Tanya Salaf
Konsep · ID

Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah

Pengertian

Tauhid ar-rububiyyah (توحيد الربوبية) adalah mengakui bahwa Allah satu-satunya Rabb: Pencipta, Pemberi rezeki, Pemilik, Penguasa, dan Pengatur seluruh makhluk. Semua makhluk diciptakan oleh-Nya, mendapatkan rezeki dari-Nya, dan berjalan menurut ketetapan-Nya.

Hubungan dengan Tauhid Uluhiyah dan Asma Wa Sifat

Rububiyah dan uluhiyah adalah dua sisi dari tauhid yang satu. Allah yang menciptakan dan mengatur seluruh makhluk adalah satu-satunya yang berhak disembah, dicintai, ditakuti, dimintai pertolongan, dan dijadikan tempat bergantung.

Kaum musyrik Makkah mengakui rububiyah Allah, tetapi mereka tetap menyekutukan-Nya dalam ibadah. Karena itu, pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta belum cukup tanpa mengesakan-Nya dalam ibadah. Tauhid asma wa sifat menjadi dimensi lain yang menegaskan nama dan sifat Allah sebagaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.

Fitrah, wahyu, dan akal

Menurut Ibnu Taimiyah, jalan yang benar untuk mengenal Allah bertumpu pada fitrah manusia dan wahyu. Fitrah cenderung mengakui Allah sebelum manusia menyusun silogisme filsafat. Para salaf tidak menjadikan pembuktian rasional spekulatif sebagai pintu pertama untuk menerima wahyu.

Metode ilmu kalam, seperti argumen tentang sesuatu yang baru dan sesuatu yang mungkin, dapat dipakai sebagai sarana sekunder. Metode ini tidak boleh menggantikan pengenalan kepada Rabb yang berbicara, mencintai, mengabulkan doa, dan mengatur makhluk. Al-Qur'an memulai dakwah dengan bismillah dan kalimat tauhid, bukan dengan kosmologi Aristoteles.

Kisah Iblis menunjukkan bahwa mengakui Allah sebagai Pencipta tanpa tunduk kepada-Nya tidak memberi manfaat. Perjanjian primordial dalam Surah Al-A'raf ayat 172 juga menunjukkan bahwa pengetahuan fitrah tentang Allah mendahului perdebatan manusia.

Empat jalan mengenal Allah

Ibnu Taimiyah membahas empat jalan yang ditempuh manusia untuk mengenal Allah:

  1. Ilmu kalam murni. Jalan ini dapat menghasilkan gambaran ketuhanan yang abstrak dan terlepas dari Rabb yang memiliki nama, sifat, perbuatan, dan kehendak.
  2. Perasaan batin dan pengalaman spiritual. Pengalaman yang tidak dikoreksi wahyu bersifat subjektif dan dapat membawa kepada penyimpangan.
  3. Gabungan ilmu kalam dan pengalaman batin. Gabungan ini dapat membuat kesalahan pengalaman spiritual dibela dengan dalil rasional yang keliru.
  4. Risalah para nabi. Inilah jalan yang dapat dipercaya sepenuhnya, karena para nabi membawa dalil, pengenalan kepada Allah, dan syariat yang mengatur keduanya.

Iman kepada berita wahyu dapat menjadi dasar pengetahuan. Dasar ini tidak bersifat berputar-putar, karena wahyu membawa tanda kebenaran pada dirinya dan berbicara kepada fitrah manusia.

Nama dan sifat Allah

Dalam membahas sifat Allah, tiga hal harus dijaga:

  1. Menetapkan makna positif dari sifat yang Allah tetapkan.
  2. Menafikan kekurangan dan keserupaan dengan makhluk.
  3. Menjaga perbedaan antara sifat Allah dan zat-Nya tanpa menuntut pengetahuan tentang hakikat caranya.

