Fadha'il Al-Quran
Fadha'il Al-Quran
Lampiran penutup Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 8.6, 54 halaman, hlm. 587–640 dalam terjemah Indonesia). Judulnya Keutamaan-Keutamaan Al-Quran (فضائل القرآن). Penyunting Alu Asy-Syaikh mencatat bahwa bagian ini berasal dari akhir naskah asli Ibnu Katsir, yaitu naskah al-Makkiyyah al-Wahidah. Bagian ini tidak ditemukan dalam edisi cetak Waliq, dan dimasukkan sebagai penutup serta penyempurna tafsir.
Topik Utama (dari 20 halaman pertama, hlm. 587–605)
1. Penurunan Al-Quran
- Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam dari Ibnu Abbas: "Al-Quran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada Lailatul Qadar, kemudian diturunkan secara bertahap selama dua puluh tahun." Ini berdasarkan QS Al-Isra': 106. Sanadnya sahih.
- Wahyu dimulai di Makkah, menurut hitungan yang populer selama 13 tahun. Nabi menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Setelah itu wahyu berlanjut di Madinah selama 10 tahun. Makkiyah berarti sebelum hijrah, sedangkan Madaniyah berarti setelah hijrah, meskipun tempatnya Makkah atau Arafah.
- Al-Quran diturunkan melalui lisan kaum Quraisy (HR Al-Bukhari dari Anas bin Malik melalui Az-Zuhri, berdasarkan perintah Utsman untuk menulis dengan dialek Quraisy). Sanadnya sahih.
2. I'jaz Al-Quran
- Tidak ada nabi yang diberi mukjizat seperti Al-Quran, yaitu mukjizat yang tetap hidup sampai Hari Kiamat (HR Al-Bukhari dari Abu Hurairah: "Ma min al-anbiya'i nabiyyun illa u'thiya ma mithlahu amana 'alayhi al-bashar..."). Al-Quran adalah bukti kerasulan Muhammad ﷺ dan mukjizat terbesarnya karena merupakan wahyu yang tetap dan hidup, berbeda dari mukjizat para nabi terdahulu yang tampak sementara.
- Tantangan Al-Quran turun dalam tiga tahap: (a) mendatangkan sesuatu yang semisal seluruh Al-Quran, secara tersirat; (b) mendatangkan sepuluh surah yang semisal dengannya (QS Hud: 13); dan (c) mendatangkan satu surah yang semisal dengannya (QS Yunus: 38, QS Al-Baqarah: 23–24). Allah menyatakan bahwa mereka tidak akan berhasil.
- Orang Arab pada masa itu adalah manusia yang paling fasih dan paling menguasai balaghah serta syair, tetapi mereka tidak mampu memenuhi tantangan tersebut. Al-Quran memuat berita gaib yang benar, tentang masa lalu dan masa depan, serta hukum-hukum yang adil dan kokoh: "Wa tammat kalimatu Rabbika sidqan wa 'adlan la mubaddila li-kalimatih" (QS Al-An'am: 115).
3. Pengumpulan Al-Quran pada Masa Abu Bakar
- Riwayat lengkap dari Al-Bukhari melalui Ubaid bin As-Sabiq: Umar mendatangi Abu Bakar setelah Perang Yamamah karena khawatir banyaknya qurra' yang terbunuh menyebabkan Al-Quran hilang. Abu Bakar semula ragu, "Bagaimana kami melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rasulullah ﷺ?" Namun Allah melapangkan dadanya. Ia menugaskan Zaid bin Tsabit, seorang pemuda yang terpercaya dan pernah menulis wahyu untuk Nabi.
- Zaid mengumpulkan ayat dari pelepah kurma, batu, dan dada para sahabat. Dua ayat terakhir At-Taubah (128–129) hanya ditemukan pada Abu Khuzaimah Al-Anshari.
- Lembaran (suhuf) itu disimpan oleh Abu Bakar, kemudian Umar, lalu Hafshah binti Umar.
- Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata: "Orang yang paling besar pahalanya dalam mushaf ini adalah Abu Bakar, karena Abu Bakarlah yang pertama kali mengumpulkan Al-Quran di antara dua papan." Sanadnya sahih.
4. Penulisan Al-Quran pada Masa Utsman bin Affan
- Hudzaifah melaporkan perbedaan bacaan yang luas di antara pasukan Syam dan Irak. Ia berkata kepada Utsman: "Selamatkan umat ini sebelum mereka berselisih dalam Kitab sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani."
- Utsman mengambil suhuf dari Hafshah dan menugaskan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az-Zubair, Sa'id bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Kaidahnya: jika mereka berbeda dengan Zaid, penulisan mengikuti dialek Quraisy. Setelah selesai, salinan dikirim ke Makkah, Bashrah, Kufah, Syam, Yaman, dan Bahrain, sedangkan satu salinan disimpan di Madinah.
