamat
Kisah seseorang yang diberi ayat-ayat Allah lalu mengikuti hawa nafsu diserupakan dengan anjing yang terus menjulurkan lidahnya. Riwayat tafsir mengaitkannya dengan Bal'am bin Ba'ura'. Perincian identitasnya tetap dibaca sebagai pendapat tafsir yang dinisbatkan, bukan sebagai kepastian di luar keterangan yang tersedia.
Tafsir Jalalain
Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.
Kutipan sumber yang telah diperiksa
Setan menghadang anak Adam di setiap jalan kebaikannya — ketika hendak masuk Islam, ketika hendak berhijrah, ketika hendak berjihad; barangsiapa tetap teguh hingga wafat, menjadi kewajiban Allah memasukkannya ke Surga. (HR. Ahmad, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Jika kalian mendengar hadits dariku yang hati kalian mengenalnya dan kalian merasa dekat dengannya, maka akulah yang paling dekat dengannya di antara kalian." (HR. Ahmad, sanad jayyid namun tidak dikeluarkan penulis kitab hadits lain, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
"Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada Nabi mana pun sebelumku: dimenangkan dengan rasa takut (musuh) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan alat bersuci; dihalalkan harta rampasan perang; diberikan syafa'at; dan setiap Nabi diutus khusus bagi kaumnya, sedangkan aku diutus bagi seluruh manusia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Ibnu Katsir menekankan bahwa setan menghalangi manusia melalui jalan-jalan kebaikan, sedangkan keselamatan datang melalui keteguhan dalam Islam, hijrah, dan jihad. Ia juga memuat hadits tentang keutamaan umat Nabi Muhammad ﷺ: bumi dijadikan masjid dan alat bersuci, syafaat diberikan, dan risalah beliau mencakup seluruh manusia.
Kisah Musa dan Fir'aun menunjukkan bahwa mukjizat tidak bermanfaat bagi orang yang memilih kesombongan. Para penyihir memahami kebenaran setelah melihat mukjizat dan menerima ancaman Fir'aun dengan sabar. Kisah anak sapi mengingatkan bahaya meninggalkan petunjuk ketika seorang pemimpin tidak berada di tengah umatnya.
Tafsir Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah membahas kandungan ayat-ayat surah ini dalam tema tauhid, ibadah, doa, dan penetapan sifat Allah. Doa menggabungkan ibadah dan permohonan, sedangkan adabnya mencakup ketundukan, suara yang tidak melampaui batas, rasa takut, dan harapan. Dalam pembahasan sifat Allah, ayat dibaca dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa menentukan bagaimana hakikatnya.
Catatan penelitian
- Materi sumber memuat riwayat tafsir, keterangan sejarah, dan pembahasan manhaj dengan tingkat kepastian yang berbeda.
- Kisah yang dinisbatkan kepada riwayat Bani Israil atau berita sejarah dibaca sebagai keterangan yang dinisbatkan kepada sumbernya.
- Ringkasan publik mempertahankan tema utama dan rujukan sumber tanpa mengubah Wiki Ulama.
- Rincian ayat dan penilaian sanad perlu dibaca bersama sumber tafsir yang dirujuk.
Data sumber
- jenis
- surah
- Arab
- الأعراف
- disiplin
- tafsir, ulumul-quran
- tag
- quran, surah, tafsir