Jahmiyah keliru karena melakukan penafian tanpa penetapan. Sebaliknya, kelompok Ittihadiyah menghapus perbedaan antara Pencipta dan makhluk. Metode salaf adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, menafikan apa yang Dia nafikan, dan menerima sifat tersebut tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk serta tanpa menanyakan bagaimana caranya.

Rububiyah dan uluhiyah tidak terpisah

Mengakui Allah sebagai Rabb seharusnya mengantarkan kepada ibadah hanya kepada-Nya. Al-Qur'an menyandingkan ibadah dan tawakal, sebagaimana dalam Surah Hud ayat 123. Surah Al-Fatihah ayat 5 juga menyatukan keduanya: hanya kepada Allah manusia beribadah dan hanya kepada Allah manusia memohon pertolongan.

Kaum musyrik Makkah mengakui bahwa Allah menciptakan mereka, tetapi mereka menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah. Doa adalah hak Allah karena hanya Dia yang memiliki rububiyah dan doa itu sendiri merupakan ibadah. Kalimat ketika menyembelih, “Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu,” menunjukkan bahwa nikmat berasal dari rububiyah Allah dan ibadah dikembalikan kepada uluhiyah-Nya.

Qadar, kehendak, dan tanggung jawab

Iman kepada qadar adalah kewajiban. Qadar tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan perintah atau terus melakukan dosa. Allah memiliki dua jenis kehendak:

Iblis menjadikan qadar sebagai alasan untuk membenarkan penolakannya. Adam mengakui kesalahannya dan bertobat. Kisah perdebatan Musa dan Adam menunjukkan bahwa menyebut qadar untuk musibah masa lalu setelah bertobat berbeda dari menggunakan qadar untuk membenarkan dosa yang sedang dilakukan.

Sikap yang benar adalah bersabar atas musibah, melaksanakan perintah, dan memohon ampun atas dosa. Obat, ruqyah, dan berbagai sebab perlindungan juga termasuk qadar Allah. Menggunakan sebab tidak berarti menolak qadar, selama hati tetap bergantung kepada Allah.

Ilmu Allah yang azali dan Lauhul Mahfuz

Ilmu Allah bersifat azali. Semua yang akan terjadi telah ditulis di Lauhul Mahfuz sebelum penciptaan. Penetapan ini tidak membatalkan perintah untuk beramal. Setiap manusia dimudahkan menuju apa yang telah ditetapkan baginya, sehingga pengetahuan tentang qadar seharusnya melahirkan kerendahan hati dan tawakal, bukan sikap pasif.

Perbuatan manusia terjadi di dalam kekuasaan Allah, tetapi manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan yang nyata sehingga ia layak menerima perintah, larangan, pujian, dan hukuman. Sebab-sebab juga termasuk bagian dari qadar. Doa, iman, dan amal saleh adalah sebab yang Allah tetapkan bagi kebaikan seorang hamba.

Bantahan terhadap wahdatul wujud

Bagian terbesar dari kitab ini membantah ajaran wahdatul wujud atau Ittihadiyah, yaitu anggapan bahwa wujud makhluk adalah wujud Allah. Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa ajaran ini bertentangan dengan wahyu dan akal.

Dasar pertama kesalahannya adalah menyamakan wujud Pencipta dengan wujud makhluk. Dasar kedua adalah pertentangan internal. Jika hanya ada satu wujud, tidak ada perbedaan antara pembicara dan orang yang diajak bicara, antara penyembah dan yang disembah, atau antara pemberi dan penerima. Bahasa, doa, perintah, larangan, dan dakwah menjadi tidak bermakna.

Ibnu Arabi, Al-Qunawi, Ibnu Sab'in, Ibnu Faridh, At-Tilmisani, At-Tustari, Al-Farghani, Al-Balyani, dan tokoh-tokoh lain dibahas sebagai pembela bentuk-bentuk ittihad dan hulul. Perbedaan istilah di antara mereka tidak mengubah akibat ajarannya, yaitu runtuhnya perbedaan antara Allah dan makhluk.