- Semua suhuf dan mushaf lain diperintahkan untuk dibakar. Hikmahnya, mushaf Hafshah menjadi mushaf induk dan rujukan perbandingan terakhir yang dilakukan Jibril bersama Nabi ﷺ pada tahun wafatnya.
- Utsman menegaskan bahwa susunan surah bersifat tauqifi, yaitu ditetapkan oleh wahyu, mengikuti penyampaian terakhir Jibril yang dilakukan dua kali pada Ramadan terakhir.
5. Sab'ah Ahruf (Tujuh Ragam Bacaan)
- Al-Quran diturunkan dengan tujuh ahruf (HR Al-Bukhari dari Ibnu Abbas melalui Ibnu Syihab; juga HR Muslim dari Yunus; dan HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah dengan peringatan keras: "man raba fi al-Qur'an fa huwa kafir" sebanyak tiga kali).
- Az-Zuhri menyatakan bahwa tujuh ahruf itu sepakat dalam perkara halal dan haram tanpa perbedaan.
- Ada lebih dari 35 pendapat ulama tentang makna "sab'ah ahruf". Muqaddimah Al-Qurthubi menyebut 35 pendapat, sedangkan Ibnu Katsir merangkum empat pendapat utama:
1. Pendapat mayoritas, yaitu Sufyan bin Uyainah, Ibnu Wahb, Abu Ja'far bin Jarir, dan Ath-Thahawi: tujuh ungkapan yang sinonim atau berdekatan maknanya (wujuh al-ma'ani al-mutaqaribah), seperti aqbala dan ta'ala. 2. Tujuh bagian berbeda dari Al-Quran yang dibaca dengan dialek Arab yang berbeda, bukan seluruh Al-Quran dengan tujuh dialek sekaligus. 3. Tujuh ahruf merujuk secara khusus kepada suku Mudharr. 4. Pendapat Al-Baqilani: tujuh sisi, yaitu rafa', nashab, jarr, sukun, syiddah, perubahan susunan, dan penggantian, semuanya dengan makna yang setara dan bentuk yang sesuai.
- Utsman menyatukan umat pada satu harf berdasarkan penyampaian terakhir Jibril. Inilah standar yang menjadi rujukan, sedangkan enam lainnya adalah rukhshah yang tidak lagi digunakan setelahnya.
6. Ahli Qira'at dari Kalangan Sahabat
- HR Al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud: Nabi ﷺ bersabda, "Ambillah Al-Quran dari empat orang: Abdullah bin Mas'ud, Salim (maula Abu Hudzaifah), Mu'adz bin Jabal, dan Ubay bin Ka'ab."
- Anas menyebutkan bahwa empat orang yang mengumpulkan Al-Quran pada masa Nabi semuanya dari Anshar: Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid (HR Muslim).
- Abu Bakar Ash-Shiddiq telah menghafal dan membaca Al-Quran. Utsman bin Affan membaca seluruh Al-Quran dalam satu rakaat. Ali bin Abi Thalib mengumpulkan Al-Quran sesuai urutan turunnya.
- Ibnu Abbas menemani Mujahid membaca Al-Quran dua kali, berhenti pada setiap ayat untuk bertanya.
7. Turunnya Sakinah ketika Membaca Al-Quran
- Usaid bin Al-Hudhair رضي الله عنه membaca Surah Al-Kahfi pada suatu malam. Kudanya melompat dan ia melihat sesuatu seperti awan atau air di atasnya. Nabi ﷺ mengonfirmasi: "Itulah ketenangan yang turun bagi Al-Quran." (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Syu'bah.)
Pertanyaan Terbuka
- Isi lengkap Jilid 8.6 (54 halaman, hlm. 587–640) belum diekstrak. Halaman 606 dan seterusnya belum dibaca. Pembacaan khusus dapat menangkap keutamaan surah tertentu, seperti Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ayat Kursi, Al-Kahfi, dan surah lain yang biasanya dibahas dalam bab Fadha'il, serta keutamaan tilawah, adab Al-Quran, dan topik ulumul Quran lainnya.
- Judul Arab فضائل القرآن telah dikonfirmasi dari konteks. Judul Arab yang tepat dari edisi lengkap Tafsir Al-Quran Al-Azhim masih perlu diverifikasi.
- Perbandingan: Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam memiliki karya tersendiri berjudul Fadha'il Al-Quran, yang dikutip Ibnu Katsir sebagai sumber di sini (hlm. 597). Karya itu dapat ditambahkan ke arsip sumber pada tahap berikutnya.
Data sumber
- jenis
- konsep
- Arab
- فضائل القرآن
- disiplin
- ulumul-quran, tafsir
- kategori
- ulumul-quran konsep
- tag
- konsep, ulumul-quran, fadha'il