Tanya Salaf
Konsep · ID

Taqsim Nafs Insaniyyah Tiga Golongan Manusia

Tiga Golongan Manusia dan Tiga Jenis Jiwa (Ammarah, Muthmainnah, Lawwamah)

Sumber: Majmu& Vol.23, pp.551–555 — Ibnu Taimiyah membagi manusia ke dalam tiga kategori berdasarkan orientasi spiritual mereka, menghubungkannya dengan tiga jenis jiwa yang disebut Al-Quran, dan menggunakannya untuk menjelaskan mengapa era kekhalifahan Abu Bakr-Umar berbeda dari era Utsman-Ali dalam ketenangan sosialnya.


Definisi

Tiga Golongan Manusia

Golongan Pertama — Sepenuhnya mengikuti hawa nafsu: Mereka puas hanya dengan apa yang menguntungkan diri pribadi dan marah hanya atas apa yang tidak mereka dapatkan. Ciri khasnya: jika diberi apa yang mereka inginkan, mereka berbalik dari menentang kemungkaran menjadi mendukungnya — meninggalkan nahi munkar mereka sebelumnya. Golongan ini adalah yang paling umum dan ditandai oleh kombinasi zulm dan jahl.

Golongan Kedua — Sepenuhnya mengikuti agama, dengan ikhlas karena Allah: Mereka mengerjakan kebaikan dengan istiqamah dan menanggung kesulitan dengan sabar. Inilah kaum mukminin dan pelaku amal shalih — khayr ummah yang diangkat untuk manusia.

Golongan Ketiga — Campuran dari keduanya: Terkadang menuruti dorongan agama, terkadang menyerah pada syahwat. Inilah mayoritas orang yang memiliki sekaligus iman dan syahwat.


Tiga Jenis Jiwa dalam Al-Quran

Nafs Ammarah (النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ) — jiwa yang memerintahkan kepada kejahatan (QS Yusuf [12]: 53). Ini adalah jiwa Golongan Pertama — dikuasai oleh hawa nafsu secara penuh.

Nafs Muthmainnah (النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ) — jiwa yang tenang dan tenteram dalam ketaatan kepada Allah. QS Al Fajr [89]: 27–30:

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku."

Ini adalah jiwa Golongan Kedua — telah mencapai ketenangan melalui ketaatan.

Nafs Lawwamah (النَّفْسُ اللَّوَّامَةُ) — jiwa yang mencela diri sendiri (QS Al-Qiyamah [75]: 2). Jiwa ini melakukan dosa lalu menyesali dan mencela dirinya sendiri — belum sepenuhnya tenang dalam ketaatan, tetapi belum pula sepenuhnya dikuasai nafsu. Ini adalah jiwa Golongan Ketiga.


Analisis Historis: Mengapa Era Abu Bakr-Umar Lebih Stabil

Ibnu Taimiyah menggunakan tipologi ini untuk menjelaskan perbedaan antara era kekhalifahan:

Era Abu Bakr dan Umar (11–23 H): Golongan Kedua (jiwa muthmainnah) mendominasi struktur kepemimpinan dan masyarakat. Orang-orang shalih yang ikhlas menempati posisi-posisi kunci. Tidak ada fitnah besar.

Era Utsman dan Ali (23–40 H): Golongan Ketiga (jiwa lawwamah) mulai mendominasi — manusia dengan campuran iman dan syahwat. Filter ketakwaan pada kedua belah pihak dari setiap konflik melemah, sehingga konflik yang muncul tidak lagi dapat diselesaikan dengan cara yang sama seperti di era sebelumnya. Inilah yang membuat fitnah pertama (Perang Jamal, Perang Siffin) terjadi — bukan karena para Sahabah secara umum menjadi buruk, tetapi karena keseimbangan jiwa dalam komunitas bergeser.

HR At-Tirmidzi (Kisah-Kisah Teladan, no. 3662) dan Ahmad (5/382):

اقْتَدُوا بِالَّذِيْنِ مِنْ بَعْدِي: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

"Ikutilah dua orang yang akan datang setelahku: Abu Bakr dan Umar."

Grading: Hasan (At-Tirmidzi)

Ibnu Taimiyah mengutip hadith ini dalam konteks: Abu Bakr dan Umar adalah representasi Golongan Kedua yang ideal — standar yang harus dirujuk dalam kepemimpinan.


Prinsip Penutup: QS Asy-Syura [42]: 15

Ibnu Taimiyah menutup bagian ini dengan ayat yang menjadi pegangan bagi seseorang yang telah mengenali tipologi jiwa dan realitas fitnah:

"Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: 'Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya-lah kembali (kita).'"

Pesannya kepada mukmin: mintalah pertolongan Allah, bertawakal sepenuhnya kepada-Nya, dan berdoa agar diberi keteguhan di atas petunjuk tanpa mengikuti hawa nafsu — karena itulah yang membedakan Golongan Kedua dari yang lain.


Relevansi untuk Amar Makruf Nahi Mungkar

Tipologi ini secara langsung menjelaskan tantangan hisbah:


Terkait


Pertanyaan Terbuka

  1. Apakah tiga golongan manusia ini setara dengan tiga jenis jiwa secara satu-ke-satu, atau ada nuansa yang Ibnu Taimiyah tambahkan? Pembagiannya tampak paralel tetapi tidak dieksplisitkan sepenuhnya
  2. Bagaimana seseorang berpindah dari Golongan Pertama/Ketiga ke Golongan Kedua — apakah Ibnu Taimiyah membahas mekanisme tazkiyatun nafs yang menggerakkan ini?
  3. Analisis historis tentang fitnah era Utsman-Ali — apakah Ibnu Taimiyah memaksudkan ini sebagai explanation (penjelasan) atau justifikasi terhadap tindakan para pihak? Perlu dibaca dengan sangat hati-hati agar tidak salah tafsir

Data sumber

jenis
konsep
Arab
تَقْسِيمُ النَّفْسِ الْإِنْسَانِيَّةِ وَأَصْنَافُ النَّاسِ
disiplin
aqidah
kategori
masalah akidah
tag
konsep, aqidah, nafs, fitnah, jiwa