Kaum salaf menetapkan bahwa Allah berada di atas makhluk-Nya, beristiwa di atas Arsy, dan berbeda dari ciptaan-Nya. Jahmiyah yang menafikan perbedaan ini, kelompok hulul yang menyatakan Allah berada di setiap tempat, serta kelompok yang menggabungkan dua klaim yang saling bertentangan, semuanya menyimpang dari petunjuk wahyu dan fitrah.

Konsekuensi wahdatul wujud yang dibantah dalam kitab ini antara lain: Allah tidak lagi menjadi Rabb karena tidak ada hamba yang berbeda dari-Nya; Allah tidak memberi karena tidak ada penerima; Allah menjadi pihak yang menyembah; semua penyembah berhala dianggap menyembah Allah; dan dakwah kepada tauhid kehilangan makna. Kisah Nabi Ibrahim yang berlepas diri dari ayah, berhala, dan kaumnya menunjukkan perbedaan yang nyata antara Pencipta dan makhluk.

Tiga jenis fana

Ibnu Taimiyah membedakan tiga makna fana:

  1. Fana syar'i, yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah, mencintai Allah, takut kepada-Nya, dan bergantung hanya kepada-Nya. Ini adalah makna yang benar.
  2. Fana dalam penyaksian, yaitu keadaan seseorang yang sangat larut dalam pengalaman batin sehingga tidak menyadari makhluk untuk sementara. Ini adalah kekurangan dalam pengetahuan, tetapi tidak otomatis menjadi kekafiran apabila terjadi tanpa sengaja dan melalui sebab yang dibolehkan.
  3. Fana Ittihadiyah, yaitu keyakinan bahwa wujud hamba benar-benar menjadi wujud Allah. Ini adalah kekafiran karena menyamakan Pencipta dengan makhluk.

Ucapan yang keluar tanpa kesadaran penuh dalam keadaan ekstase tidak otomatis menjadi dasar hukum apabila keadaan itu muncul dari sebab yang dibolehkan. Keadaan tersebut juga tidak membuktikan kesalehan seseorang. Orang yang menulis dan menyatakan keyakinannya dengan sadar tetap dinilai berdasarkan ucapannya.

Hulul dan tokoh-tokoh Ittihadiyah

Hulul khusus adalah anggapan bahwa Allah bersemayam pada orang tertentu, sebagaimana keyakinan Nasrani tentang Isa atau keyakinan kelompok ekstrem terhadap imam mereka. Hulul mutlak adalah anggapan bahwa zat Allah berada pada seluruh benda. Ittihad wujud umum menyatakan seluruh wujud adalah satu.

Ketiga bentuk ini mustahil. Jika perbedaan antara Pencipta dan makhluk tetap ada, hulul tidak terjadi. Jika perbedaan itu dihapus, Allah disamakan dengan makhluk. Ibnu Taimiyah juga membantah penyalahgunaan hadis wali. Hadis tersebut membedakan Allah, wali, dan musuh wali; menyebut hamba mendekat kepada Allah; dan menjelaskan bahwa Allah mencintainya setelah ia mendekat dengan ibadah. Semua ini menunjukkan perbedaan antara Rabb dan hamba.

Hadis “Aku menjadi pendengarannya yang digunakan untuk mendengar” tidak bermakna Allah menyatu dengan hamba. Maknanya adalah pertolongan, penjagaan, dan pengarahan Allah setelah hamba mendekat dengan ibadah yang wajib dan sunah. Tambahan kalimat “bersama-Ku ia mendengar, melihat, memukul, dan berjalan” bukan lafaz hadis yang sahih.

Hadis “Segala sesuatu selain Allah adalah batil”

Hadis tentang ucapan Lubaid memiliki dua makna yang benar. Batil dapat berarti sesuatu yang tidak memiliki manfaat dan tujuan yang benar. Batil juga dapat berarti sesuatu yang tidak memiliki wujud mandiri.

