Tanya Salaf
Quran · ID

Surah Ad-Dukhan

Surah Ad-Dukhan

Tafsir Ibnu Abbas

Sumber: terjemahan Indonesia, Pustaka Azzam. Riwayat melalui Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Catatan pembacaan: Riwayat dimulai pada [1152]. Verifikasi dengan naskah Arab asli pada 19 Juli 2026 menunjukkan bahwa halaman 448 membuka "Tafsir Surah Ad-Dukhan" pada [1152], setelah Az-Zukhruf berakhir pada [1151]. Batas akhir seluruh surah belum diverifikasi kembali pada fase ini.

QS 44:13 — Makna kaifa lahum

[1152] Pada ayat, "Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan," Ibnu Abbas menjelaskan bahwa lafaz tersebut bermakna kaifa lahum, yaitu bagaimana mereka dapat menerima peringatan.

QS 44:24 — Laut tetap terbelah

[1153] Pada ayat, "Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan," Ibnu Abbas menjelaskan bahwa lafaz tersebut berarti tetap terbelah. Ini berkaitan dengan laut yang terbelah ketika Musa dan Bani Israil menyeberang.

QS 44:43–44 — Pohon Zaqqum dan ejekan Abu Jahal

[1154] Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika turun ayat tentang pohon Zaqqum, Abu Jahal mengejeknya dengan mengajak kaum Quraisy makan kurma dan keju. Ia berkata bahwa mereka tidak mengenal zaqqum selain makanan itu. Allah menjelaskan bahwa Zaqqum adalah pohon yang keluar dari dasar neraka, dengan buah seperti kepala setan. Kaum Quraisy kembali mengolok-olok dengan berkata, "Pohon yang tumbuh di neraka?" Peristiwa ini menjadi ujian bagi mereka.

QS 44:45 — Kotoran minyak di neraka

[1155] Ibnu Abbas menjelaskan kotoran minyak yang mendidih di perut sebagai sesuatu yang berwarna hitam seperti kotoran minyak, yaitu hiqm.

Tema utama

Terkait

Tafsir Ibnu Abbas | Ibnu Abbas | Tafsir | Ali bin Abu Thalhah | Az-Zukhruf

Tafsir (Jalalain)

Sumber ini diringkas dalam bahasa Indonesia untuk katalog publik. Rincian lengkap tetap tersedia dalam materi sumber yang menjadi rujukan halaman ini.

Asbabun nuzul dari Lubab An-Nuqul

Sumber: terjemahan Pustaka Al-Kautsar (2014). Penerjemah Andi Muhamad Syahril dan Yasir Maqasid. Muhaqqiq: Hamid Ahmad Thahir Al-Bayyumi.

QS 44:10 — Doa Nabi ﷺ agar Quraisy ditimpa kelaparan

Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa kaum Quraisy menentang Nabi ﷺ. Beliau berdoa agar mereka ditimpa kelaparan seperti kelaparan pada masa Nabi Yusuf. Mereka sampai memakan tulang dan bangkai. Abu Sufyan kemudian meminta Nabi ﷺ mendoakan mereka, lalu turun ayat tentang azab yang nyata.

Takhrij: HR Bukhari dari Ibnu Mas'ud; Al-Qurthubi (9/6200).

QS 44:15–16 — Ancaman setelah kaum Quraisy kembali ingkar

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, setelah kelaparan diangkat melalui doa Nabi ﷺ, kaum Quraisy kembali mengingkari. Allah mengancam mereka dengan pukulan yang keras.

QS 44:43–44 — Zaqqum dan ejekan Abu Jahal

Setelah turun ayat tentang Zaqqum, Abu Jahal mengejeknya. Ayat tersebut menjadi pembalasan atas kesombongannya.

QS 44:49 — Abu Jahal dicela dengan ucapannya sendiri

Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada Abu Jahal firman Allah, "Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia." Allah menghinakannya pada Perang Badar dan menggunakan ucapannya sendiri sebagai celaan.

Tafsir Ibnu Katsir

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir, ringkasan Lubaab At-Tafsir karya Alu Asy-Syaikh, terjemahan Pustaka Imam Asy-Syafi'i dalam 8 jilid. Tafsir bil-ma'tsur memuat rujukan silang Al-Quran, hadis dengan perawi dan kitab sumber, serta atsar ulama. Riwayat lemah dan Israiliyyat dihapus oleh peringkas, sedangkan penilaian hadis dicantumkan dalam catatan kaki.

QS 44:1–8 — Kemuliaan Al-Quran dan malam turunnya

Allah bersumpah dengan Al-Quran dan menjelaskan bahwa ia diturunkan pada malam yang penuh berkah, yaitu Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Al-Quran turun sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia, lalu turun bertahap selama dua puluh tiga tahun. Pada malam itu urusan satu tahun, seperti ajal dan rezeki, dirinci. Allah mengutus para rasul sebagai rahmat karena manusia membutuhkan petunjuk.