Hadis ini tidak mendukung wahdatul wujud. Pengecualian “kecuali Allah” menunjukkan adanya makhluk yang dibedakan dari Allah. Semua makhluk bergantung kepada Allah dan tidak memiliki wujud mandiri. Ibadah yang diarahkan kepada selain Allah adalah batil, sedangkan Allah adalah satu-satunya tujuan akhir yang benar.

Surah Al-Ikhlas sebagai pokok tauhid

Surah Al-Ikhlas menegaskan tauhid secara menyeluruh. “Allah Yang Maha Esa” membantah semua sekutu dalam rububiyah. “Allah tempat bergantung” membantah ketergantungan ibadah kepada selain-Nya. “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” membantah keyakinan yang menisbatkan anak atau asal-usul kepada Allah. “Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” membantah semua penyerupaan dan tandingan.

Kedekatan, cinta, dan iman

Pengetahuan dan kecintaan kepada Allah meninggalkan pengaruh nyata pada hati. Pengaruh iman di dalam hati tidak berarti Allah masuk ke dalam hati. Kedekatan Allah yang umum mencakup ilmu, kekuasaan, dan pengaturan-Nya atas seluruh makhluk. Kedekatan khusus diberikan kepada hamba yang melaksanakan ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunah. Kedekatan hamba kepada Allah terjadi melalui ibadah, terutama sujud.

Wala kepada Allah berarti menyesuaikan kehendak dengan perintah-Nya, mencintai apa yang Dia cintai, membenci apa yang Dia benci, menaati perintah-Nya, mencintai wali-wali-Nya, dan berlepas diri dari musuh-musuh-Nya. Wala bukan berarti menyatu dengan Allah. Kesempurnaan iman tampak dalam mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah.

Melihat Allah

Pendapat yang dipegang para sahabat, tabiin, dan imam kaum Muslimin adalah bahwa Allah dilihat dengan mata di akhirat. Tidak ada manusia yang melihat Allah dengan mata di dunia sebelum meninggal. Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ melihat Allah dengan hati, bukan dengan mata.

Jahmiyah menolak penglihatan kepada Allah secara mutlak. Kelompok lain menganggap Allah dapat dilihat dengan mata di dunia dan akhirat. Hadis “kalian tidak akan melihat Rabb kalian sampai kalian meninggal” membantah kedua pendapat tersebut.

Hadis “Jangan mencela masa”

Hadis “Jangan mencela masa karena Allah adalah masa” tidak berarti Allah adalah waktu. Lafaz hadis menjelaskan bahwa Allah mengatur siang dan malam serta membolak-balikkan kejadian. Karena itu, masa tidak boleh dicela ketika musibah terjadi.

Abu Ubaid dan mayoritas ulama menjelaskan bahwa larangan tersebut membantah kebiasaan jahiliah mencela waktu atas musibah yang sebenarnya terjadi dengan ketetapan Allah. Perbedaan pendapat tentang apakah “Ad-Dahr” termasuk nama Allah tidak mengubah kesepakatan bahwa Allah bukan waktu.

Penilaian terhadap tokoh-tokoh sufi

Ibnu Taimiyah membedakan antara tokoh yang mengikuti kebenaran dan tokoh yang membawa hulul atau ittihad. Junaid Al-Baghdadi dipuji karena menjaga perbedaan antara Pencipta dan makhluk. Abu Yazid Al-Busthami dipahami berada pada jenis fana dalam penyaksian, bukan fana Ittihadiyah.

Hallaj, Ibnu Arabi, Ibnu Sab'in, At-Tilmisani, Ibnu Faridh, Al-Qunawi, dan tokoh-tokoh lain dibahas dengan penilaian keras karena ajaran hulul dan ittihad yang mereka nyatakan. Kalimat “Allah berbicara melalui lisannya” harus dibedakan. Jika maksudnya Allah membimbing ucapan seorang hamba, maknanya dapat benar. Jika maksudnya Allah benar-benar menyatu dengan lisan manusia, maknanya adalah hulul.