QS 44:9–16 — Kabut dan respons kaum musyrik

Kaum musyrik berada dalam keraguan dan bermain-main. Ibnu Katsir menyebut dua pendapat tentang dukhan, yaitu kabut.

Pendapat pertama, yang dinisbatkan kepada Ibnu Mas'ud dan sejumlah sahabat serta tabi'in, menyatakan bahwa kabut telah berlalu. Kabut itu adalah paceklik berat yang menimpa Quraisy setelah Nabi ﷺ mendoakan keburukan bagi mereka. Mereka kelaparan sampai memakan tulang dan bangkai.

Pendapat kedua menyatakan bahwa kabut belum terjadi dan merupakan tanda Hari Kiamat. Dalilnya adalah hadis Hudzaifah bin Usaid tentang sepuluh tanda Kiamat:

"Kiamat tidak akan terjadi sehingga sepuluh tanda muncul: matahari terbit dari barat, kabut, Dabbah, keluarnya Ya'juj-Ma'juj, turunnya Isa putra Maryam, Dajjal, tiga gerhana (timur, barat, Jazirah Arab), dan api yang menggiring manusia." (HR. Muslim, dari Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)

Ibnu Katsir memilih pendapat kedua karena ayat menyebut kabut yang meliputi manusia secara umum, bukan hanya penduduk Makkah.

Ketika melihat azab, orang kafir memohon agar azab diangkat dan berjanji beriman, tetapi mereka kembali ingkar. Pukulan keras dapat dipahami sebagai Perang Badar atau Hari Kiamat; makna lahiriah ayat menunjukkan Hari Kiamat, meskipun Perang Badar juga merupakan hari penghantaman.

QS 44:17–33 — Musa dan Fir'aun

Musa diutus kepada Fir'aun dan meminta agar Bani Israil dilepaskan. Ia menyeru Fir'aun agar tidak menyombongkan diri terhadap Allah. Setelah hujah tegak dan mereka tetap ingkar, Musa berdoa.

Allah memerintahkan Musa membawa Bani Israil pergi pada malam hari dan membiarkan laut tetap terbelah. Setelah Bani Israil menyeberang, Musa dilarang menutup kembali laut agar Fir'aun dan pasukannya masuk dan tenggelam.

Fir'aun dan kaumnya meninggalkan taman, mata air, kebun, tempat indah, dan kenikmatan. Semua itu diwariskan kepada kaum lain, yaitu Bani Israil. Langit dan bumi tidak menangisi Fir'aun karena ia tidak memiliki amal saleh atau tempat ibadah yang kehilangan dirinya.

Allah menyelamatkan Bani Israil dari siksaan Fir'aun, memilih mereka dengan ilmu-Nya, dan memberi mereka berbagai tanda kekuasaan yang nyata.

QS 44:34–37 — Pengingkaran kebangkitan dan kaum Tubba'

Kaum musyrik berkata bahwa tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia dan mereka tidak akan dibangkitkan. Mereka menuntut agar nenek moyang mereka dihidupkan kembali sebagai bukti. Allah membantah hujah ini dan menyebut kaum Tubba' sebagai contoh kaum yang dibinasakan karena dosa.

Tubba' adalah gelar penguasa Himyar di Yaman. Sa'id bin Jubair melarang mencaci Tubba'. Nabi ﷺ juga bersabda: "Janganlah kalian mencaci Tubba', karena bisa jadi ia telah memeluk Islam." Dalam riwayat lain: "Sesungguhnya ia telah masuk Islam."

QS 44:38–42 — Keadilan Allah dan Hari Keputusan

Allah tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya sebagai permainan. Semuanya diciptakan dengan benar dan memiliki tujuan. Hari Keputusan adalah waktu seluruh manusia dikumpulkan. Tidak ada seorang pun dapat menolong orang lain kecuali orang yang mendapat rahmat Allah.

QS 44:43–59 — Zaqqum, kenikmatan orang bertakwa, dan kemenangan

Pohon Zaqqum adalah makanan orang yang banyak dosa. Ia mendidih di dalam perut seperti air panas. Orang yang memakannya akan diseret ke tengah neraka, lalu disiram air mendidih.

Orang-orang bertakwa berada di tempat yang aman, di taman dan mata air, memakai sutra, dan dipasangkan dengan pasangan yang cantik. Mereka tidak merasakan kematian selain kematian pertama dan dilindungi dari azab Jahim. Kepada mereka dikatakan:

"Akan dikatakan kepada penghuni Surga: kalian akan senantiasa sehat, hidup, muda, dan berbahagia selamanya, tanpa pernah sakit, mati, tua, atau sengsara." (HR. Muslim, dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah, diringkas — teks lengkap di Tafsir Ibnu Katsir)

Semua itu adalah karunia Allah. Al-Quran dimudahkan dengan bahasa Nabi ﷺ agar manusia mengambil pelajaran. Jika mereka tetap berpaling, Nabi ﷺ diperintahkan menunggu karena mereka juga menunggu.

Pertanyaan terbuka

Data sumber

jenis
surah
Arab
الدخان
disiplin
tafsir, ulumul-quran
tag
quran, surah