Ja'ad bin Dirham

Ibnu Taimiyah menyebut Ja'ad bin Dirham sebagai salah satu pendahulu pemikiran yang menolak sifat-sifat Allah. Ja'ad menolak bahwa Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil dan berbicara langsung kepada Musa. Kisah hukuman terhadapnya dipakai untuk menunjukkan hubungan historis antara penafian sifat, Jahmiyah, dan perkembangan pemikiran ittihad.

Penutup kitab

Kitab Tauhid Rububiyah ditutup dengan penjelasan singkat bahwa pembahasan tauhid rububiyah telah selesai dan sesudahnya dimulai pembahasan akidah salaf secara umum. Penutup ini menegaskan bahwa seluruh pembahasan sebelumnya diarahkan untuk menjelaskan perkara yang berkaitan dengan tauhid secara ringkas. Wallahu a'lam.

Jilid 6: Kekuasaan Allah dan qadar

Bagian lain dari Majmu' Fatawa membahas kekuasaan Allah, kehendak, qadar, hikmah, dan kemampuan manusia. Allah berkuasa atas segala sesuatu yang benar-benar ada. Kemustahilan yang tidak memiliki wujud di luar pikiran tidak disebut “sesuatu” dalam pengertian yang sama.

Perbuatan manusia berada di dalam kekuasaan Allah, tetapi manusia memiliki kemampuan nyata atas perbuatannya. Allah melakukan perbuatan yang berkaitan dengan zat-Nya, seperti istiwa dan turun, serta perbuatan yang berkaitan dengan makhluk, seperti menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan memberi petunjuk.

Allah melakukan segala sesuatu dengan hikmah. Hikmah itu kembali kepada kesempurnaan, cinta, dan keridaan Allah, serta kepada kemaslahatan hamba. Orang beriman menghadapi nikmat dengan syukur dan musibah dengan sabar. Dua sikap tersebut membuat ketetapan Allah menjadi kebaikan baginya.

Berpegang pada sebab adalah bagian dari syariat dan akal. Menganggap sebab berdiri sendiri tanpa Allah adalah kesyirikan. Meninggalkan semua sebab dengan alasan qadar adalah kekurangan. Sikap yang benar adalah menggunakan sebab sambil mengetahui bahwa sebab hanya bekerja dengan kehendak Allah.

Hadis dan sumber

Kitab ini mendokumentasikan hadis tentang tauhid, qadar, kedekatan kepada Allah, sujud, wala, melihat Allah, larangan mencela masa, dan sebab-sebab dalam qadar. Hadis tentang “rindu kepada orang-orang baik” diberi penilaian lemah oleh Ibnu Taimiyah. Riwayat tentang bumi dan langit tidak meliputi Allah, tetapi hati hamba yang beriman meliputi-Nya, disebut dengan sanad yang tidak diketahui dan hanya dipakai sebagai ilustrasi, bukan hujah syar'i.

Sumber utama halaman ini adalah Majmu' Fatawa, jilid 1, Kitab Tauhid Ar-Rububiyah, halaman 534–1049, serta jilid 6, Kitab Kekuasaan Allah dan qadar. Materi disusun berdasarkan catatan sumber dan pembacaan isi kitab yang tersedia di Wiki Ulama.

Pertanyaan terbuka

Catatan penelitian

Halaman ini adalah ringkasan sumber, bukan terjemahan kata demi kata dari seluruh jilid. Kutipan dan penilaian yang dinisbatkan kepada Ibnu Taimiyah tetap harus dibaca bersama teks sumber Majmu' Fatawa dan catatan sanad yang menyertainya.

Data sumber

jenis
konsep
Arab
توحيد الربوبية
disiplin
aqidah
kategori
aqidah — tauhid
tag
konsep, aqidah, tauhid